Apresiasi yang Tak Terucap
Suasana kelas hari ini agak bising, di dinding jarum jam baru menunjukkan pukul 09.15, tapi beberapa anakku sudah ada yang selesai mengerjakan tugas. Dan aku tidak menyiapkan tugas pengaman, karena berpikir tugas pertama ini lumayan susah mungkin butuh 30 menit atau lebih untuk diselesaikan. Ternyata hanya butuh 10 menit aja, untuk beberapa anak hebatku. Dan mereka mengisi kekosongan tugas dengan 'proyek khasnya', dari sekadar berbagi cerita (ngobrol random) sampai memainkan alat tulis.
Tetiba, salah satu dari mereka memecah konsentrasiku yang sedang mendampingi anak lain.
"Bu Nia, jangan marah, ya?"
Sepasang bola mata mungil menatap menunggu jawab.
"Kenapa?"
Lagi mode serius, karena sedang mendampingi Cah Bagus yang lain, jadi balik tanya singkat aja.
"Pensilku, patah lagi." Diangkatnya pensil yang ujungnya telah tiada, "nggak sengaja, jatuh terus keinjek kaki kursi."
Aku diam sejenak, sempat bingung mencerna kalimat awalnya, kenapa anak sekecil itu sampai takut dimarahin untuk kesalahan yang tidak disengaja, apa aku pernah memarahinya, atau ini trauma yang terbawa dari rumah?
Semua pertanyaan datang bersamaan, membuatku beku.
"Oh." Aku memperbaiki posisi duduk, "Sudah 2x, lho, Say, Bu Nia nggak boleh marah?" pertanyaan yang membuatku berpikir setelahnya lantas bergumam sendiri, pertanyaan apa itu? udah jelas nggak sengaja, kok, masih nanya gitu!
Pensil pertamanya patah saat sedang dimainkan, ujungnya dimasukkan ke dalam sampul penghapus.
"Jangan, Bu." ekspresinya tak mampu kubaca. Tak ada rasa takut di sana, tak ada rasa ragu saat mengakui kesalahan tak disengajanya, keberaniannya untuk mengakui kesalahannya mencerminkan sikap berani bertanggung jawab, Ibu bangga, Nak.
"Baik, Bu Nia nggak marah, silakan ambil pensil lagi, tapi dapet peringatan 1, ya," aku tak lantas menghampirinya, hanya menatapnya sekilas, "Tolong dijaga, jangan sampai patah lagi." Lalu, kembali fokus pada Cah Bagusku.
"Iya, Bu." Bocah Lelaki pemilik rambut ikal itu langsung berdiri mengganti pensil, lalu kembali duduk.
Aku tak berkata-kata lagi, sambil membimbing Cah Bagusku, batinku berisik, malah balik menyalahkan diri, "Kamu kagum dengan keberanian dan rasa tanggung jawabnya, kenapa tidak kamu beri apresiasi?"
"Mana ucapan terima kasihmu yang biasanya terlisan saat anakmu melakukan sikap baik?"
Batinku masih bergejolak, "Kenapa dia seperti memiliki trauma dimarahi, jika melakukan kesalahan? Apa tanpa sadar kamu pernah marahin dia atau anak yang lain?"
"Akh...!" Aku malah merutuk hati, merasa seketika gagal menghargai.
Di awal pembelajaran, aku memberi informasi; bahwa hari ini telah disiapkan pensil dan penghapus baru, dan aku ingatkan untuk tidak memukul meja dengan pensil, serta tidak menusuk-nusuk hapusan dengan pensil.
Karena sekarang anak-anakku semakin kreatif bermain simbolik; pensil dijadikan stik drum dan meja sebagai drumnya, berkreasi dengan hapusan melalui tusukan pensil, dan hal random lainnya.
MaasyaAllah...
Mungkin karena itu, Cah Lanangku sampai bertanya demikian.
Duh, maaf ya, Sayang, Ibu nggak bermaksud mengabaikan kamu. Ibu bahkan bangga sekali atas sikapmu. Dimasa kejujuran terasa mahal, kau malah mengumbarnya. Keren dan terimah kasih telah bersikap baik. Ibu bangga sekali.
Bekasi, 20 April 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar