Senin, 20 April 2026

My Daily Activities


 Apresiasi yang Tak Terucap

Suasana kelas hari ini agak bising, di dinding jarum jam baru menunjukkan pukul 09.15, tapi beberapa anakku sudah ada yang selesai mengerjakan tugas. Dan aku tidak menyiapkan tugas pengaman, karena berpikir tugas pertama ini lumayan susah mungkin butuh 30 menit atau lebih untuk diselesaikan. Ternyata hanya butuh 10 menit aja, untuk beberapa anak hebatku. Dan mereka mengisi kekosongan tugas dengan 'proyek khasnya', dari sekadar berbagi cerita (ngobrol random)  sampai memainkan alat tulis.

Tetiba, salah satu dari mereka memecah konsentrasiku yang sedang mendampingi anak lain.

"Bu Nia, jangan marah, ya?" Sepasang bola mata mungil menatap menunggu jawab.

"Kenapa?" Lagi mode serius, karena sedang mendampingi Cah Bagus yang lain, jadi balik tanya singkat aja.

"Pensilku, patah lagi." Diangkatnya pensil yang ujungnya telah tiada, "nggak sengaja, jatuh terus keinjek kaki kursi."

Aku diam sejenak, sempat bingung mencerna kalimat awalnya, kenapa anak sekecil itu sampai takut dimarahin untuk kesalahan yang tidak disengaja, apa aku pernah memarahinya, atau ini trauma yang terbawa dari rumah? 

Semua pertanyaan datang bersamaan, membuatku beku.

"Oh." Aku memperbaiki posisi duduk, "Sudah 2x, lho, Say, Bu Nia nggak boleh marah?" pertanyaan yang membuatku berpikir setelahnya lantas bergumam sendiri, pertanyaan apa itu? udah jelas nggak sengaja, kok, masih nanya gitu!

Pensil pertamanya patah saat sedang dimainkan, ujungnya dimasukkan ke dalam sampul penghapus.

"Jangan, Bu." ekspresinya tak mampu kubaca. Tak ada rasa takut di sana, tak ada rasa ragu saat mengakui kesalahan tak disengajanya, keberaniannya untuk mengakui kesalahannya mencerminkan sikap berani bertanggung jawab, Ibu bangga, Nak.

"Baik, Bu Nia nggak marah, silakan ambil pensil lagi, tapi dapet peringatan 1, ya," aku tak lantas menghampirinya, hanya menatapnya sekilas, "Tolong dijaga, jangan sampai patah lagi." Lalu, kembali fokus pada Cah Bagusku.

"Iya, Bu." Bocah Lelaki pemilik rambut ikal itu langsung berdiri mengganti pensil, lalu kembali duduk.

Aku tak berkata-kata lagi, sambil membimbing Cah Bagusku, batinku berisik, malah balik menyalahkan diri, "Kamu kagum dengan keberanian dan rasa tanggung jawabnya, kenapa tidak kamu beri apresiasi?"

"Mana ucapan terima kasihmu yang biasanya terlisan saat anakmu melakukan sikap baik?"

Batinku masih bergejolak, "Kenapa dia seperti memiliki trauma dimarahi, jika melakukan kesalahan? Apa tanpa sadar kamu pernah marahin dia atau anak yang lain?"

"Akh...!" Aku malah merutuk hati, merasa seketika gagal menghargai.

Di awal pembelajaran, aku memberi informasi; bahwa hari ini telah disiapkan pensil dan penghapus baru, dan aku ingatkan untuk tidak memukul meja dengan pensil, serta tidak menusuk-nusuk hapusan dengan pensil.

Karena sekarang anak-anakku semakin kreatif bermain simbolik; pensil dijadikan stik drum dan meja sebagai drumnya, berkreasi dengan hapusan melalui tusukan pensil, dan hal random lainnya.

MaasyaAllah...

Mungkin karena itu, Cah Lanangku sampai bertanya demikian.

Duh, maaf ya, Sayang, Ibu nggak bermaksud mengabaikan kamu. Ibu bahkan bangga sekali atas sikapmu. Dimasa kejujuran terasa mahal, kau malah mengumbarnya. Keren dan terimah kasih telah bersikap baik. Ibu bangga sekali.

Bekasi, 20 April 2026

Sabtu, 18 April 2026

My Daily Activities


Cerita Lalu yang Tak Ingin Berlalu

Hari itu, Kepala Sekolah sedang berkunjung ke sekolah, ia membawakan lontong sayur untukku. 

Saat jam makan, kuputuskan makan bersama anak-anak, kebetulan memang belum sempat sarapan tadi pagi. 

Saat sedang asyik makan, sambil menyuapi beberapa anak yang minta coba, mata kananku terciprat kuah sayurnya, refleks mengaduh sambil memejamkan mata. Makan terhenti, tangan kanan segera menutup mata.

Anak gadis di sampingku bertanya, "Kenapa, Bu Nia?"

Dengan mata yang masih terpejam, kujawab, "Kena kuah sayur, Say."

Tak ada kalimat balasan dari sang penanya, pun tak terdengar reaksi dari anak yang lainnya, hingga ...

"Bu, izin ambil tisu, ya?" Anak lelakiku yang sedang duduk berseberangan bicara hampir bersamaan dengan 2 anak gadisku yang lain. 

Dengan memicing karena masih perih, kupastikan siapa yang bicara, lalu menjawab, "Iya, silakan."

Kupikir, mereka serentak ambil tisu untuk keperluan sendiri, mengelap mulut atau meja yang kena tumpahan minuman atau makanan, ternyata tidak. 

Si Bujang, menyelipkan tisu ke tangan kiriku, Si Gadis mengusap mataku dengan tisu.

"Terima kasih!" Ujarku.

Aku, ambil tisu dari tangan gadisku dan melanjutkan mengusap mata sendiri.

Sambil mengusap, aku terus mengerjapkan mata beberapa kali.

"Bu Nia keluar air mata, masih perih, ya?" Tanya Bujang di seberang sana yang tadi mengambilkan tisu.

"Iya." Jawabku singkat.

Padahal, perih itu hanya sekejap saja telah hilang saat tisu mengusap mata, karena cipratan sayur sangat sedikit. 

Padahal, perih itu telah berganti haru yang menggelayut di dada dan menghantarkan hangatnya ke netra, hingga embunnya mencair dan membasahi bulu mata. Tapi penjelasan itu tak kuberikan, cukup kusimpan dan ukir dihati.

Nak, terima kasih untuk perhatiannya. 

Terima kasih untuk sayangnya.

Sungguh, ini bukan air mata sedih, tapi pancaran kebahagiaan.

Sungguh, ini luapan suka cita karena Allah menghadirkan kasih bukan hanya seorang anak tapi lebih, meski bukan lahir dari rahimku.

Nak, terima kasih.

Bekasi, 18 April 2026

Kamis, 25 Desember 2025

Pillow Talk


 "Ndhuk, maafin Mas, yo, saiki wis ra iso kerjo!"

Sejak kejadian 3 bulan lalu, malam-malam pasangan milineal itu sekarang sering diawali dengan kalimat pesimis ini. 

Dengan lembut, tangan kekar pria bersuku jawa itu membelai anak rambut di sekitar wajah istrinya.

Wajah yang tak pernah tersentuh make-up, bahkan bedak sekalipun. Kerutan halus yang mulai nampak di sekitar mata dan dahi, juga plek hitam yang sudah hampir menutupi pipi chubbynya, tidak membuat cinta dan sayangnya berkurang.

Lalu, pria bernama Nazar itupun dengan lembut mendaratkan kecupan di dahi pemilik manik hitam yang telah ia halalkan 27 tahun lalu.

"Bukan nggak bisa, Mas. Belum waktunya, kan masih sakit," perempuan yang separuh hidupnya sudah ia baktikan untuk pria yang sempat ia tolak, kini gantian mengelus lembut wajah pria yang tak kalah chubby dengan dirinya. "kalo Mas udah sehat juga in syaa Allah akan bisa kerja lagi." Dengan lembut, ia mengusap mata lelakinya yang basah. Dalam keadaan seperti ini, prianya menjadi melankolis.

Tiga bulan lalu, 19 September 2025, Nazar mengalami kecelakaan kerja. Ia terjatuh dari tangga setinggi 4 meter saat akan memperbaiki atap tempatnya bekerja. Kejadian itu membuat ia kehilangam gigi taring bawah kiri dan dua gigi di sampingnya,  6 gigi bagian atas kiri pun goyang, bibir pecah dan bolong dengan 9 jahitan luar dan dalam, jempol kiri robek mendapat 6 jahitan, betis bolong dengan 5 jahitan saja, lutut kiri bergeser, dan bonus 2 tulang selangka lepas dari engselnya. Peristiwa ini membuatnya harus istirahat selama 6 bulan lagi ke depan. 

Nazar yang kini berusia 55 tahun, adalah seorang tukang bangunan. Musibah ini membuatnya tidak bisa bekerja dan menghasilkan uang.

"Mas, inget nggak? Awal kita nikah juga Mas kan belum bekerja, dan keuangan kita masih sangat kekurangan, tapi Allhamdulillah kita masih bisa makan dan hidup baik sampai saat ini, kan?"

Bibir Nazar terkatup. Benaknya berisik mengutuk diri, sementara matanya tenggelam ke dalam manik gemintang sang istri, ruang yang menariknya kembali ke dua dekade silam. Ia teringat masa-masa menjadi sopir angkot tembakan, saat rasa bersalah menghimpit dadanya karena membiarkan perempuan itu mengajar di dua sekolah sekaligus demi dapur mereka. Dengan jemari gemetar, ia kembali membelai rambut istrinya yang berantakan tertiup kipas angin, seolah ingin menghapus lelah yang mungkin masih tersisa di sana. "Maaf, ya, dulu kamu harus secapek itu," bisik Nazar nyaris tak terdengar.

"Mas, kalo Allah masih ngijinin kita hidup, Allah pasti jamin rezeki kita. Meski kita nggak tau arahnya dari mana." Cinta, panggilan wanita berkulit sawo matang yang kini berusia 50 tahun, balas membelai rambut ikal milik suaminya.

"Besok kamu mau belanja apa? Kan uang kita tinggal 30.000!" Nazar memperbaiki posisi kepalanya agar semakin dekat dengan istrinya dan menghidu aroma shampo dari rambut istrinya.

"Besok nggak usah belanja, kan tadi Mba Arumi ngasih tahu sama daun ubi, terus Mba Shinta bawain tahu juga sama kerupuk. Lauk dan sayurnya udah komplit, kan?" Gantian, kini giliran netra Cinta yang berdansa di manik coklat pria yang ia sayang dengan separuh jiwanya.

Siang tadi, rumah mereka ramai dikunjungi kakak-kakak Cinta, dan mereka masing-masing.  membawa buah tangan berupa bahan masakan. Padahal paginya, Cinta dan Nazar masih bercanda bahwa besok sepertinya mereka hanya akan makan nasi dengan lauk garam saja, karena qodarulloh; telur, cabe, bawang, mereka telah habis dimasak tadi pagi untuk lauk hari ini.

"Kebukti, kan, Mas, kalo Allah mau ngasih rezeki, kita nggak mesti nyari sana- sini, tinggal nunggu dengan tawakal aja. Yang penting setiap harinya kita udah berusaha, bukan males-malesan." 

Cinta memeluk raga yang masih terlihat kekar meski usianya menjelang senja.

"Oh, iya, Mas. Gimana, kalo pohon tin yang Mas tanam selama ini kita jual?" Cinta melepaskan pelukan, binar matanya menyapu seluruh wajah tegas Nazar.

"Jangan! Itu kan biasanya buat bagi-bagi temanku, atau temenmu, atau sodara kita!" Nazar menghempas tangan Cinta yang masih menggenggam lengannya.

"Iya, sekarang kan belum ada yang minta, jadi nggak papa lah dijual, buat nambah-nambahin uang belanja besok. Kan, gajianku masih lama!" Antusias, Cinta menajamkan pandangan, mencari jawaban di mata suaminya.

Cinta adalah seorang guru, pagi hari ia mengajar TK di sebuah lembaga pendidikan islam dan sore hari mengajar bimbel di rumahnya. Dengan honor jauh di bawah UMR, Cinta berusaha maksimal menutupi semua kebutuhan rumah tangga. 

"Mmm... Boleh!"meski ragu, Nazar akhirnya menyetujui ide istrinya, menjawil gemas hidung mungil yang nampak melebar saat pemiliknya sedang tersenyum.

Cinta langsung mengambil hp milik suaminya, membuat SW jual pohon tin. Dan tak lupa, membuat SW di hp miliknya juga.

"Selesai!" Mata Cinta menyipit dan bibirnya membentuk lengkungan pelangi terbalik. Cepat, ia kembali memeluk suaminya.

"Aku jadi inget kejadian bulan lalu." Nazar gegas menjauhkan jangkauan istrinya, agar ia dapat memandang lebih leluasa wajah teduh milik perempuan berhidung mungil di hadapannya. "Bulan lalu, kita dapet transferan dari Fitri, juga dapet bingkisan dari teman SDku yang nggak pernah terlintas di benak akan berkunjung karena udah lama nggak saling kontak."

"Itulah Mas, namanya qodarulloh. Tanpa meminta, Allah tau kebutuhan kita."

Kecupan di mata, mengakhiri pembicaraan malam itu. Mereka terlelap dengan keikhlasan atas segala takdir yang telah Allah berikan, dan yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja selama mereka terus berusaha meraih ridho Allah. 

Everything gonna be okay with Allah.

❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤

Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. 

Ath Tholaq: 2-3


Selasa, 29 Juli 2025

Tentang Rasa

 


Kau bilang aku terlalu sensitif.
Kau bilang aku terlalu mudah tersinggung.
Tapi kau tak pernah benar-benar tahu,
berapa luka yang sudah kau sisipkan satu per satu dalam hidupku,
seolah aku ini tempatmu melepas beban,
tapi bukan tempatmu peduli.

Luka yang kau beri, berulang kali,
tidak semudah itu hilang hanya karena kau ucap “maaf.”
Kau pikir semua akan pulih seperti semula?
Kau kira hanya karena tidak berdarah, maka tak sakit?

Kau memang tak menancapkan belati,
tapi suara tinggimu,
nada kasarmu,
cara kau meremehkan,
cara kau diam saat aku butuh penjelasan,
semua itu…
lebih tajam dari benda apa pun yang bisa kau pegang.

Itu menembusku.
Bukan hanya hati, pun jiwaku.

Dan yang paling menyakitkan?
Kau tak pernah sungguh-sungguh bertanya,
karena kau terlalu sibuk merasa tak bersalah.

Seharusnya…
seharusnya kau sadar diri.
Aku pernah memaafkanmu.
Bahkan lebih dari sekali.
Tapi luka lama tak pernah benar-benar hilang.
Ia mengering, iya,
tapi bekasnya tetap ada, menempel.

Dan ketika kau kembali dengan luka yang baru,
bertubi-tubi,
tak beri jeda,
kau robek lagi tempat yang sama.

Lalu kau berharap aku memaafkanmu lagi, cepat-cepat, seperti dulu?
Tanpa protes?
Tanpa air mata?

Halu!

Kau hidup dalam ilusi bahwa semua akan baik-baik saja, hanya karena aku diam.
Padahal diamku itu adalah jerit yang tak sanggup lagi diucap.

Kau pikir ini soal maaf?
Tidak!
Ini soal luka yang sudah tak punya ruang lagi untuk kau huni seenaknya.

Dan kali ini,
aku tidak akan menjawab dengan senyuman palsu atau pengampunan tergesa.
Kali ini, aku memilih bicara, untukku.
Bukan untukmu.

BilikRindu, 29 Juli 2025

Sabtu, 03 Mei 2025

Ranting yang Bergerak


Senja melukis langit Jakarta dengan gradasi oranye dan ungu, sinarnya yang lembut menembus jendela dapur Rani. Setelah membantu Ibu membereskan sisa hidangan makan malam, mata Rani menangkap sesuatu yang janggal di dekat pintu belakang – sebatang ranting kering tergeletak di lantai. "Aneh," gumam Rani, "padahal tadi tidak ada."

Berniat membuangnya, Rani membungkuk dan meraih ranting itu. Namun, belum sempat jari-jarinya menyentuh, ranting itu bergerak! Bukan sekadar bergeser karena sentuhan atau hembusan angin – jendela dan pintu tertutup rapat – melainkan bergerak aktif, sedikit meliuk seperti cacing. Rani tersentak dan spontan menjerit, melepaskan ranting itu hingga jatuh dengan bunyi klitik yang memecah keheningan senja.

"Aaaaa!" Rani mundur beberapa langkah, matanya membelalak menatap ranting tak bernyawa yang kini tampak begitu mengancam. Jantungnya berdegup kencang, dan bulu kuduknya meremang.

Mendengar teriakan histeris Rani, Ibu bergegas menghampirinya dengan wajah khawatir. "Rani, ada apa, Nak? Kenapa berteriak seperti melihat hantu?"

Rani menunjuk ranting di lantai dengan tangan gemetar. "Itu, Bu... ranting itu bergerak! Bergerak sendiri!"

Ibu mengikuti arah telunjuk Rani, lalu menghela napas lega. Ia mendekat dan mengambil ranting itu. "Astaga, Rani. Ini hanya belalang ranting. Kamu pasti kaget karena warnanya persis ranting." Ibu menunjukkan serangga itu dari dekat. Belalang itu memang tampak menyamar sempurna, tubuhnya kurus dan berwarna cokelat kayu.

Rani mengerutkan kening, masih sedikit tidak percaya. "Tapi, Bu... tadi gerakannya aneh, seperti bukan gerakan belalang biasa."

"Mungkin karena kamu kaget, Nak. Belalang memang bisa bergerak tiba-tiba," jawab Ibu sambil meletakkan belalang ranting itu dengan hati-hati di pot tanaman dekat jendela.

Malam itu, Rani masih merasa sedikit ganjil. Meskipun Ibu sudah menjelaskan, bayangan gerakan aneh ranting itu terus berputar di benaknya. Keesokan harinya, ia menceritakan kejadian itu kepada Pak Imam di masjid dekat rumahnya setelah shalat Subuh.

"Pak Imam," kata Rani dengan nada penasaran, "kemarin sore saya menemukan ranting di dapur, lalu ranting itu bergerak sendiri. Ibu bilang itu belalang ranting, tapi gerakannya terasa aneh sekali."

Pak Imam tersenyum bijak. "Rani, segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah ciptaan Allah SWT. Setiap makhluk hidup memiliki cara bergerak dan berperilaku yang berbeda-beda. Mungkin kamu belum pernah melihat belalang ranting bergerak sebelumnya, jadi kamu merasa aneh."

"Tapi, Pak Imam," lanjut Rani, "rasanya seperti ada sesuatu yang lain. Seperti... ada pesan."

Pak Imam mengangguk pelan. "Pesan memang bisa datang dari mana saja, Nak. Bahkan dari seekor serangga kecil. Pesannya bisa berupa pengingat tentang kebesaran Allah yang menciptakan makhluk dengan segala keunikannya. Atau mungkin, pesan untuk kita agar tidak mudah terkejut dan takut pada hal yang belum kita pahami sepenuhnya."

Siang harinya, teman Rani, Arya, datang ke rumah untuk mengerjakan tugas sekolah bersama. Rani menceritakan pengalamannya di dapur kemarin sore.

Arya tertawa. "Hahaha, Rani takut sama belalang ranting! Itu kan serangga tidak berbahaya."

"Bukan begitu, Arya! Gerakannya itu lho, aneh sekali," sanggah Rani. "Seperti ada yang mengendalikannya."

"Sudahlah, Rani. Mungkin kamu hanya terlalu lelah kemarin," kata Arya mencoba menenangkan. "Yang penting sekarang kita fokus kerjakan tugas, ya."

Sore menjelang maghrib, Rani kembali ke dapur untuk membantu Ibu menyiapkan makan malam. Ia melirik ke arah pot tanaman tempat Ibu meletakkan belalang ranting kemarin. Belalang itu masih di sana, diam tak bergerak, menyatu sempurna dengan batang dan daun.

Tiba-tiba, belalang itu bergerak. Bukan lagi gerakan meliuk aneh seperti kemarin, melainkan gerakan khas belalang, melompat kecil dari satu dahan ke dahan lain. Rani memperhatikannya dengan saksama. Kali ini, ia bisa melihat dengan jelas anatomi dan cara bergerak serangga itu. Ia menyadari, mungkin memang benar kata Ibu, ia hanya kaget dan belum pernah melihat belalang ranting bergerak dari dekat.

Malam itu, sebelum tidur, Rani merenungkan kejadian seharian. Ia teringat kata-kata Pak Imam tentang kebesaran Allah dalam menciptakan setiap makhluk dan pesan untuk tidak mudah takut pada hal yang belum dipahami. Ia juga menyadari, terkadang prasangka dan ketergesaan dalam menyimpulkan bisa membuat kita melihat sesuatu berbeda dari kenyataannya.

Keesokan harinya, Rani bercerita kepada Arya tentang pengamatannya terhadap belalang ranting. Arya mendengarkan dengan lebih serius kali ini.

"Mungkin benar katamu, Rani. Kita memang tidak boleh langsung takut atau menyimpulkan sesuatu tanpa mencari tahu lebih dulu," ujar Arya. "Seperti kita belajar di pelajaran agama, kita harus tabayyun, mencari kejelasan sebelum mempercayai sesuatu."

Rani tersenyum. Ia mengerti. Kejadian dengan "ranting bergerak" itu memang membuatnya takut, tetapi juga mengajarkannya tentang pentingnya ketenangan, mencari ilmu, dan mengagumi ciptaan Allah. Bahwa di balik kejadian sederhana pun, terkadang tersimpan pelajaran berharga jika kita mau merenungkannya. Belalang ranting itu, tanpa disadarinya, telah menyampaikan pesan moral dan religi yang mendalam bagi Rani.


Sabtu, 29 Maret 2025

Rindu yang Tidak Akan Terbalas


Nyanyian rindu yang tak berkesudahan bahkan sejak pertama kau pergi, hingga kini telah berbilang ratusan purnama, membuat hati berisik menengadahkan tangan ke langit memohon penjagaan Sang Pemilik Jagat untuk sosok yang telah membuatku lahir ke dunia, Bapak.

Pak, genap dua dasawarsa rindu ini mengalun dalam derasnya do'a. Pak, meski tidak setiap kali saat makan, tapi yang jelas, Nia ingat Bapak setiap kali sedang makan. Teringat jelas dalam benak, bagaimana effortnya saat harus menyajikan makan untukmu yang tak mau nasi hasil rice cooker dan hanya mau nasi hasil aronan yang dikukus. Maafin Nia, ya, Pak, yang dulu sering banget nipu Bapak. Saat kita sudah mulai punya rice cooker, Nia kukus nasi yang di rice cooker bukan diaron, dan Nia balas marahnya Bapak yang lidahnya tak bisa dibohongi. Itulah kenapa, saat makan sendirian nasi sering sulit tertelan dan gerimis di pelupuk sampai menetes ke piring. 

Pak, gimana, sudah ketemu Emak? Desember 2023 lalu, Emak nyusul Bapak, lho. Dan rumah Emak yang baru sekarang pun ada di dekat Bapak, ya, memang nggak dempet tapi hanya berjarak lima rumah orang lain. 

Pak, udah nggak berantem sama Emak, kan? 

Nia bayangin Bapak sekarang lagi merajuk ke Emak dan masakin tumis ketan kesukaan Bapak. Duh, lagi-lagi Nia harus minta maaf, nih, karena sering nipu Bapak. Bapak jadi nggak pernah nyuruh Nia untuk bikin tumis ketan, saat nasi yang terhidang adalah tipuan. Bapak tahu, nggak? Tapi pasti Bapak tau, cuma nggak mau marahin anak bandel Bapak ini, kan? Pasti, itu! Pak, Nia sering, lho, nyuri tumisan ketannya Bapak itu. Meski Nia sering banget nggak mau disuruh masak, tapi Nia selalu menghidu dalam-dalam aroma rempah yang Bapak tumis dan menunggu untuk disuruh matiin kompor. Saat Bapak belum makan, Nia curi  beberapa suap. Karena selalu Nia yang matikan kompornya, dan Nia cuma mau disuruh itu, supaya bisa mencuri ketannya Bapak.

Pak, sekarang udah mau lebaran. Bapak inget, nggak? Nia dulu seneng banget foto di samping Bapak dengan gaya siap kayak polwan; mata melotot, wajah tegak ke depan, kedua tangan lurus di samping, dan kaki rapat. Dulu, Nia ngerasa gaya itu keren. Padahal kalo inget sekarang, geli dan malu rasanya. Mata melotot itu mah bukan gaya polwan, kan, Pak? 

Pak, tau nggak sih, kenapa Nia seneng banget bergaya kayak gitu? Bahkan, Nia dijulukin srikandi waktu masih mengenakan seragam putih merah, lho, Pak. Karena saking seringnya mukul dan bikin nangis anak laki-laki yang jahilin Nia atau teman. Tapi, allhamdulillah nggak ada guru dan teman yang marah, cuma anak laki-laki aja yang takut sama Nia. menurut Bapak, Nia keren nggak?

Pak, Nia tuh seneng bergaya bak tentara/polisi wanita itu karena Bapak juga, lho! Bapak itu, kalo dateng ke sekolah Nia, jalannya gagah, selalu mengenakan kemeja yang dimasukkan ke dalam celana, celana panjang dengan gesper yang di pinggangnya ada tempat kaca mata, sepatu hitam mengkilat, dan tak lupa rambut yang selalu rapi tersisir dan klimis karena pake krim rambut, meski kepala bagian tengah Bapak sudah agak botak. Jangan lupa, jam tangan logam yang selalu menempek di pergelangan tangan kiri Bapak, wuih, MaasyaAllah, itu bikin Bapak terlihat gagah dan ruapih!

Kalo ada yang lihat Bapak, pasti teriak, "Eh, Bapaknya si Nia dateng!" 

Temen-temen itu, Pak, langsung nengok dan ngeliatin Bapak dari pagar sekolah sampai masuk ke ruang guru. Mereka mengira Bapak itu polisi, bahkan ada yang nggak percaya dan bilang Bapak pasti intel, karena Nia sanggah kalo Bapak itu cuma pedagang karung bekas di Pasar Induk Cibitung.

Belum lagi seragam Nia yang berbeda dari yang lain. Saat itu, rok teman-temen Nia semuanya berempel full depan sampai belakang. Sedang rok Nia, cuma rempel 3 di samping kanan aja, dan di bagian atasnya ada kancing bungkus warna merah. Bagus n cantik! Terus, sepatu Nia juga beda. Di saat teman-temen bahkan ada yang cuma pake sendal di kelas, saat itu Nia udah pake sepatu kain yang mirip sepatu boot panjang sampai sebetis dan kainnya bisa dilipat ke bawah samapi ke mata kaki. Dan yang paling fenomenal di kelas itu, tas Nia, Pak. Tas Nia mirip koper dengan bentuk kokoh dari plastik dan full colour, Nia ingat warnanya biru tapi lupa apa gambarnya! Wuih, itu keren banget, Pak! 

Semua yang Nia pake jadi pusat perhatian, apalagi kan Nia anak pindahan baru. MaasyaAllah pokoknya, waktu ada Bapak itu Nia bangga banget.

Terima kasih, ya, Pak, atas segala cinta yang kau beri meski tak pernah terucap. Dan baru Nia pahamin sekarang, bahwa cinta  Bapak meski tak terangkai dalam kata, tapi selalu ada dalam bentuk nyata.

Terima kasih, ya, Pak, untuk semua peluh yang terkucur dan tak mungkin bisa terbalas bahkan hingga kini..

Pak, terima kasih sudah menjadi perantara kehadiran Nia di dunia. In syaa Allah dengan izin Allah, kita akan bertemu kembali di surga-Nya.

Sampai jumpa, Pak.

Anak bandelmu ini, selalu menanti pertemuan itu.


Bekasi, 29032025

Minggu, 09 Juni 2024

Tumis Kulit Singkong



Emak adalah bidadari tanpa sayap, multitalent. Mampu mengerjakan banyak hal dalam rumah tangga, demi keutuhan dan kenyamanan keluarga. 

Seringkali, saat ekonomi sedang tak baik-baik saja, Emak harus putar otak bekerja lebih keras dan kreatif lagi demi menghidupi 9 anaknya. 

Alhamdulillah, Emak dan Bapak termasuk orang yang pandai bercocok tanam. Lahan kosong di belakang rumah disulap menjadi kebun singkong, cabai, terkadang jagung, atau kacang panjang. Sehingga, untuk urusan makan, sering terbantu dari hasil kebun. Selain bisa dijual, terkadang diolah untuk makan keluarga. 

Salah satu masakan yang sangat melegenda buatku adalah tumis kulit singkong. Sungguh, makanan lezat yang mampu membuat aku kecil menghabiskan nasi Emak. Kadang, jika ada rezeki lebih Emak mencampurkan teri dalam tumis kulit singkongnya, kadang, ya, polos aja. Rasanya? Beh... Layak dicoba!

Alhamdulillah, pekan kemarin nyempetin beli singkong 1kg isi 4 potong singkong. 2 potong aku rebus dua hari lalu, sebenarnya saat mengupas langsung teringat masakan Emak zaman dulu, tapi karena hari kerja jadi nggak sempet bebikinan yang lain, dan nggak mungkin juga untuk disimpan, karena suami merasa ide memasak kulit singkong adalah aneh. 😊 Dengan berat hati kulit singkong tebal yang sudah terbayang kelezatannya itu harus berakhir di tong sampah.

Alhamdulillah, kemarin menyempatkan rebus singkong yang tersisa dan merebus kulitnya secara terpisah. Daan, jadilah hari ini makanan favorit zaman kecil. 

Nah, yang penasaran ingin icip-icip juga, yuuk, coba recook dengan resep ala-ala aku.

🌱 Bahan:
- Kulit singkong dari ½kg singkong, yang telah dibersihkan kulit ari/luarnya.
- Sebungkus kecil teri nasi (di aku harga 5.000)
- 5 siung bawang merah
- 3 siung bawang putih
- 3 buah cabe rawit merah (suka-suka)
- ½ sendok teh kaldu jamur

🌱 Cara:
- Cuci bersih lalu rebus kulit singkong hingga mendidih, tunggu 5 menit, ganti air lalu rebus lagi. Ulangi sampai 3x. Tiriskan. Lalu potong seukuran korek api.
- Sambil merebus, iris tipis bamer, baput, dan cabe.
- Goreng teri nasi, sisihkan.
- Tumis bumbu iris hingga harum
- Masukkan teri dan potongan kulit singkong
- Tambahkan kaldu jamur
- Aduk rata, koreksi rasa.
- Angkat, hidangkan!

FYI, aku nggak pake garem lagi karena terinya sudah asin.

Alhamdulillah, ternyata suami juga suka. 

Kalo kamu, masakan apa yang paling kamu ingat dan suka saat masih kecil?