Rabu, 24 April 2019

Wisata ke Goa Ngerong

Oleh: Nia Kurniawati

Di ruang tamu,  tampak Ibu, dan Ahmad, kakaknya Tiara, sedang menonton televisi. Tiara langsung bergabung, dengan duduk di sebelah ibunya.

"Habis ngapain, dari tadi di kamar terus, Dek?" tanya Ibu.

"Merapikan pakaian dan perlengkapan yang akan aku bawa lusa, Bu." Tiara menyandarkan kepalanya di pundak Ibu, "lusa, kita jadi berangkat ke Bandung, kan, Bu?"

Ibu segera membalikkan badannya menghadap Tiara.

"Astaghfirullah, maaf, Sayang. Ibu lupa memberitahu sesuatu." Tangan kiri Ibu menggenggam jemari Tiara, dan tangan kanannya membelai kepala Tiara.

"Besok, Ayah harus berangkat ke Bojonegoro. Ada masalah di kantor cabang," lanjut Ibu.

Ahmad yang duduk di karpet, depan Ibu pun langsung menoleh.

"Yes!" Ahmad mengepalkan tangannya dan menariknya menyiku dengan semangat.

"Mas Ahmad kok senang, sih?" Tiara memprotes tindakan kakaknya.

"Besok aku mau tanding futsal, final."

"Yaahh! Gagal liburan lagi deh." Tiara menghempaskan punggungnya ke sofa yang sedang ia duduki.

"Maaf ya, Dek. Nanti kita bicarakan lagi sama Ayah." Ibu berusaha menghibur Tiara.

Keesokan harinya.

Setelah berdiskusi, Ayah sepakat membawa keluarga silaturrahim ke Rumah Eyang Umiyati di Rengel, Tuban. Ayah akan tetap meeting ke Bojonegoro, jarak Rengel - Bojonegoro hanya 30-45 menit dengan mobil pribadi. Sementara, Tiara dan Ahmad akan berwisata ke Goa Ngerong yang ada di Rengel bersama Ibu. Ahmad, tidak jadi ikut pertandingan futsal, karena tidak mau ditinggal sendiri.

"Ayo!" Ahmad menggandeng tangan adiknya.

"Males, Mas. Tempatnya nggak bagus." Tiara menuruti perkataan kakaknya dengan langkah lunglai.

Sejak memasuki gerbang, Tiara sudah tidak berminat menjelajah tempat wisata Goa Ngerong. Ia hanya melihat sungai dan goa yang gelap. Di tempat itu, tidak nampak  wahana bermain apa pun.

"Ayo cepat, itu Ibu sudah melambaikan tangannya, agar kita bergegas." Kali ini Ahmad sedikit menarik tangan Tiara.

Tiara menahan langkahnya, hingga ia tampak terseret-seret.

"Ini!" Setelah mendekat, Ibu memberikan biji kapuk pada Tiara dan Ahmad, masing-masing sekantung.

"Ini, buat apa, Bu?" Tiara memandang aneh biji kapuk yang digenggam ibunya.

"Lihat aja. Yuuk!" Ibu tidak lansung menjawab. Beliau malah mengajak Ahmad dan Tiara mendekati bibir sungai.

"Wah, ikannya besar-besar, Bu." Ahmad sangat antusias, melihat ikan beraneka jenis dengan ukuran jumbo, saat duduk di bibir sungai yang telah dipondasi.

Tiara masih mengatupkan kedua bibirnya. Meski takjub, tapi Tiara belum merasa senang.

"Buat ditabur di sini, Bu?" Ahmad mengambil segenggam biji kapuk.

"Iya." Ibu mengangguk sambil menaburkan biji kapuk ke dalam sungai.

"Waaah ...!" Tiara dan Ahmad berucap bersamaan, saat menyaksikan puluhan ikan langsung berebut mengerumuni dan memakan biji kapuk yang disebar. Ada beberapa jenis ikan, ikan nila, mujaer, lele, dan gurami.

"Bu, lihat!" Tiara menunjuk ke hulu sungai. Tampak dua orang anak dan seorang bapak berenang sambil menangkap ikan.

"Boleh turun, Bu?" tanya Ahmad.

"Silakan. Adek juga."

"Asyik!" Tiara mulai tampak antusias, saat diperbolehkan turun ke sungai. Berenang adalah hobinya.

Sungainya dangkal, hanya sepaha Tiara, airnya jernih, sehingga ikan dan bebatuan di dasar sungai terlihat jelas. Beberapa ekor ikan mendekati dan berenang di antara kaki Tiara dan Ahmad. Mereka tertawa menahan geli, saat ada lele yang mendekati kakinya. Tiara bahkan sampai memeluk Ahmad.

"Mas, ada kura-kuranya." Tiara setengah berteriak sambil mengejar kura-kura berwarna putih yang baru saja dilihatnya.

Meski pergerakannya lambat, tapi di dalam air, gerakan Tiara ternyata lebih lambat. Kura-kura itu berhasil lolos menuju pintu Goa.

Tiara enggan mendekat, karena bising suara dari ribuan kelelawar yang menggantung di mulut Goa, serta aroma yang membuat mual.

"Yeay!" Ahmad teriak kegirangan, saat ia berhasil menangkap ikan.

"Kita bawa pulang, Mas." Tiara ikut sumringah.

"Tidak boleh, lepaskan kembali, Mas Ahmad," perintah ibu.

"Kenapa, Bu?" tanya Tiara dan Ahmad bersamaan.

"Nanti kamu bisa sakit, bahkan mati, Dek." Seorang bapak yang mendengar percakapan Ahmad, langsung berkomentar. "Udah banyak korbannya," lanjutnya lagi.

"Terima kasih, Pak." Ibu menangkupkan ke dua tangannya di dada.

Bapak yang mengenakan kaos merah dan celana pendek itu, segera berlalu bersama kedua anaknya, sambil menganggukkan kepala.

Ibu menyuruh anak-anak untuk lekas naik dan berganti baju.

Setelah berganti baju, sambil memakan bekal di depan replika ikan nila yang ada dekat gerbang, Ibu melanjutkan pembicaraan yang belum tuntas di sungai tadi.

Ibu bertanya pada Ahmad terlebih dahulu, "Menurut kamu apa yang terjadi jika semua pengunjung mengambil ikan dan kura-kura yang ada di sini, Mas?"

Ahmad mengerutkan kening dan menempelkan telunjuknya di ujung bibir, lalu menjawab, "Lama-lama koleksi ikan dan kura-kuranya akan habis, Bu."

"Benar!" Ibu mengacungkan jempol kanannya ke arah Ahmad.

"Adek, bagaimana menurut kamu?" Kini giliran Tiara yang ditanya Ibu

"Takut sakit, nanti mati lagi, Bu. Seperti yang Bapak tadi bilang."

Ibu dan Ahmad tertawa kecil bersamaan mendengar jawaban Tiara.

"Bu, itu kan cuma mitos ya, Bu?" tanya Ahmad.

"Terlepas itu mitos atau bukan, tapi kita harus menghargai kebudayaan dan adat setempat," jawab Ibu.

"Setuju!" Tiara dan Ahmad bersamaan mengacungkan jempol kanannya ke arah Ibu.

Mereka pun tertawa bersama.

--The End--

Naskah ini telah dibedah oleh Kak Bambang Irwanto di Kurcaci Pos.

Sabtu, 26 Januari 2019

Pertanyaan yang Tak Pernah Terjawab



"Bu Nia, tanda-tanda orang mau pergi bagaimana, sih?"

Sebuah chat WA dari seorang teman membuat hati ini berdesir aneh, gemuruhnya membuat lidah kelu, dan jempol kaku. Sesaat aku bergeming.

"Bu Ika, mau pergi ke mana memangnya?"

Pertanyaannya kubalas dengan pertanyaan candaan, meski aku tahu ke arah mana persoalan itu menuju.

Dwi Rasika Sari, atau yang biasa kupanggil Bu Ika, adalah rekan mengajar di bimbel yang kuselenggarakan sore hari di rumah, sahabat sekaligus teman berdebat. Dengannya aku bisa beradu argumen tanpa  sentimen. Marah tanpa berpura-pura, tapi tak berbekas. Sejak pertengahan tahun 2017, beliau resign karena menderita pengeroposan pada bantalan tulang punggung yang membuat ia tak leluasa bergerak. Pada awal tahun 2018 menjalani operasi penyambungan ruas tulang belakang. Sejak saat itu kondisinya terus menurun, bahkan harus terus berbaring.

"Soalnya B.A.B.ku coklat banget dan sangat lengket. Kata orang tua zaman dulu, itu tanda-tanda orang mau pergi."

Mataku memanas, jantung berdegub tak berirama, dan lelehan hangat akhirnya mengalir di pipi. Dia tetap menjawab dengan serius, tidak menanggapi candaanku.

"Bu Ika, rezeki, hidup, dan mati itu urusan Allah. Ada orang yang divonis dokter hanya menunggu waktu saja, nyatanya bisa panjang umur. Ada yang sehat-sehat saja ternyata hidupnya hanya sebentar. Semangat Bu Ika!"

Balasan penuh pencitraan untuk memotivasi ku kirimkan. Padahal jempol ini bergetar saat mengetiknya. Entah mengapa perasaanku menghianati otak. Aku merasa ketakutan saat membaca chat Bu Ika, tapi logikaku melarang mempercayai firasat itu. Aku tak boleh mendahului takdir, semua Allah yang putuskan.

"Iya, Bu Nia. Aku selalu semangat, sudah kangen sama anak-anak."

"Nah, begitu Bu Ika. Siip! Aku juga kangen pengen ngajar bareng lagi. Mmuaach." (Emot kiss)

Ku akhiri chat itu dengan rasa yang entah. Untuk meminimalisir keadaan, hp segera ku letakkan di meja.

Selang beberapa hari setelah itu, tepatnya tanggal 27 April 2018, sinyal indosat di perumahan tempat tinggalku tenggelam. Hingga membuat aktifitas komunikasi tersendat. Sinyal, baru didapat saat berada di luar lingkungan perumahan.

Ternyata, Bu Ika sering menelepon WAku. Notifikasi itu kudapat saat sedang berada di TK, tempat aku mengajar berjarak 9 km dari rumah. Karena sibuk, ketika di TK tidak leluasa untuk menelepon, ataupun membalas pesan, maka aku memilih mengabaikan notif dari Bu Ika. Toh, nanti aku bisa ke rumahnya, bicara langsung.

Seminggu sebelum Ramadhan tiba, Bu Ika kembali mengirim chat.

"Bu Nia, aku boleh puasa, ga? Luka operasiku masih terbuka."

"Bu, kalo tarawih di rumah, boleh ga?"

Lagi-lagi, WA itu baru terbaca saat siang hari di TK, waktu menjelang pulang ke rumah.

"Ah, nanti sajalah ngomong langsung di rumah biar enak dan jelas," batinku. Mengurungkan niat membalas pesan, karena sudah waktunya pulang.

Ternyata, sampai di rumah raga langsung menyerah pada kasur, minta dicarge untuk persiapan les sore. Sampai beberapa hari kemudian, niatku belum tertunaikan juga. Hingga pada hari terakhir di bulan Sya'ban.

Sore itu, kupaksakan silaturrahim ke rumah Bu Ika meski kepala terasa pusing. Khawatir tak ada lagi kesempatan menjawab pertanyaan-pertanyaan Bu Ika seputar Ramadhan, karena besok sudah puasa.

Rumahnya sepi. Kendaraannya, motor ataupun mobil yang biasa terparkir di depan rumah tidak ada. Terpaksa bertanya pada tetangga depan rumahnya, Ibu Uci,  yang sedang mencuci motor

"Lagi pergi kali, Bu."

"Bagaimana keadaannya Bu Ika, Bu?"

"Kemarin sih, saya lihat sudah bisa duduk di teras depan."

"Alhamdulillah. Semoga bisa pulih seperti semula."

"Aamiiin."

Kami mengucapkan aamiiin bersamaan. Meski sedikit lega mendengar Bu Ika sudah bisa duduk di teras, --sebelumnya selalu terbaring selama dua bulan--, masih ada yang mengganjal di hati karena belum bisa bertemu dan menjawab pertanyaannya tempo hari.

Rasa sesal mengiringi langkahku menuju pulang ke rumah. Inilah buah penundaan dan kemalasan.

Malam ini adalah sahur pertama. Berdasarkan kebiasaanku, biasanya aku akan bangun jam 03.00 dini hari, agar bisa makan shur di akhir waktu, sesuai yang disunnahkan Rosul. Tapi, sejak jam 01.00 mata sudah tak ingin terpejam. Pertanyaan Bu Ika terus mengiang di kepala. Kuputuskan mengadukan semua resah pada Pemilik Kehidupan.

Sekitar jam 2 lewat, terdengar pengumuman kematian. Tak jelas namanya, karena angin bertiup lumayan kencang. Tapi hatiku gundah tak terkira, wajah Bu Ika terbayang. Hujanan istighfar deras mengalir dari lisan, air mata menganak sungai. Semoga prasangka ini salah.

Tafakur di ruang tamu, tempat les biasa diselenggarakan, malah membuat aku mampu menangkap siluet Bu Ika yang sedang duduk mengajar, dan memanfaatkan sisa waktu sebelum pulang untuk menulis tugas anak-anak keesokan harinya.

Sosok yang tegas buat anak-anak, namun penuh canda tawa saat membawakan materi. Membuat suasana belajar menjadi kondusif.

Sebelum adzan subuh, notif gawai riuh bersahutan dari hpku dan suami.

Innalillahi wa inna ilaihi rooji'uuun. Telah meninggal dunia, Dwi Rasika Sari, pukul 02.10 tadi dini hari di RSCM.

Tungkai lemas seketika, membaca pesan di grup RT, netra kembali membuncah, dada serasa dipukul godam puluhan kali. Sesalku tak kan terobati. Jawaban yang telah kupersiapkan takkan pernah tersampaikan.

Semoga khusnul khotimah sahabat.

Allahummaghfirlaha warhamha wa'aafiha wa'fuanha.

Nia Kurniawati
Bekasi, 26 Januari 2019

*barusanggupmenuliskisahini.
#janganmenundapekerjaan

“Jika kamu memasuki waktu sore maka janganlah tunggu waktu pagi, dan jika kamu memasuki waktu pagi janganlah kamu tunggu waktu sore, dan gunakanlah kesehatanmu untuk masa sakitmu, dan kehidupannya untuk kematianmu.” (HR. Bukhari)

Jumat, 18 Januari 2019

Aroma Mistis


Sejak semalam aroma aneh menguar dari setiap sudut pekarangan rumah. Suasananya membuat bulu kuduk marathon bergidik, aromanya memaksa perut  meluahkan isi, dan  bintang menari di seputar kepala.

"Mistis apalagi, ini? Kok aromanya aneh," ujarku dalam hati.

Kejadian ini, mengingatkan aku pada kisah setahun yang lalu. Tahun lalu, kampungku pernah digegerkan dengan aroma kopi luwak. Aromanya bisa diendus seluruh warga. Padahal tidak mungkin semua warga menyeduh kopi luwak bersamaan, 'kan? Aneh! Kejadian tidak masuk akal ini akhirnya melahirkan  rumor, LEAK SEDANG MENCARI TUMBAL.

Kabar burung itu menjadi trending topik. Dibicarakan oleh segenap kalangan --tua-muda, dan setiap waktu --pagi sampai malam. Di setiap sudut, warung sayuran, mushola, sekolah, pun kedai kopi, dan warung bakso.  Membuat bocah menjadi betah di rumah, karena takut menjadi tumbal Leak.

Lama, kabar itu baru terbantahkan oleh sebuah berita di televisi. Pabrik disekitar kampung yang biasa membuang limbah ke sungai, mencampurkan limbahnya dengan esense kopi, untuk menggantikan bau limbah yang biasanya pekat, berbau busuk, dan membuat migrain menari.

"Oohhh ...."

Banyak mulut ber-oh panjang setelahnya. Sekarang, aroma kopi luwak hanya terendus waktu pagi dan malam saja, juga hanya di sekitar rumah. Itu pertanda, Pak Nasir sedang ngopi.

Kampung tempat tinggalku, Jejalen Jaya, memang terkenal akan  mistisnya. Konon, tempat jin buang anak, katanya. Bisa jadi manusia yang buang anak, meniru perilaku jin. Sampai-sampai, sinyal di tempatku juga bernuansa mistis. Karena sering hilang dan datang sendiri.

Selain itu, masih banyaknya bangunanan bekas peninggalan Belanda, meski ada beberapa yang tinggal dindingnya saja, banyak kejadian mistis yang dialami warga sekitar. Dari mencium aroma wangi, busuk, bau gosong, bau kentang rebus, dan melihat penampakkan Noni Belanda, sampai mendengar suara-suara derap langkah seperti orang yang sedang latihan baris berbaris, menambah kuat kesan menyeramkan.

Maka, dengan sejarah mistis seperti itu. Membuatku beropini, bahwa aroma ini pasti ulah makhluk tak kasat mata.

"Maaasss ...," kulaungkan panggilan kesayangan untuk pria yang telah menghalalkan diriku 14 tahun lalu.

"Ada apa sih, pagi-pagi udah bikin geger?"

"Mas cium aroma ini?" Hidungku bergerak layaknya kucing yang sedang mengendus ikan, kembang-kempis.

"Iya. Kenapa?"

"Kok, bisa sih, kampung kita jadi bau gini? Tadi aku nyapu di luar kebauan, kukira cuma depan rumah doang. Aku ke warung Bu Devi di ujung gang, baunya masih sama. Sepanjang jalan aromanya sama. Pusing aku."

Keluh yang terkisah sepanjang rel kereta api, tak membuat suamiku panik. Ia tetap menggergaji hebel, tanpa menoleh sedikitpun pada istrinya yang talk aktif.

"Iyalah, bau pete. Kan kemarin si Bowo baru datang dari Kebumen, bawa 50 bonggol pete. Tetangga dari ujung sampai ujung lagi kebagian semua. Cuma aku aja yang ga mau, takut kamu nanti ngomel-ngomel. Eh, ternyata tetap ngomel," jawabnya. Ia lalu meninggalkan kegiatannya, dan duduk di tepian tumpukkan hebel lainnya sambil menyesap kopi. "Tahu gitu, aku tetep terima aja kemarin."

"What!"

Gubrak!

€£¥₩☆%♡¤@$&¿¡¡《%₩₩€☆[}_£€+×`₩%€¤%]+}<♡~)&$$!@*-&$^!

Nia Kurniawati

Selasa, 15 Januari 2019

Apakah Melahirkan Normal Lebih Mulia daripada Operasi Caesar


Ilustrasi Operasi Caesar

Salah satu hal yang dianggap kesempurnaan bagi seorang wanita adalah bisa hamil, melahirkan, dan menyusui anak.

Banyak yang sedih, mengutuk diri, merasa belum sempurna ketika belum juga merasakan denyut jantung lain dalam rahimnya. Meski usia pernikahan sudah lewat beberapa bulan, bahkan bilangan tahun.

Pertanyaan sederhana, perihal jumlah anak, penjadi sebab sembilu menghunjam qalbu. Atau elusan nan lembut  di perut, disertai ucapan satire, "masih rata aja nih, perutnya", seolah godam yang meremukkan harapan hingga berkeping-keping.

Dalam kondisi terpuruk, iman turun, ia bahkan terkadang mempertanyakan soal keadilan dan kebaikan Allah. Membandingkan diri dengan pelaku zina.
Mengapa dengan cara halal, keturunan sulit dan mahal? Tapi dengan zina, seolah dijadikan mudah proses kehadiran janin dalam rahim. Hingga dengan mudahnya pula, pelaku zina banyak yang dipermudah untuk membuang, bahkan membunuh darah dagingnya sendiri.

Na'udzubillahi min dzalik, astaghfirulllahal 'aadzhiiim.

Padahal, kesempurnaan itu hanya milik Allah. Segala sesuatu terjadi dan tidak, adalah atas izin-Nya.

Masalah cara melahirkan pun banyak diperdebatkan. Ada beberapa segelintir wanita, yang merasa hebat dan sempurna karena bisa melahirkan secara normal, hingga dengan bangganya ia merendahkan sesama wanita lainnya yang melahirkan melalui operasi caesar.

Mereka yang berpikiran demikian, beranggapan dengan melakukan operasi caesar berarti mau enaknya doang, ga mau ribet, dan ga mau nanggung sakit.

Hallooo ...

Apa iya, caesar itu ga sakit?
Apa benar, ga ribet?

Padahal kalau mereka tahu, sakitnya sama. Bahkan dimulai dari menjalani puasa sebelum tindakan, dibius dengan suntik tulang belakang di mana kita ga boleh bergerak sama sekali dan dipaksa menunduk dengan perut yang besar, 8 jam menahan sakit sayatan pasca operasi, tanpa pereda nyeri, vagina tetap diobok-obok dokter untuk membersihkan cairan. Tak henti sampai di situ, caesar memberi dampak lain sesudahnya. Yaitu masa nifas yang lebih lama 2 - 3 bulan, mudah lelah, tidak bebas mengangkat berat.

Jadi, Moms, please. Bagi Anda yang diberi nikmat melahirkan dengan persalinan normal, stop bullying kepada kami. Bukan maunya sendiri di caesar, tapi karena banyak resiko dan kesulitan, hingga terpaksa menurut pada saran dokter.

Sakit, bertaruh nyawa, kesulitan, dan ketidaknyamanan yang kita derita sama.

Mari bersama saling menguatkan.

Salam
Nia Kurniawati

Senin, 31 Desember 2018

Rekam Jejak Literasi Nia Kurniawati di Tahun 2018


Alhamdulillah, wa syukurillah. 

Tahun 2018, banyak memberikan kejutan. Benar-benar tidak diduga jika aku bisa mengikuti beberapa antologi. Padahal target hanya dua, karena sedang mengikuti dua kelas menulis. Ternyata, alhamdulillah, 10 buku lahir berturut-turut.

Januari 2018 adalah awal jejak literasiku. Buku cernak berjudul Sirih yang Tak Bisa Ceria, menjadi solo perdana. Dan Karma menjadi antologi cerpen pertamaku. Disusul berturut dengan beberapa antologi  di bulan berikutnya.

Cermin Kejujuran, 26 Dongeng Negeri Peri, Perempuan yang Kuceritakan Padamu, The Midnight Knocks, Warna sang Aksara, Ikhtiar Cinta, Rinai Aksara, Di Batas Cahaya.

Masing-masing buku, memiliki kisah tersendiri.

SIRIH YANG TAK BISA CERIA
Buku Cernak: Sirih Yang Tak Bisa Ceria, menjadi awal aku mengazzamkan diri, bertransformasi menjadi seorang penulis, meski belum profesional. Kelahiran buku ini adalah buah dorongan dan motivasi dari salah satu guru menulisku, Bambang Irwanto dalam sebuah kelas menulis cerita anak, Kurcaci Pos. Dan juga seorang editor cantik multi talenta Wahyu Agustin. Dua punggawa inilah yang banyak memberikan andil dalam proses metamorfosisku. Meski terbit sejak Desember 2017, tapi buku ini baru dicetak dan kuterima pada bulan Januari 2018.

KARMA

Karma merupakan buku antologi perdanaku. Adalah Teh Rhea Ilhami yang menjadi perantaranya. Atas ajakan beliau dalam naungan NuBar Rumedia, akhirnya karyaku bisa satu buku bersama para penulis hebat.

CERMIN KEJUJURAN

Antologi berikutnya, merupakan kumpulan hasil lomba menulis cerita anak yang diselenggarakan oleh IPPI-PADI, Cermin Kejujuran. Ini menjadi lomba menulis pertama yang kuikuti. Meski belum mendapatkan juara, masuk menjadi 10 nominasi terbaik adalah prestasi yang luar biasa buatku. Benar-benar tidak menyangka, bisa menyisihkan ratusan peserta lainnya. Di buku ini, ada banyak karya para seniorku di grup penulis. Bahkan beberapa sempat menjadi komentator dalam karya yang kupost di grup. Love them.

26 DONGENG NEGERI PERI

Dalam proses meningkatkan value diri, aku banyak mengikuti kelas menulis. Ibarat seorang anak yang baru bisa merangkak, ia akan menjelajah semua ruang yang ada, dan mengacak-acak apapun yang terjangkau tangan. Begitu pun aku, yang sedang haus ilmu. Siapa pun yang menawarkan kelas menulis, kuikuti. Ada tawaran membuat antologi aku sambut, bisa atau tidak perkara belakang, yang penting niat dan usaha dulu. Antologi ini adalah hasil dari mengikuti kelas menulis cerita anak yang diselenggarakan oleh Wonderland Publisher.

PEREMPUAN YANG KUCERITAKAN PADAMU

Berikutnya, Perempuan yang Kuceritakan Padamu, menjadi jejak berikutnya dalam dunia baruku. Berawal dari ajakan seorang teman di FB, yang tentunya sudah senior, Mba Shanti. Buku ini menjadi awal dari terbitnya beberapa antologi lainnya, Ikhtiar Cinta dan Di Batas Cahaya,  dengan penerbit yang sama, Intishar Publisher.

WARNA SANG AKSARA

Warna sang Aksara lahir melalui grup Akademi Sastra Indonesia yang dibidani oleh Mba Endah dan Mba Nana. Buku ini menjadi yang paling unik, karena bukan hanya berisi cerpen, tapi ada cermin dan puisi juga. Menjadi buku yang recomended untuk dipelajari bagi newbie seperti saya.

RINAI AKSARA

Buku tebal dengan 77 penulis ini, menjadi satu-satunya buku antologi puisi. Meski tak pandai merangkai diksi indah, namun dengan modal nekat, akhirnya 3 puisiku berhasil dibukukan bersama para penyair keren se-Nusantara.

THE MIDNIGHT KNOCKS

The Midnight Knocks, menjadi buku yang mengharu biru. Bergenre horor, menjadi hal yang sulit menuliskannya. Karena aku tak pernah membaca buku haror, dan tak suka menonton film atau drama horor. Maka, demi terealisasinya niat, terpaksa membaca beberapa literatur horor. Alhamdulillah, dengan tertatih, akhirnya proses menulis selesai juga dalam waktu sebulan, tiga cerita. Buku ini diselenggarakan oleh sebagian alumni KMO Batch 10 dengan PJ keren Andrew A. Navara.

IKHTIAR CINTA

Buku yang dibidani oleh mba Shanti ini, melalui proses yang sangat panjang. Dengan diikuti oleh 45 penulis se-Nusantara, tentu memiliki banyak ragam pemikiran. Sempat akan terpecah, karena sedikit perbedaan sudut pandang. Tapi, berkat kerendahan hati para senior lainnya, akhirnya Iktiar Cinta lahir dengan selamat, utuh.

DI BATAS CAHAYA


Buku ini, menjadi buku yang paling cepat lahirnya. Dengan dead line hanya satu hari, dan terbit kurang dari satu bulan. Juga menjadi penutup jejak di 2018.

Meski, tulisanku di beberapa buku itu bukanlah yang terbaik, bahkan ada yang dibacanya nanggung seperti belum finish, tapi aku menikmatinya sebagai sebuah proses. Ini bukan tentang bagus-tidak, banyak-sedikitnya karya, tapi keistiqomahan dalam berjuang meraih cita-cita baru "Being A Writer".

Harapanku di tahun 2019, tidak menginkan lagi kuantitas buku, tapi lebih ke arah peningkatan kualitas diri. Antologi di 2019 akan dikurangi, ingin fokus menulis solo.

Calon Buku Baru: SECANGKIR WARNA NUSANTARA

Secangkir Warna Nusantara, duet dengan penulis favorit, Yola Widya, yang sedang masuk daftar tunggu cetak akan menjadi anak pertama di awal tahun 2019, semoga bisa lahiran sesuai HPL.

InsyaAllah, biidznillah semua akan tercapai. Bismillaaah, walhamdulillah ....

Selamat menyongsong harapan baru, dengan semangat baru, di tahun baru, 2019.

Bekasi, 31 Desember 2018
Nia Kurniawati

Senin, 17 Desember 2018

Belajar Membuat Prosais

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Selamat datang di Rumah Nia. Kali ini saya akan menyajikan sebuah resep baru, sebenarnya telah lama diramu. Namun, baru bisa disajikan, karena baru selesai prakteknya. 😊

Apa itu? Sebuah prosais. Harap maklum kalau kurang lezat, masih dalam tahap belajar. Semoga berkenan.

Prosais 1

Siapa Aku?
By: Nia Kurniawati

Aku adalah sepenggal kisah yang usang. Tentang seorang yang mengaku hamba Tuhan, tapi tiada mengenal Tuhannya.

Padahal malam sering merayunya, mengundang untuk hadir pada perjumpaan. Tapi, netra memejam,  menolak. Aku yang mengaku hamba Tuhan, lebih asyik bercinta dengan mimpi. Tak enggan kehilangan hangatnya kemul.

Aku yang mengaku hamba Tuhan, sering kali mengabaikan panggilan-Nya. "Sebentar lagi, wahai Tuhan! Waktu mengejarku untuk segera merampungkan sumur peluh, yang akan mengalirkan dinar," katanya.

Aku yang mengaku hamba Tuhan, sering beralibi untuk tidak bersurat pada-Nya. Ada surat lain yang lebih syahdu, berisi rayuan rindu sepasang makhluk dari jenis aku yang lain. Ada surat lain yang lebih melenakan, berisi lembaran kisah entah nyata atau dusta, dari makhluk sejenis aku. "Aku sedang belajar, Tuhan," kilahnya.

Jika Aku tak ingin berjumpa Tuhan, mengabaikan panggilan-Nya, dan enggan berkomunikasi, pantaskah Aku disebut Hamba Tuhan?

Bekasi, 6 Desember 2018


Prosais 2

Harapan Sepasang Kekasih
Oleh: Nia Kurniawati

Pada lembaran daun yang gugur, kutuliskan kisah sepasang kekasih. Tentang sebuah penantian. Layaknya gersang menanti hujan, pasrah dalam kekeringan.

Ingatkah kala air mata menjadi tinta dan lidah penanya, saat mereka bersimpuh dalam hening yang pekat, mengadu pada Raja Semesta?

Bukan dunia yang dihendak, tapi sosok lain dari mereka sebagai panyambung nasab. Gelak riuhnya dirindukan, seperti sepi merindu melodi. Senyum hangat di awal hari, selalu diimpikan. Harum surgawi dari desahan napas, sangat dinantikan. Tidak banyak, cukup tunggal. Berharap lebih, namun angan pahami takdir.

Pada tiap usapan kepala, mereka titipkan semoga. Pada tiap tangkupan, mereka langitkan harap. Pada tiap perjumpaan, mereka kisahkan penantian ini. Karena takdir hanya Dia yang punya.

Bekasi, 18 Desember 2018

Rabu, 05 Desember 2018

Catatan Hari Ini: Pensil

Bukan masalah bagus atau tidaknya pensilmu, tapi hasil coretan atau tulisannyalah yang akan dinilai.

Bagus atau tidaknya goresan, tergantung pada ketulusan hati, kekuatan niat, ketajaman pikir dan ketrampilan tangan. Bukan pensilnya.

Maka, kuatkan jiwa ragamu, Nak. Agar kelak kau dapat menggoreskan kisah indah yang inspiratif. Jadilah pensil yang tajam, bukan sekedar indah. Menuliskan yang benar, meski sakit terasa. Dengannya kelak kau bisa menuliskan keindahan, kebahagian, menghapus lara, dan menegakkan kebenaran. Tapi ingat untuk selalu menajamkannya. Karena pensil yang patah tak dapat menggoreskan huruf, hanya akan melukai kertas. Dan pensil yang tumpul tak nyaman digunakan.

Pertajam terus pensilmu, agar tak ada satu pun catatan yang terlewat.

Semoga Allah selalu meridhoimu. 😘😘

#Filosofi_pensil
#Melipat_pensil