Senin, 20 April 2026

My Daily Activities


 Apresiasi yang Tak Terucap

Suasana kelas hari ini agak bising, di dinding jarum jam baru menunjukkan pukul 09.15, tapi beberapa anakku sudah ada yang selesai mengerjakan tugas. Dan aku tidak menyiapkan tugas pengaman, karena berpikir tugas pertama ini lumayan susah mungkin butuh 30 menit atau lebih untuk diselesaikan. Ternyata hanya butuh 10 menit aja, untuk beberapa anak hebatku. Dan mereka mengisi kekosongan tugas dengan 'proyek khasnya', dari sekadar berbagi cerita (ngobrol random)  sampai memainkan alat tulis.

Tetiba, salah satu dari mereka memecah konsentrasiku yang sedang mendampingi anak lain.

"Bu Nia, jangan marah, ya?" Sepasang bola mata mungil menatap menunggu jawab.

"Kenapa?" Lagi mode serius, karena sedang mendampingi Cah Bagus yang lain, jadi balik tanya singkat aja.

"Pensilku, patah lagi." Diangkatnya pensil yang ujungnya telah tiada, "nggak sengaja, jatuh terus keinjek kaki kursi."

Aku diam sejenak, sempat bingung mencerna kalimat awalnya, kenapa anak sekecil itu sampai takut dimarahin untuk kesalahan yang tidak disengaja, apa aku pernah memarahinya, atau ini trauma yang terbawa dari rumah? 

Semua pertanyaan datang bersamaan, membuatku beku.

"Oh." Aku memperbaiki posisi duduk, "Sudah 2x, lho, Say, Bu Nia nggak boleh marah?" pertanyaan yang membuatku berpikir setelahnya lantas bergumam sendiri, pertanyaan apa itu? udah jelas nggak sengaja, kok, masih nanya gitu!

Pensil pertamanya patah saat sedang dimainkan, ujungnya dimasukkan ke dalam sampul penghapus.

"Jangan, Bu." ekspresinya tak mampu kubaca. Tak ada rasa takut di sana, tak ada rasa ragu saat mengakui kesalahan tak disengajanya, keberaniannya untuk mengakui kesalahannya mencerminkan sikap berani bertanggung jawab, Ibu bangga, Nak.

"Baik, Bu Nia nggak marah, silakan ambil pensil lagi, tapi dapet peringatan 1, ya," aku tak lantas menghampirinya, hanya menatapnya sekilas, "Tolong dijaga, jangan sampai patah lagi." Lalu, kembali fokus pada Cah Bagusku.

"Iya, Bu." Bocah Lelaki pemilik rambut ikal itu langsung berdiri mengganti pensil, lalu kembali duduk.

Aku tak berkata-kata lagi, sambil membimbing Cah Bagusku, batinku berisik, malah balik menyalahkan diri, "Kamu kagum dengan keberanian dan rasa tanggung jawabnya, kenapa tidak kamu beri apresiasi?"

"Mana ucapan terima kasihmu yang biasanya terlisan saat anakmu melakukan sikap baik?"

Batinku masih bergejolak, "Kenapa dia seperti memiliki trauma dimarahi, jika melakukan kesalahan? Apa tanpa sadar kamu pernah marahin dia atau anak yang lain?"

"Akh...!" Aku malah merutuk hati, merasa seketika gagal menghargai.

Di awal pembelajaran, aku memberi informasi; bahwa hari ini telah disiapkan pensil dan penghapus baru, dan aku ingatkan untuk tidak memukul meja dengan pensil, serta tidak menusuk-nusuk hapusan dengan pensil.

Karena sekarang anak-anakku semakin kreatif bermain simbolik; pensil dijadikan stik drum dan meja sebagai drumnya, berkreasi dengan hapusan melalui tusukan pensil, dan hal random lainnya.

MaasyaAllah...

Mungkin karena itu, Cah Lanangku sampai bertanya demikian.

Duh, maaf ya, Sayang, Ibu nggak bermaksud mengabaikan kamu. Ibu bahkan bangga sekali atas sikapmu. Dimasa kejujuran terasa mahal, kau malah mengumbarnya. Keren dan terimah kasih telah bersikap baik. Ibu bangga sekali.

Bekasi, 20 April 2026

Sabtu, 18 April 2026

My Daily Activities


Cerita Lalu yang Tak Ingin Berlalu

Hari itu, Kepala Sekolah sedang berkunjung ke sekolah, ia membawakan lontong sayur untukku. 

Saat jam makan, kuputuskan makan bersama anak-anak, kebetulan memang belum sempat sarapan tadi pagi. 

Saat sedang asyik makan, sambil menyuapi beberapa anak yang minta coba, mata kananku terciprat kuah sayurnya, refleks mengaduh sambil memejamkan mata. Makan terhenti, tangan kanan segera menutup mata.

Anak gadis di sampingku bertanya, "Kenapa, Bu Nia?"

Dengan mata yang masih terpejam, kujawab, "Kena kuah sayur, Say."

Tak ada kalimat balasan dari sang penanya, pun tak terdengar reaksi dari anak yang lainnya, hingga ...

"Bu, izin ambil tisu, ya?" Anak lelakiku yang sedang duduk berseberangan bicara hampir bersamaan dengan 2 anak gadisku yang lain. 

Dengan memicing karena masih perih, kupastikan siapa yang bicara, lalu menjawab, "Iya, silakan."

Kupikir, mereka serentak ambil tisu untuk keperluan sendiri, mengelap mulut atau meja yang kena tumpahan minuman atau makanan, ternyata tidak. 

Si Bujang, menyelipkan tisu ke tangan kiriku, Si Gadis mengusap mataku dengan tisu.

"Terima kasih!" Ujarku.

Aku, ambil tisu dari tangan gadisku dan melanjutkan mengusap mata sendiri.

Sambil mengusap, aku terus mengerjapkan mata beberapa kali.

"Bu Nia keluar air mata, masih perih, ya?" Tanya Bujang di seberang sana yang tadi mengambilkan tisu.

"Iya." Jawabku singkat.

Padahal, perih itu hanya sekejap saja telah hilang saat tisu mengusap mata, karena cipratan sayur sangat sedikit. 

Padahal, perih itu telah berganti haru yang menggelayut di dada dan menghantarkan hangatnya ke netra, hingga embunnya mencair dan membasahi bulu mata. Tapi penjelasan itu tak kuberikan, cukup kusimpan dan ukir dihati.

Nak, terima kasih untuk perhatiannya. 

Terima kasih untuk sayangnya.

Sungguh, ini bukan air mata sedih, tapi pancaran kebahagiaan.

Sungguh, ini luapan suka cita karena Allah menghadirkan kasih bukan hanya seorang anak tapi lebih, meski bukan lahir dari rahimku.

Nak, terima kasih.

Bekasi, 18 April 2026