Jumat, 15 Desember 2023

Meninggikan Gunung, bukan Meratakan Lembah


 Meninggikan Gunung, Bukan Meratakan Lembah

Setiap kita pasti ingin yang terbaik untuk diri sendiri. Bahkan tak sedikit yang menjadikan orang lain sebagai barometer, entah dari segi fisik, fashion, life style, karir, dan yang lainnya, hingga melupakan eksistensi dirinya sendiri.

Adakalanya kita ingin menjadi orang lain yang dianggap lebih baik, terutama pada hal yang membuat kita insecure. Melakukan banyak hal agar menjadi lebih baik atau paling tidak menyamai orang yang kita jadikan patokan. Beragam cara dilakukan tanpa memandang lagi secara obyektif tentang kelebihan yang dimiliki sendiri, demi mengatasi kekurangan. Bukannya tak baik, terkadang hal ini menjadi motivasi. Namun, tak jarang pula menjadi siksaan tak berkesudahan yang berdampak buruk pada mental health.

Lalu, apa yang harus dilakukan agar kita menjadi lebih baik tanpa memberikan dampak buruk bagi diri sendiri? Ada baiknya kita merenungi beberapa hal berikut ini.

Setiap kita adalah unik

Sekalipun kembar identik, mereka adalah individu berbeda. Bisa jadi memang ada beberapa hal yang sama, selebihnya adalah perbedaan yang menjadikannya ciri khas pribadi. So, jangan cape-cape ingin menjadi orang lain, be your self.

Jangan membandingkan diri dengan orang lain

Karena setiap kita adalah pribadi yang berbeda, maka jangan pernah membandingkan diri dengan orang lain. Karena bisa jadi, kita takkan sanggup menjadi orang tersebut. Membandingkan diri dengan orang lain hanya akan mendatangkan penderitaan. Jika perlu membandingkan, maka bandingkanlah diri sendiri yang lalu dengan yang sekarang.

Jangan fokus pada kekurangan, lebih concernlah terhadap kelebihan

Terdengan klise, tapi benar adanya. Pernah mendengar istilah Jangan Mengajari Ikan Terbang ataupun Burung Berenang? Terdengar konyol bukan? Itu adalah istilah untuk kita yang terlalu memaksakan diri untuk menutupi kekurangan. Ada istilah lain yang sangat unik dan penting untuk kita fahami bersama, Meninggikan Gunung, Bukan Meratakan Lembah.

Meninggikan Gunung

Cobalah gali dan telisik lebih seksama apa yang benar-benar menjadi passion dan kelebihan kita. Memaksimalkan hal yang merupakan ketertarikan dan keunggulan pripadi jauh lebih menyenangkan dan tentunya akan lebih mudah dijalani, karena tidak mengkhianati kepribadian sendiri. Jika dijalani dengan seoenuh hati, maka hasilnya akan sangat baik.

Bukan Meratakan Lembah

Maksudnya adalah jangan terlalu fokus terhadap kekurangan sehingga mati-matian untuk menutupinya dengan segala macam cara. Denial terhadap kekurangan hanya akan membuat kita jauh dari kenyataan, lebih jauh lagi akan membuat kita membenci diri sendiri, dan lambat laun membuat mental kita sakit. Tanpa kita sadari, membuat kita tidak mensyukuri apa yang telah Allah berikan. Kita tercipta lengkap dengan kelebihan dan kekurangan.

Sobat, ingatlah, untuk menjadi hebat kita tak perlu menjadi orang lain, kita hanya perlu melihat lebih dalam lagi tentang segudang kelebihan yang sudah menyertai kita sejak lahir dan berdamai dengan kekurangan yang pasti dimiliki setiap insan.

Selamat berdamai dengan diri sendiri dan jangan lupa bahagia. 

SIRIH YANG TAK PERNAH CERIA

 SIRIH YANG TAK PERNAH CERIA



Oleh : Nia Kurniawati

Mentari mulai menampakkan diri, menyapa setiap makhluk di bumi, pun tanaman yang ada di pekarangan Pak Budiman. Pak Budiman dan istri senang menanam bunga, hampir semua jenis bunga ada di sana. Mawar, Anggrek, Melati, Kamboja, Asoka. Hanya satu jenis tanaman yang bukan bunga menghuni pekarangan Pak Budiman. Sirih.

Semua bunga tampak segar, cerah dan cantik setelah mendapatkan siraman dari Pak Budiman. Semua menegakkan kelopak juga daunnya. Kecuali, Sirih. Ia tak pernah terlihat ceria sejak bunga-bunga jenis baru berdatangan.

“Anggrek, apa kau tahu kenapa Sirih tak pernah ceria?” tanya Kamboja pada Anggrek.

“Entahlah, coba tanya Mawar. Dia penghuni lama di sini,” jawab Anggrek.

Mawar yang mendengar percakapan dua teman barunya, langsung bicara tanpa diminta. “Aku pun bingung, teman. Dahulu, Sirih sangat ramah, dia tanaman pertama di pekarangan ini. Sampai Melati dan Asoka datang, disusul oleh kalian beberapa minggu kemudian.” Mawar bercerita dengan rasa sedih. Ia menundukkan kelopaknya.

“Bagaimana, kalau kita minta Melati saja yang bertanya. Kan, letaknya paling dekat dengan Sirih.” usul Asoka.

Semua setuju. Melati mendapat tugas penting, untuk membuat Sirih mau mengungkapkan kenapa sikapnya berubah menjadi tidak ceria.

“Selamat siang, Sirih. Ada yang ingin aku tanyakan padamu,” Melati mencoba membuka percakapn.

“Siang. Apa yang ingin kau tanyakan?”

“Kenapa, sikapmu selalu murung?”

“Kalau kau mau tahu jawabannya, lihat saja nanti sore.” Sirih langsung menjawab  dengan ketus.

Melati yang masih kebingungan hanya mampu berdiam diri. Sesekali ia embuskan aroma bunganya yang membuat pekarangan Pak Budiman menjadi harum.

Sinar Matahari mulai tak terasa hangat. Bayangan para tanamanpun sudah memanjang ke arah timur. Itu artinya sudah sore. Saatnya para tanaman memdapatkan siraman dari anak-anak Pak Budiman.

Di keluarga ini seperti ada aturannya. Saat pagi yang menyiram adalah Pak atau Ibu Budiman. Ketika sore, giliran anak-anak Pak Budiman yang menyiram. Celoteh riang dari anak-anak, belaian lembut pada daun dan ciuman takjub pada setiap bunga, membuat acara penyiraman sore hari selalu dinantikan mereka. Kecuali Sirih.

“Kak Dita, lihat! Mawarnya berbunga lagi! Waaaah, indahnyaaa.” puji Rita, anak bungsu Pak Budiman.

“Heem, bunga kambojanya juga sedang mekar, Dek.” Kak Dita, si anak sulung memuji Kamboja.

Tingkah mereka berdualah yang membuat Sirih cemburu, akhirnya selalu terlihat murung.

Saat keran sudah dimatikan dan anak-anak kembali masuk ruangan, Sirih berkata lantang pada Melati. “Kau lihat kan? Bagaimana mereka sangat menyukai kalian? Hanya aku yang tak pernah mereka belai dan cium! Jangankan disentuh, dikagumi pun tak pernah! Aku dianggap tidak ada! Bagaimana aku bisa senang?”

Melati sedih, mendengar perkataan Sirih, “Aku tidak tahu mengapa mereka bersikap demikian. Tapi, aku yakin ada alasan kuat kenapa Pak Budiman menanam mu lebih dahulu dibanding kami para bunga. Jadi, jangan bersedih lagi Sirih. Kesedihanmu, membuat bunga kami terasa kurang indah.”

Sirih hanya terdiam. Ia berpikir, ‘Para bunga telah mengambil hati Pak Budiman.’ Ia masih ingat, betapa semangat dan bahagianya Pak Budiman mendapat bingkisan dirinya dari Mertua Pak Budiman. Beliau berulang kali memuji Sirih dan menempatkannya di bawah jendela. Hingga ia selalu bisa mendengar ucapan bahagia dan terima kasih atas kehadirannya. Tapi, sejak para bunga hadir, membuat pembicaraan Pak Budiman, terutama anak-anaknya beralih pada kebanggaan mereka akan keindahan Mawar, keharuman Melati, kegagahan Asoka, kelembutan Kamboja dan lain-lain. Sirih muak mendengar namanya tak pernah disebut lagi.

Hinga, suatu hari ....

“Huaaaaaaa, Ibuuuuuu, sakiiit ....” tangisan Rita mengagetkan para bunga.

Kak Dita panik. “Maaf ya Dek, aku tadi melepaskan peganganku.”

Ternyata, Rita terjatuh dari sepeda. Ia sedang belajar naik sepeda bersama Kak Dita.

“Tidak apa-apa, Kak. Ibu, tolong petik tiga helai daun sirih dan peras dengan air hangat,” ucap ayah.

Ibu Budiman bergegas memetik daun sirih dan segera menyiapkan air hangat.

Walau penasaran, Rita tak mampu bertanya. Ia hanya menoleh pada sirih yang tak pernah ia sentuh sambil meringis menahan sakit.

“Adek, tahan sebentar ya. Ibu basuh dulu lukanya agar tidak infeksi. Oh iya, Ibu baru ingat. Kemarin Bu Danu minta daun sirih untuk direbus sebagai obat batuknya Ayah Danu.” kata Bu Budiman sambil membasuh luka Rita.

“Jadi, daun sirih itu banyak manfaatnya ya Pak?” tanya Kak Dita.

“Iya, Kak. Makanya Bapak menanam sirih. Dulu, Kakekmu juga sering konsumsi sirih loh.” jelas Pak Budiman pada kedua putrinya yang antusias mendengarkan, lupa dengan sakitnya.

     “Eyang Putri juga sering menggunakan daun sirih untuk mencuci mata,” tambah Bu Budiman.

Seluruh tanaman di pekarangan Pak Budiman bangga mendengarnya.

“Kamu dengar Sirih? Ternyata kamu sangat bermanfaat untuk kehidupan manusia. Sekarang kamu harus selalu semangat!” Melati memuji Sirih.

“Baik Melati. Terima kasih teman-teman kalian sudah peduli padaku. Aku jadi ingat, dulu Bu Budiman pun menggunakanku untuk merawat dirinya pasca melahirkan. Itulah kenapa aku dikirim ke sini.”

Sejak saat itu, Sirih selalu ceria menyambut Matahari dan menanti siraman dari keluarga Pak Budiman.

 

Kamis, 25 Mei 2023

Matahari yang tak Pernah Berhenti Berotasi

 




Siang itu, di dalam mushola sebuah ruko kawasan Pasar Induk Cibitung Bekasi, seorang gadis bermata juling baru selesai melaksanakan sholat dzuhur. Di barisan depan tampak pula seorang pemuda sedang melaksanakan rokaat terakhirnya.

Di luar, hujan masih setia menyapa lingkungan yang tak pernah sepi, walau hujan sekalipun. Rinainya yang deras dan tajam menusuk kulit wajah, tak menyurutkan langkah para tukang kuli panggul. Mereka bahkan berebutan menaiki truk pengangkut sayuran yang baru saja memasuki area pasar, khawatir tidak akan mendapatkan jatah panggul.

Bagi sebagian pengunjung, hujan adalah penyiksaan. Karena genangannya menguatkan aroma lumpur dan sayuran busuk. Meski hidung telah ditutup masker, namun baunya tajam menembus bekapan telapak sekalipun. Belum lagi lumpur hitam menjijikan akan mengotori alas kaki dan pemakainya. Maka, mereka lebih memilih merapat di depan ruko-ruko, menunggu hujan agak reda.

Para pengunjung pasar sebagian besar mereka adalah pedagang juga. Membeli sayuran dan bahan lain di Pasar Induk untuk dijual kembali.

Pedagang, tukang panggul, dan pengunjung tak dapat menghindari suasana ini, mereka tetap harus berinteraksi demi kebutuhan banyak orang, tak peduli dengan lumpur dan baunya.

Yulianti, nama gadis bermata juling itu, memilih tetap berada di dalam mushola. Memeluk kedua lututnya, memejamkan mata, dan menyandarkan kepalanya pada dinding mushola, mengusir penat sesaat.

Si pemuda yang ternyata penjual tas pinggang keliling, tahu gadis itu baru saja memejamkan mata, menatap lekat memastikan si gadis belum tertidur.

"Teh, kedinginan ya?" Ridwan, nama pemuda itu, berusaha memulai percakapan mengusir sepi.

"Eh, iya." Yulianti gelagapan menjawab pertanyaan Ridwan. Ia membenarkan posisi duduknya.

"Boleh kenalan?" Pemuda berwajah tirus, hidung mancung, dan mata bulat itu mengulurkan tangan, "namanya siapa?"

"Yulianti, panggil aja Yuli." Gadis yang mengenakan potongan t-shirt dan rok celana selutut itu menyambut uluran tangan pemuda berkemeja kotak-kotak merah hitam dengan tiga kancing atas terbuka dan memperlihatkan kaus putihnya.

"Ridwan." Pemuda jangkung itu menyebutkan nama saat tangannya menggenggam tangan gadis manis berkulit sawo matang di hadapannya, meski ia bermata juling.

"Teh Yuli, mau beli apa di sini?"

"Saya bukan pembeli. Saya bantuin bapak jualan karung."

"Oh, saya baru pertama datang ke sini. Eh, malah kehujanan duluan. Jualan saya belum laku satu pun."

Ridwan terus bercerita tanpa diminta, Yuli hanya mendengarkan. Ia tidak terbiasa bicara panjang lebar dengan orang asing. Sesekali ia tersenyum menimpalinya.

Di luar, hujan mulai reda. Para pengunjung yang berteduh mulai menghambur ke toko-toko dan lapak yang dituju. Pasar Induk Cibitung mulai menggeliat  kembali bisnisnya.

Yuli memutuskan kembali ke kios ayahnya yang ada di seberang Mushola, meninggalkan Ridwan dengan barang dagangannya.

Ridwan memperhatikan langkah Yuli, kios mana yang dituju gadis manis berambut panjang itu.

Keesokan harinya, saat Yuli dan ayahnya baru saja membuka gembok yang mengunci rolling door kios karung mereka, Ridwan menyapa dengan semangat.

"Assalamu'alaikum. Perlu bantuan, Abah?"

Pak Arya hanya menoleh ke arah Ridwan lalu mengisyaratkan dengan mata ke arah Yuli, "Siapa?"

"Wa'alaikumussalam. Nggak perlu, Kang. Kami sudah biasa sendiri. Silakan duduk saja." Yuli menyiapkan kursi yang biasa digunakan para pelanggannya saat menunggu pesanan.

Yuli dan Pak Arya terus merapikan kios, mengeluarkan karung dari dalam dan ditumpuk sesuai jenisnya, pada sebuah meja panjang yang disiapkan untuk memajang berbagai jenis karung yang mereka miliki.

Setelah berpamitan, Ridwan berlalu menuju warteg. Tangan kirinya memegang belasan tas pinggang, di lengan kanannya tersampir puluhan ikat pinggang dan jemarinya memegang puluhan topi. Ia berjalan dengan gontai, hendak mengisi tenaga agar kuat berjalan mengelilingi area Pasar yang lumayan luas menjajakan barang jualannya.

Pandangan pak Arya sempat mengekor kepergian pemuda asal Tasik Malaya itu.

"Kamu kenal orang itu?"

"Iya. Kemarin baru kenalan di mushola, Pak." Yuli menjawab pertanyaan ayahnya tanpa menatap pemilik wajah tegas itu. Tangannya sibuk memilah karung sesuai jenis dan ukurannya. Karung goni ia tempatkan di urutan paling ujung disusul karung jarang dan karung biasa.

Sementara ayahnya merapikan kursi, tali plastik, dan menyapu trotoar yang menjadi halaman kiosnya. Kesibukan, membuat mereka melupakan sosok Ridwan.

Senja menutup hari yang sibuk, berganti malam teduh menjanjikan kedamaian. Beberapa toko kelontong penjual sembako sudah mulai tutup. Pembeli pun sudah mulai bisa dihitung dengan jari.

Pasar Induk Cibitung belum benar-benar sepi. Puluhan tukang panggul rapi berbaris di depan gerbang pintu masuk, menantikan truk pengangkut sayuran dan buah yang berasal dari luar kota Bekasi.

Toko Karung Sukses Sejahtera milik ayah Y pun belum tutup. Biasanya akan ada beberapa kampret yang membeli karungnya untuk menempatkan sayuran yang dikumpulkan dari sisa truk atau yang terjatuh dari karung yang dipanggul. Bahkan ada juga beberapa kampret nakal yang sengaja mengambil beberapa sayuran yang tersembul dari dalam karungnya saat sedang dipanggul.

Yuli dan ayahnya akan menutup toko pada pukul 22.00, meski Pasar belum sepi, karena memang Pasar Induk yang menjadi pusat dagangan sayur dan buah se Bekasi itu tidak pernah menghentikan aktivitasnya.

Keesokan harinya, sepulang dari mushola. Yuli mendapati sosok pemuda yang baru dikenalnya itu sedang asyik berbincang dengan ayahnya.

Sejak saat itu, setiap hari Ridwan singgah ke kiosnya satu sampai dua jam. Berbincang akrab dengan ayahnya dari membicarakan filosofi kehidupan, bisnis, sampai keluarga. Yuli hanya mendengarkan sambil melayani pembeli. Matanya sesekali beradu pandang dengan Ridwan.

"Pamit, Bah. Mau nerusin jualan dulu, mudah-mudahan hari ini habis jadi besok bisa pulang kampung ngambil dagangan baru," pamit Ridwan pada sosok setengah baya dengan garis wajah tegas nan berwibawa. Matanya melirik pada gadis yang selalu sibuk dengan karung.

Yuli memberanikan diri menatap punggung pemuda yang telah menumbuhkan rasa aneh dalam hatinya. Walau ia tak pernah terlibat dalam perbincangan, tapi rasanya ia telah dekat seolah dirinyalah yang sedang bercakap-cakap.

"Kamu suka dengan Ridwan?"

Ucapan Paka Arya merusak lamunan Yuli tentang Ridwan.

"Ya, nggak tahu lah. Kan baru kenal," sergah Yuli menutupi kegugupannya.

Jujur, baru kali ini ada pemuda yang mau melirik dirinya. Yuli tahu, mata julingnya telah menjauhkan ia dari pandangan lelaki. Tak ada pria manapun yang tertarik dengan dirinya. Ridwan hadir membawa kesan yang menumbuhkan harapannya sebagai seorang gadis.

"Kalau kamu senang, besok rencanya dia akan bawa kamu pulang kampung, memperkenalkanmu dengan keluarganya sekalian ambil barang dagangan yang baru. Sebelum berangkat besok katanya Ridwan akan mampir dulu ke sini." Pak Arya terus bicara tentang perbincangannya hari ini dengan Yuli tanpa melihat ekspresi wajah putri semata wayangnya.

Saat malam tiba, Yuli menghabiskan waktu berbincang dengan ibunya, perihal Ridwan.

“Menurut bapakmu, Ridwan itu pemuda yang giat bekerja dan juga sopan.” Rosi, ibunya Yuli, memberitahu hal yang ia ketahui dari suaminya. Mereka menyetujui permintaan Ridwan untuk menikahi Yuli. Sekarang semua keputusan ada pada gadis pendiam itu.

“Satu lagi yang disukai bapakmu dari Ridwan, dia sangat menjaga norma akhlak. Buktinya dia tidak mau pacaran, kalau kamu siap, dia akan langsung menikahimu.” Bu Rosi mengelus lembut kepala putrinya, “sekarang istirahat, emak juga sudah mengantuk.”

Dengan pertimbangan bahwa ia telah berusia 28 tahun, akhirnya Yuli menuruti saran orang tuanya. Ia memutuskan ikut dengan Ridwan ke kampung halamannya.

Setelah perkenalan singkat di Tasik Malaya, Ridwan dengan resmi melamar Yuli dan mereka segera melangsungkan pernikahan dalam waktu singkat, hanya tiga bulan sejak pertemuan pertama kalinya di mushola siang itu.

Pernikahan sederhana yang hanya dihadiri oleh kedua orang tua Ridwan, sanak famili dari keluarga Pak Arya serta tetangga sekitar, berjalan dengan penuh hikmah.

Dua bulan kemudian.

Sudah dua hari ini, Yuli tidak ikut ayahnya ke Pasar. Ia merasa tidak enak badan, kepalanya pusing, dan rasa mual yang tidak bisa ditahan. Jamu tolak angin dan obat maag sudah ia konsumsi, tapi belum meredakan sakit yang dirasa. Suaminya sudah berangkat bersama sang ayah. Sejak menikah, Ridwan tidak lagj berjualan tas, ia memilih membantu Pak Arya berjualan karung.

Ia hanya memilih tiduran di sofa depan setelah membantu ibunya menjemur rengginang yang baru dibuat. Ya, ibunya di rumah memproduksi rengginang. Wanita paruh baya yang telah melahirkannya itu tak perlu berkeliling menjajakan rengginang, karenan ia membuat rengginang hanya sesuai pesanan. Itu pun terkadang tangan yang tak lagi muda itu kewalahan menerima pesanan.

Ia sedang menahan mual saat ibunya membangunkannya.

"Yul, ini ada surat buat kamu."

"Dari siapa, Mak?"

"Nggak tahu. Nggak ada nama pengirimnya." Ibunya langsung berlalu.

Yuli menatap amlop putih panjang itu dengan penuh keheranan. Baru kali ini ia menerima surat.

Untuk: Istri Ridwan di Kp. Bahagia Rt 10 Rw 02 Kel. Duren Jaya Kec. Bekasi Timur Kab. BEKASI - JABAR.  

Dari: Tasik Malaya.

"Benar tak ada nama pengirimnya," lirihnya.

Ia mulai menyobek bagian ujung amplop putih panjang itu. Tangannya mulai gemetar saat melihat isinya, tak ada surat. Amplop itu hanya berisi 10 lembar foto pernikahan dan dua buah lembar kertas foto kopian buku menikah.

Matanya merah, perih menatap foto pengantin pria yang ada di dalamnya. Badannya langsung lemas saat membaca nama suami dalam foto kopian buku nikah itu.

"Astaghfirulloh, akang Ridwan! Maaak, akang Ridwan!" Kepalanya yang sedang pusing makin terasa berputar, pandangannya mulai menguning lalu gelap dan tubuhnya rebah di atas sofa.

Bu Rosi, tergopoh berlari dari dapur demi mendengar teriakan anaknya.

Karena panik, ia memanggil tetangga terdekat yang kebetulan ketua RT setempat.

Bu Rosi berusaha membangunkan anaknya, dengan menepis-nepis pipi yang mulai chubby itu sambil memanggil namanya.  Sementara Bu RT dan satu tetangga, Bu Dani, sedang sibuk memijat dan mengolesi kaki Yuli dengan minyak kayu  putih.

Bu Rosi mulai membalurkan kayu putih di sekitar lubang hidung Yuli, agar dia cepat sadar. Bu Rosi, Bu RT, dan Bu Dani serentak mengucapkan hamdalah ketika melihat Yuli mulai menggelengkan kepala dan menyebut nama suaminya.

"Ada apa, Yul? Kenapa kamu sampai berteriak begitu?"

"Kang Ridwan, Mak. Dia penjahat!"

Yuli langsung berbalik badan, tengkurap, menyembunyikan wajahnya sambil terisak.

"Kenapa dengan Ridwan?"

Bu Rosi masih belum memahami situasi, ia memaksa membalikkan badan anaknya.

Wajah yang dulu tirus itu, kini mulai chubby setelah dua bulan menikah. Matanya sembab, bulir bening deras mengalir, suara isaknya terdengar memilukan.

"Surat, Mak. Surat." Yuli berusaha menjelaskan sekuatnya di tengah isaknya.

Bu RT mengambil beberapa lembar foto dan kertas yang tadi berserakan di sekitar tubuh Yuli, yang ia simpan di atas tv. Lalu menyerahkannya ke tangan Bu Rosi.

Bu Rosi memandangi foto-foto itu, sampai tak mampu berucap. Ia memeluk anaknya dan menangis bersama.

Bu RT merampas benda itu dari genggan Bu Rosi dan memperlihatkannya ke Bu Dani.

"Astaghfirullohal 'Adzhiim. Nggak nyangka saya. Bajingan juga ternyata si Ridwan itu. Pantas waktu dimintai foto kopian KTP untuk kelengkapan surat numpang menikah oleh suami saya, dia beralasam KTPnya hilang. Pembohong ternyata!" Bu RT ikut geram. Ia sudah menganggap keluarga Bu Rosi sebagai keluarganya sendiri, karena mereka sudah bertetangga lebih dari 20 tahun.

Malam ini terasa lebih panjang dan  dingin. Kedua tangan Yuli selalu dirapatkan di dada untuk mengusir dingin yang menyergap. Bu Rosi memeluk pundak putri tunggalnya dari samping, sambil sesekali mengusap air mata anaknya yang masih terus mengalir.

Mereka berdua duduk di sofa menunggu kedatangan suami. Dihadapannya, sebuah meja beralaskan telapak dari kain batik, Yuli meletakkan tumpukan foto dan kertas foto kopian yang akan menjadi bukti  atas suatu kebohongan.

Suara kunci diputar dari luar, tanda para suami kedua perempuan yang sedang terduduk itu pulang. Bahkan sampai pintunya terbuka pun tak membuat keduanya beranjak. Mereka bergeming di kursi. Hanya Bu Rosi yang menolehkan kepala ketika nama mereka disebut oleh suami masing-masing. Sementara Yuli, malah menelungkupkan wajahnya ke bawah dan menutupnya dengan kedua telapak tangannya. Isaknya makin kencang.

"Ada apa ini?" Pak Arya kebingungan dengan situasi ini. Ia hanya berdiri menatap istrinya.

Sementara Ridwan  berusaha menghampiri Yuli dari samping kiri. Tangannya ditepis saat berusaha meraih pundak istrinya.

"Dasar pembohong! Jangan sentuh aku!" Matanya merah menyalak menandakan amarah telah memenuhi jiwanya. Wanita yang biasanya bertutur lembut itu berubah beringas, suaranya tinggi memekakkan telinga. Ridwan  kaget dibuatnya.

Bu Rosi segera melemparkan beberapa lembar foto ke wajah Ridwan. Ridwan dan Pak Arya memunguti foto yang berserak. Lalu menyusul lembaran foto kopian buku menikah.

Ridwan tak mampu bangkit setelah memandangi foto itu, sebaliknya, Pak Arya langsung naik pitam. Dia mencengkram kerah leher kemeja Ridwan, lalu menampar pipi kiri dan kanannya, bolak-balik hingga amis darah menguar dari tetesan darah di kedua ujung bibir Ridwan. Mendorong tubuh ringkih itu hingga tersungkur di lantai. Seakan belum puas, ia tarik lagi lengan kurus itu hingga badannya tegak. Lalu satu tinju mendarat di perut, pipi, dan badan menantunya. Beberapa benda terjatuh, bahkan tv pun bergeser hampir jatuh dari tempatnya. Suara gaduh itu pasti terdengar ke luar, tapi tak ada yang berniat mendatangi rumah Pak Arya. Karena berita tentang Ridwan langsung tersebar setelah Bu RT dan Bu Dani pulang dari rumah Bu Rosi.

Pak Arya ngos-ngosan, punggung telapak tangannya sedikit lecet dan berdarah setelah menghajar Ridwan. Pak Arya terduduk lemas bersandar di dinding. Matanya nanar menatap pemuda yang telah membohongi putri dan keluarganya.

Di sisi lain Ridwan pun terduduk lunglai tak berdaya, wajahnya memar menerima pukulan dan tamparan bertubi-tubi, ujung bibir dan hidungnya  mengeluarkan darah, telinganya terasa berdenging. Tapi ia terlihat pasrah, tak sedikit pun tadi Ridwan melawan atau menghindari pukulan dan tamparan Pak Arya. Ia mengaku bersalah.

Rumah yang semula ribut, tiba-tiba hening. Tak ada suara, hanya mata menatap pada satu sosok dengan penuh kebencian. Ridwan.

"Abah, Emak, Yuli. Saya minta maaf. Saya mengaku salah." Ridwan mengelap cairan kental berwarna merah yang keluar dari hidungnya dengan pangkal lengan bajunya.

"Saya memang sudah menikah dengan Meli, seperti yang ada di foto itu lima tahun yang lalu. Meli wanita cerewet dan tamak. Saya tidak kuat lagi bersama dengan dia."

Ridwan pun mulai menceritakan kisah pernikahannya dengan Meli.

Setiap dia pulang yang selalu ditanyakan adalah jumlah pendapatannya, bukan kabar atau kesehatan dirinya. Meli kerap marah-marah bila hasil penjualannya sedikit. Bahkan dari awal menikah, Meli sudah berKB agar tidak hamil karena takut miskin, takut tidak mampu membiayai anak-anaknya kelak.

Masalah anak inilah yang tidak dapat diterima oleh Ridwan. Bahkan Ridwan mengancam akan menikah lagi jika Meli tidak melepas KB. Ia sudah memberi waktu setahun pada istrinya, kedua orang tuanya pun telah ia beritahu. Tapi memang Meli keras kepala, ia malah menantang Ridwan.

"Maafkan akang, Yul." Ridwan berusaha bangkit, lalu mendekati istrinya, dan memeluk lututnya.

Yuli bangkit, pindah duduk ke sofa bagian lain. Ia tak ingin disentuh lagi oleh pria pembohong itu.

Ridwan hanya  menatap istrinya dengan tatapan yang entah, "Yul, akang bener-bener menyayangi kamu. Akang suka dengan kesederhanaan kamu, akang suka dengan kerja keras kamu, akang suka dengan sikap berbakti Yuli. Akang bener-bener sayang sama keluarga ini." Ridwan bertutur kembali, kali ini suaranya sedikit parau dan tercekat. Ia berusaha menahan isak yang sudah memuncak.

Yuli tak menjawab, ia bangkit menuju kamar, membanting pintu kamar dan menguncinya dari dalam. Meninggalkan Ridwan yang terisak sendiri di ruang tamu.

Pak Arya dan Bu Rosi pun memasuki kamar mereka. Tinggal Ridwan seorang diri memunguti foto yang berserakan dan merobek-robeknya, sambil memaki wanita yang bersanding dengan dirinya dalam foto itu. "Wanita iblis! Wanita sialan!"

Dini hari sebelum subuh,  Yuli sudah keluar kamar. Ia melempari semua pakaian suaminya ke badan pria yang sedang meringkuk di sofa.

Ridwan terbangun. Ia memunguti pakaiannya yang jatuh di lantai. "Akang izin  sholat subuh di sini ya, Yul. Kalau boleh, akang juga ingin makan masakan Yuli yang terakhir, sebelum akang pergi." Ridwan paham arti pakaiannya dilempar. Tapi ia masih berat jika harus berpisah dengan wanita yang baru dua bulan ia nikahi. Ia benar-benar mencintainya.

Selesai sarapan, Ridwan mohon izin pamit pada semua anggota keluarga. Tak lupa ia mengucapkan terima kasih dan permohonan maaf.

Yuli  bergeming saat Ridwan mendekap kepalanya dan mencium ubun-ubunnya. Ada sesak dan masih ada cinta di hatinya. Tapi apapun alasan Ridwan, ia tak ingin mendapat stempel sebagai perebut suami orang. Biar dirinya saja yang mengalah, menahan duka mendalam atas cinta yang dikhianati.

Beberapa bulan setelah kejadian itu, perut Yuli semakin membesar. Rupanya, sakitnya ketika bertengkar dengan Ridwan adalah awal kehamilan dirinya yang belum ia sadari. Ia tak berniat memberitahukan Ridwan, meski ia tahu pasti pria yang masih dicintainya itu akan sangat bahagia. Karena sejak pertama menikah mereka sudah merencanakan punya banyak anak, Ridwan bercita-cita memiliki kesebelasan dalam keluarganya.

Yuli sudah tidak ikut ayahnya ke pasar, ia tak ingin mengenang pria itu lagi. Karena baginya, pasar adalah tempat sejuta kenangan antara dia dan Ridwan.

Setelah melahirkan, Yuli bekerja di sebuah konveksi sebagai tenaga pencabut benang. Karena cuma pabrik itu yang mau memperkerjakan dirinya yang hanya berijazah SMP.

"Yul, kamu besok berangkat kajian kan?" Rara teman kerja Yuli menanyakan kepastian Yuli berangkat.

"Insya Allah. Kamu mau nanyain rengginang kan?" kelakar Yuli.

"Tahu aja kamu. Jangan lupa rengginang hitam dan putihnya masing-masing dua kilogram."

"Siap, Nona cantik." Kedua sahabat itu saling berangkulan sebelum berpisah naik angkot ke rumah masing-masing.

Yuli sekarang berhijab, sejak bekerja di konveksi, ia mulai mengikuti kajian yang disarankan temannya. Ia memutuskan untuk memfokuskan diri pada perkembangan anaknya dan memperdalam agama.

Ia menyadari, ujian pernikahan yang ia terima tak luput dari pengawasan Allah, maka ia serahkan semuanya pada Allah semata. Tak lupa sejumput doa untuk pria yang pernah menjadi belahan jiwanya, semoga ia diberi kekuatan untuk dapat mendidik istrinya ke arah yang benar.

Yuli siap menyongsong hari esok dengan penuh semangat, diiringi doa, dan usaha. Apapun yang terjadi ia akan berusaha tegar demi anak dan orang tuanya. Ia ingin seperti matahari yang tak pernah berhenti berotasi, meski mendung menghalangi cahayanya, meski badai menutupi dirinya, meski malam menggantikan posisinya.


Sabtu, 13 Mei 2023

Surga yang dihina

 SURGA YANG DIHINA

 


Prang!

Suara benda kaca jatuh dan pecah membuat Syakila menyemburkan jus mangga yang sedang diminumnya.

"Dasar, gila! Lihat! Kau membuat bajuku kotor saja," hardik Syakila sambil sibuk membersihkan bajunya.

Wanita itu hanya mampu mematung menatap bergantian antara pecahan piring dan gadis cantik berusia 20 tahun yang memanggilnya gila.

"Ibuuu ...," teriak Syakila.

"Ada apa, Syakila? Gadis kok teriak-teriak." tanya Wanita setengah baya berparas ayu, dengan lembut.  Pandangannya tertuju ke arah sumber suara sambil terus menuruni anak tangga. Blezzer dan sepatu hak tinggi yang dipakainya menandakan kalau ia seorang wanita karier.

"Lihat, Bu. Wanita ini bikin ulah lagi." Syakila segera mendekati ibunya dan menunjuk ke arah wanita yang sedari tadi bergeming menatapnya.

"Ga perlu sampai teriak kan, Syakila?! Kenapa kamu tidak membantu Bu Dhe Shinta?! Lihat, dia sampai ketakutan begitu," Livia, nama ibu Syakila, mendekati Bu Dhe Shinta yang sering bertingkah tak wajar dan  menampakkan sikap ketakutan.

Dengan lembut, Livia menuntun Bu Dhe Shinta ke meja makan. Menarik salah satu kursi, lalu memintanya untuk duduk dengan lembut. Mengambil piring baru, mengisinya dengan nasi dan lauk pauk. Lalu membuka blezer dan bersiap menyuapi wanita yang selalu disayang dan dihormatinya itu.

Ini adalah adegan menjijikan bagi Syakila. Ia tak pernah suka melihat ibu dan ayahnya memperlakukan wanita sinting itu dengan hormat. Bahkan, sering meminta dirinya untuk melayani gembel miring itu.

 

"Cih!"

Syakila segera berlalu, menuju ke kamarnya.

15 menit kemudian, Syakila kembali dengan dandanan baru. Ia mencium pipi kanan dan kiri ibunya, "Aku berangkat, Bu."

"Tidak cium tangan  Bu Dhe?" Livia berusaha mengingatkan kebiasan yang harus dilakukan Syakila.

Kali ini Syakila tidak menuruti perintah ibunya, ia bergegas tanpa menoleh sedikitpun ke arah wanita yang selalu menarik-narik rambut itu. Dia telah membuat gadis penyuka warna biru itu terlambat.

Livia hanya mampu menghela napas dan berusaha menenangkan Bu Dhe Shinta dengan mengusap-usap punggungnya dan terus membujuk untuk menghabiskan sarapan.

Di hari lainnya.

Di taman belakang rumah, Syakila, ibu dan ayahnya sedang bercengkrama membicarakan pergelaran busana baru rancangan Livia. Ibunya Syakila adalah seorang desainer terkenal di Kota Bekasi.

Syakila selalu duduk di antara ayah dan ibunya. Ia begitu menyayangi mereka. Walaupun orang tuanya pekerja, tapi Syakila tak pernah kekurangan perhatian dan kasih sayangnya. Jangankan dirinya sebagai anak, wanita sinting itu saja selalu mendapat perhatian.

Syakila tak pernah mengerti, kenapa orang tuanya ngotot untuk merawat Bu Dhe Shinta? Padahal, waktu Mbah Putri masih hidup, beliau pernah meminta ayah untuk memulangkan Bu Dhe. Mbah Putri ingin merawatnya. Tapi ayah ataupun ibunya tidak mengizinkan, apalagi sekarang Mbah Putri telah tiada.

Syakila ingin wanita itu pergi dari rumah ini. Ia pernah meminta ayahnya untuk membawa Bu Dhe Shinta ke RSJ saja. Tapi ayah malah memarahinya. Entahlah, satu hal yang selalu dikatakan ayah dan ibu tentang wanita berambut panjang dan acak-acakan adalah ia pernah menolong ayah dalam sebuah kecelakaan mobil.

"Aduh! Dasar sinting!"

Teriakan dan umpatan Syakila memecah kehangatan. Syakila bangkit dan berbalik dari sofa sambil memegangi rambutnya. Dengan pandangan tajam, Syakila telah bersiapemarahi seseorang yang telah membuat kepalanya sakit karwnanrambutnya ditarik paksa. Tapi kemarahan ayah telah mendahuluinya.

"Syakila! Sejak kecil tingkahmu masih belum berubah? Tidak bisa kah kau memanggilnya dengan lembut?! Paling tidak jangan umpat Bu Dhe terus!" seperti biasa, ayah akan langsung membentak gadis berambut panjang itu, saat Syakila bersikap kasar pada Bu Dhe Shinta.

Syakila hanya mampu membenamkan kepalanya ke pelukan ibunya.

"Sabar, Syakila. Anak baik ga pantes bersikap kasar. Bu Dhe Shinta sudah seperti ibumu. Dia sudah banyak membantu kita. Sekarang saatnya kita membalas budi baiknya."

Begitulah, ucapan Livia yang selalu didengar Syakila.

Arif, ayah Syakila, langsung menuntun Bu Dhe Shinta ke kamarnya. Dan Arif akan berada sangat lama di dalam sana.

Ini salah satu sikap ayahnya yang paling dibenci Syakila. Rasanya tidak masuk akal seorang laki-laki masuk kamar perempuan lain walaupun itu adalah kakak dari istrinya, dengan waktu bisa berjam-jam lamanya. Bahkan ibunya tak pernah memperlihatkan sikap keberatan apalagi cemburu.

"Ayah sedang menenangkan Bu Dhe. Butuh waktu lama memang, sebab kekasaranmu bisa menyebabkan Bu Dhe makin parah nantinya."

Itulah jawaban yang selalu diberikan Livia setiap kali Syakila menanyakan sikap tak wajar ayahnya.

Untuk sekian kalinya Bu Dhe Shinta berusaha menyentuh rambut Syakila, bahkan sampai menariknya. Syakila paham, Bu Dhe berusaha mengepang rambutnya. Mungkin waktu ia masih SMP, gadis yang tak pernah mau rambutnya dipotong ini, masih mau rambutnya dikepang dua. Kepangan rambutnya rapi memang. Tapi sejak menginjak SMA dan teman-temannya mengejek gadis desa, sejak saat itu, Syakila selalu menolak apabila Bu Dhe berusaha untuk mengepang rambutnya. Semakin menolak, Bu Dhe semakin memaksa, itulah sebabnya makin hari Syakila makin kesal akhirnya membenci sikap wanita yang kata ayahnya mirip dengan dirinya itu.

"Cih!"

Inilah penyebab keributan hari ini.

.

Tok ... tok ... tok ....

"Masuk, Yah. Tidak dikunci," Syakila sudah tau siapa yang mengetuk pintu kamarnya.

Ibunya akan mengetuk sambil memanggil namanya. Sedangkan ayahnya hanyak mengetuk saja. Beda lagi dengan Bu Dhe Shinta. Ia akan langsung menerobos masuk. Meski pintu dalam keadaan terkunci, ia akan berusaha mendorong dan menggerak-gerakkan handle pintu.

"Lihat, ayah membawakan sesuatu untukmu."

Tanpa perintah lebih lanjut, Syakila langsung menyambar paperbag yang masih dipegang ayahnya.

"Wah, cantiknyaaa," Syakila mengeluarkan gaun dari paperbag dan memasangkan ke badannya sambil berputar-putar dan sesekali melirik cermin yang menggantung di samping meja belajarnya. "Terima kasih, Yah." Syakila memeluk ayahnya erat sekali.

Ayahnya baru saja pulang dari perjalanan bisnisnya. Ia akan selalu berusaha membawakan oleh-oleh yang unik dan cantik, meski Syakila tidak memintanya.

Arif, duduk di kursi belajar Syakila. Memandangnya putrinya yang sudah beranjak dewasa, "Kau, makin mirip saja dengan ibumu. Dulu ayah menikahi ibumu saat ia berusia sama dengan kau saat ini."

"Benarkah? Teman-temanku juga banyak yang bilang, saking miripnya, aku dan ibu kayak adik kakak bukan ibu dan anak. Tapi, mereka juga bilang kalau wajahku juga mirip Bu Dhe Shinta. Terutama Rossi," Syakila memasang wajah cemberut mengingat kata-kata Rossi. Ia tak ingin dihubung-hubungkan dengan wanita sinting itu. Tapi, ia segera tersenyum kembali, "Ayah tak pernah menceritakan tentang  sejarah pernikahan Ayah. Ayo ceritakan, Yah," Syakila langsung mengambil posisi jongkok di hadapan pria gagah berkaca mata itu.

Arif beranjak dari kursi dan mengajak Syakila duduk di tepi kasur, "Kamu sudah dewasa, ayah merasa sudah sepantasnya kamu tahu."

Syakila sedikit mengangkat alisnya. Ada yang aneh dengan kalimat ayahnya. Syakila urung menanyakan keanehan tersebut, demi dilihatnya Arif langsung bertutur.

"Ibumu adalah wanita paling cantik di kampus, karena takut direbut orang, walaupun masih sama-sama kuliah, ayah memberanikan diri melamar ibumu. Di luar dugaan, Eyang kakung yang mulai sering sakit-sakitan menyetujuinya. Bahkan meminta pernikahan dilaksanakan segera. Firasat eyang kakung menjadi kenyataan. Dua minggu setelah menikah, eyang berpulang."

Arif berdiri, berjalan ke arah jendela. Memandang ke luar jendela dan menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Seperti sedang membuang beban.

Syakila hanya menatap ayahnya. Ikut merasakan gelisah yang sedang mendera sang ayah.

Arif menarik kursi dan duduk di hadapan putrinya yang masih duduk di tepi ranjang.

"Syukurlah, ayah dan ibu bisa menyelesaikan studi dengan cepat. Ayah mulai serius menangani bisnis properti yang sudah dimulai kecil-kecilan sejak kuliah. Ibumu sebagai akuntan banyak membantu detil pengeluaran dan pemasukan usaha ayah. Ibumu seorang akuntan yang cerdas dan teliti."

Arif kembali berdiri. Ia memunggungi putrinya dan melepas kacamatanya lalu meletakkannya di meja belajar Syakila.

Syakila melihat gerakan tangan ayahnya yang mengusap mata saat melepaskan kaca mata. Syakila dapat melihat butiran bening yang tertahan di mata ayahnya sebelum ia bangkit.

Syakila menangkap beban dan keanehan dalam cerita ayahnya.  Lagi-lagi Syakila hanya mampu memendam pertanyaan dalam hatinya.

Arif kembali ke kursi di hadapan Syakila sambil menggulung lengan bajunya. Lalu memegang erat pundak putri, "Kamu sebenarnya anak bungsu kami. Kamu punya seorang kakak laki-laki tampan yang bernama Ali Syakib."

Kali ini, Arif tak dapat menyembunyikan butiran bening itu jatuh, ia mengusapnya di hadapan Syakila.

"Hari itu, kami berempat, ayah, ibu, kakak dan kamu, menjemput adik sepupu ibumu di Stasiun Senen. Adik sepupu ibumu, baru saja memenangkan lomba desain baju di sebuah majalah wanita. Dan akan menandatangani kontrak kerja selama setahun. Sejak kecil ia tinggal berasama keluarga ibu karena sudah yatim piatu. Kebetulan wajah mereka mirip jadi seperti kembar meski terpaut lima tahun usianya. Ibumu lebih tua tapi sama cantiknya."

Lagi-lagi butiran bening itu berhasil mengalir. Kali ini Syakila yang mengusapnya. Rasanya ia mulai paham arah ceritanya, tapi, ia tak hendak menghentikan ayahnya. Ia ingin mendengar cerita lengkapnya. Cerita yang membuat pria gagah nan tegas dan berwibawa ini menjadi melankolis.

"Hari itu, hujan lebat sekali. Perjalanan dari stasiun Senen ke Bekasi seolah menjadi sangat panjang. Petir menyambar saling bersahutan, membuat kamu yang baru berusia dua tahun terkaget-kaget dan akhirnya menangis tanpa henti. Ibu sibuk mendiamkan dirimu di kursi belakang, sementara Kakak Syakib terlelap di samping ibu. Karena ikut hawatir, ayah jadi sering melihat kaca spion untuk memastikan keadaanmu. Melihat itu, adik sepupu ibumu yang duduk di kursi depan meminta ayah menepikan mobil untuk menggantikan  menyetir. Ibumu menyetujuinya, supaya ayah bisa ikut menenangkan dirimu. Entah bagaimana, saat Livia sudah di belakang kemudi setir, lalu menutup pintu, Syakib pun membuka pintu belakang dan langsung keluar. Tubuhnya langsung di sambar sepeda motor yang sedang melintas terpental ke tengah jalan lalu terlindas truk dari arah berlawanan dan membuat badannya rata dan isi kepala berserakan. Dari pantulan lampu kendaraan, jalan yang digenangi air hujan itu memantulkan cahaya kemerahan. Merah darah kakakmu.”

Arif tak kuasa menahan tangis, ia menutup wajah dengan kedua tangannya, membungkukkan sedikit tubuhnya dan menempelkan sikunya ke lutut.

Syakila memeluk Arif. Tubuh mereka berdua berguncang menahan isak. Untuk beberapa menit, mereka berdua larut dalam tangis.

"Kejadian itu begitu cepat, ibumu syok hanya mampu mematung di tempat kejadian tanpa tangis maupun suara. Bergeming selama berhari-hari, tak merespon rengekan kamu, tak peduli dengan kondisi sekitar bahkan tak bisa mengurus diri sendiri. Dua tahun seperti itu, Livia yang tinggal serumah dengan kita sejak kejadian itu, dipaksa menikah oleh eyang putri agar bisa mengurus ayah dan kamu dengan lebih telaten dan leluasa.”

"Cukup, Yah. Jangan teruskan. Syakila paham sekarang. Kenapa ibu dan ayah selalu meminta aku untuk hormat dan sayang pada Bu Dhe Shinta." Syakila menutup mulut Arif dengan telapak tangan kanannya. Lalu memeluknya. Tubuh Ayah dan anak itu kembali terguncang hebat.

Rahasia yang terpendam lama kini terbongkar tanpa menyisakan pertanyaan. Hanya sesal yang memenuhi relung hati Syakila dan janji akan memperlakukan Bu Dhe Shinta dengan layak sebagai ibunya.

Setelah agak tenang, Arif meraih tubuh Syakila dan mengecup dahinya.

"Ayah, sebelum keluar, bolehkah aku bertanya satu hal?" tanya Syakila. Tangannya memegang tangan Arif. Mencegahnya keluar kamar.

"Boleh. Apa itu?" Arif kembali duduk di kursi.

"Kenapa sampai sekarang Ibu Livia belum punya anak?"

Sebelum menjawab, Arif kembali menarik napas.

"Sewaktu kejadian, karena refleks, Livia juga langsung membuka pintu mobil kembali dan tidak memperhatikan situasi, sehingga harus merasakan hantaman stang motor pada perutnya. Dan ternyata itu membuat rahimnya terluka dan tumbuh tumor. Penyakitnya ini baru ketahuan tiga bulan sebelum kami menikah. Sebelumnya Livia sering kesakitan di bagian perut. Bahkan saat haid bisa sampai pingsan. Dengan terpaksa rahimnya harus diangkat." Pada embusan napas berikutnya,  akhirnya Arif mampu tersenyum dan memencet hidung mancung seperti milik Shinta.

Syakila ikut mengekor keluar kamar. Tujuannya adalah kamar Ibu Shinta. Ia ingin memeluknya dan membiarkan wanita yang sering dihinanya itu mengepang rambutnya.

“Ibu, maafkan Syakila.”

 

 

Bekasi, 20 Agustus 2018