Cerita Lalu yang Tak Ingin Berlalu
Hari itu, Kepala Sekolah sedang berkunjung ke sekolah, ia membawakan lontong sayur untukku.
Saat jam makan, kuputuskan makan bersama anak-anak, kebetulan memang belum sempat sarapan tadi pagi.
Saat sedang asyik makan, sambil menyuapi beberapa anak yang minta coba, mata kananku terciprat kuah sayurnya, refleks mengaduh sambil memejamkan mata. Makan terhenti, tangan kanan segera menutup mata.
Anak gadis di sampingku bertanya, "Kenapa, Bu Nia?"
Dengan mata yang masih terpejam, kujawab, "Kena kuah sayur, Say."
Tak ada kalimat balasan dari sang penanya, pun tak terdengar reaksi dari anak yang lainnya, hingga ...
"Bu, izin ambil tisu, ya?" Anak lelakiku yang sedang duduk berseberangan bicara hampir bersamaan dengan 2 anak gadisku yang lain.
Dengan memicing karena masih perih, kupastikan siapa yang bicara, lalu menjawab, "Iya, silakan."
Kupikir, mereka serentak ambil tisu untuk keperluan sendiri, mengelap mulut atau meja yang kena tumpahan minuman atau makanan, ternyata tidak.
Si Bujang, menyelipkan tisu ke tangan kiriku, Si Gadis mengusap mataku dengan tisu.
"Terima kasih!" Ujarku.
Aku, ambil tisu dari tangan gadisku dan melanjutkan mengusap mata sendiri.
Sambil mengusap, aku terus mengerjapkan mata beberapa kali.
"Bu Nia keluar air mata, masih perih, ya?" Tanya Bujang di seberang sana yang tadi mengambilkan tisu.
"Iya." Jawabku singkat.
Padahal, perih itu hanya sekejap saja telah hilang saat tisu mengusap mata, karena cipratan sayur sangat sedikit.
Padahal, perih itu telah berganti haru yang menggelayut di dada dan menghantarkan hangatnya ke netra, hingga embunnya mencair dan membasahi bulu mata. Tapi penjelasan itu tak kuberikan, cukup kusimpan dan ukir dihati.
Nak, terima kasih untuk perhatiannya.
Terima kasih untuk sayangnya.
Sungguh, ini bukan air mata sedih, tapi pancaran kebahagiaan.
Sungguh, ini luapan suka cita karena Allah menghadirkan kasih bukan hanya seorang anak tapi lebih, meski bukan lahir dari rahimku.
Nak, terima kasih.
Bekasi, 18 April 2026

Semoga Allah selalu melimpahkan ketenangan dan kekuatan dalam setiap langkah Bu Nia. Yakinlah, setiap ketetapan Allah itu penuh hikmah, meskipun kadang belum kita pahami saat ini.
BalasHapusAllah berfirman bahwa Dia memberikan anak kepada siapa yang Dia kehendaki, dan menunda kepada siapa yang Dia kehendaki, dan semua itu adalah bentuk kasih sayang-Nya yang paling sempurna. Bisa jadi Allah sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih indah di waktu yang paling tepat.
Jangan pernah merasa sendiri, karena Allah selalu dekat. Setiap doa yang dipanjatkan tidak pernah sia-sia. Teruslah berdoa, berharap, dan berhusnudzon kepada-Nya. Seperti doa para nabi yang penuh kesabaran, insyaAllah Allah juga akan mendengar dan mengabulkan di waktu terbaik.
Semoga Allah segera memberikan kabar bahagia, atau menggantinya dengan kebaikan yang lebih besar, yang menenangkan hati dan membahagiakan dunia akhirat 🤲
Tetap kuat ya Bu Nia, Allah sayang sama Bu Nia 💛
MaasyaAllah... Iya Bu Heni. Aku yakin dengan setiap ketetapan Allah, bahwa yang Allah berikan pasti yang terbaik menurtu-Nya. Dan Allah bukan tidak menjawab pintaku, tapi Dia mengabulkan doa dengan cara yang lain.
HapusTerima kasih doa n supportnya Bu Heni.