Selasa, 25 Agustus 2026

Surat untuk Diri


Assalamu'alaikum, Diriku…

Hari ini aku ingin duduk sebentar bersamamu.

Bukan untuk menghakimimu.
Bukan untuk bertanya mengapa kau berubah.
Bukan pula untuk membandingkanmu dengan dirimu yang sepuluh tahun lalu.

Aku hanya ingin memelukmu.

Aku tahu, akhir-akhir ini kau merasa bukan lagi dirimu yang dulu. Kau menjadi lebih mudah tersinggung, lebih mudah marah, meskipun kemarahan itu sering hanya kau simpan diam-diam di dalam hati. Hal-hal kecil terkadang terasa begitu mengusik, sementara kau sendiri mungkin tidak mengerti mengapa semuanya terasa lebih berat dari sebelumnya.

Tidak apa-apa.

Mungkin bukan kau yang berubah menjadi buruk. Mungkin kau hanya sudah terlalu lama kuat.

Terlalu lama mengejar apa yang menurutmu harus selesai dengan baik. Terlalu lama ingin memahami semuanya, memperbaiki semuanya, dan memastikan tidak ada yang mengecewakan. Kau adalah seseorang yang tidak mudah menyerah. Ketika ada sesuatu yang belum kau pahami, kau akan mengejarnya sampai bisa. Ketika ada pekerjaan yang belum sesuai dengan hatimu, kau ingin terus memperbaikinya.

Namun, aku juga tahu kau sering lelah dengan dirimu sendiri.

Rencana-rencana baru datang silih berganti. Ada banyak hal yang ingin kau lakukan, banyak mimpi kecil yang tiba-tiba muncul, hingga terkadang rencana lama tertunda. Lalu kau berlari mengejar waktu ketika deadline sudah di depan mata.

Aku ingin mengatakan satu hal:

Kau tidak harus selalu sempurna untuk menjadi berharga.

Selama hampir tiga puluh tahun, kau menjadi seorang guru TK. Mungkin karena terlalu lama menjalaninya, kau sering merasa pekerjaan itu biasa saja. Seolah-olah tidak ada yang istimewa dari mengajar anak-anak kecil setiap hari.

Padahal, mungkin kau tidak pernah benar-benar menyadari bahwa tidak semua orang mampu melakukan apa yang selama ini kau lakukan.

Tidak semua orang mampu menemani anak kecil belajar mengenal dunia. Tidak semua orang sabar menghadapi tangis, pertanyaan, tingkah lucu, dan proses panjang tumbuh kembang mereka.

Apa yang kau lakukan mungkin terlihat sederhana bagimu karena kau sudah terbiasa.

Tetapi, terbiasa bukan berarti tidak berharga.

Dan tentang rumah yang hingga hari ini belum dipenuhi suara anak…

Aku tahu, dahulu ada masa ketika hal itu menjadi luka. Ada rasa malu. Ada rasa kehilangan atas sesuatu yang bahkan belum pernah benar-benar kau miliki. Ada pertanyaan yang mungkin berulang kali datang, baik dari orang lain maupun dari dalam dirimu sendiri.

Namun lihatlah dirimu sekarang.

Bukankah Allah perlahan mengajarkanmu cara lain untuk bersyukur?

Ada kebebasan yang dulu mungkin tidak kau sadari sebagai nikmat. Bisa pergi tanpa harus terburu-buru pulang. Bisa beristirahat tanpa khawatir ada anak yang membutuhkanmu. Bisa menentukan banyak hal hanya berdua.

Dulu kau melihatnya sebagai kekurangan.

Sekarang, perlahan kau belajar melihatnya sebagai bagian dari rezeki.

Alhamdulillah, kau sudah sampai pada fase menikmati.

Tentang pernikahanmu…

Aku tahu perjalanan itu tidak selalu mudah.

Kalian datang dari banyak perbedaan—suku, budaya, cara berpikir, watak, dan kebiasaan. Dua manusia yang mungkin pada awalnya mengira cinta dan niat baik akan cukup untuk membuat semuanya berjalan mulus.

Ternyata tidak.

Ada percikan. Ada pertengkaran. Ada luka. Bahkan pernah ada masa ketika kapal yang kalian tumpangi hampir karam.

Kau pernah berdiri di persimpangan, antara bertahan atau melepaskan.

Namun, hari ini kau masih di sini.

Bukan berarti semua luka telah sembuh. Bukan berarti tidak ada lagi rasa sakit. Ada luka-luka lama yang kadang masih terbuka ketika tersentuh oleh keadaan yang mirip.

Tidak apa-apa.

Penyembuhan memang tidak selalu berarti lupa.

Kadang sembuh berarti kita masih ingat, tetapi tidak lagi membiarkan kenangan itu menghancurkan kita.

Dan mungkin benar, ta'aruf kalian belum selesai.

Setelah sekian tahun bersama, kalian masih sedang belajar mengenal satu sama lain. Masih belajar memahami bahasa hati yang berbeda. Masih belajar bahwa mencintai seseorang bukan berarti akan selalu mudah hidup bersamanya.

Terima kasih karena dahulu kau memilih bertahan.

Terima kasih karena ketika kapal itu hampir karam, kau masih bersedia berusaha menyelamatkan dirimu.

Dan terima kasih kepada Allah yang, entah melalui cara apa, kembali menguatkan hatimu untuk melangkah.

Sekarang, di usia 48 tahun ini, mungkin kau tidak lagi memiliki keinginan untuk mengejar terlalu banyak hal.

Mungkin kau hanya ingin hidup sedikit lebih tenang.

Sedikit lebih dekat kepada Allah.

Sedikit lebih mampu memaafkan.

Sedikit lebih mampu menerima bahwa hidup tidak harus sesuai dengan semua rencana yang pernah kau buat.

Dan jika Allah masih memberimu kesempatan untuk bertemu Ramadhan nanti, aku tahu ada satu kerinduan yang kau simpan:

Keinginan untuk benar-benar berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia.

Untuk duduk lebih lama bersama Allah.

Untuk memperbanyak doa.

Untuk membaca firman-Nya tanpa terburu-buru.

Untuk ber-i'tikaf, meskipun hanya di sudut rumah yang sederhana.

Semoga Allah mengabulkan kerinduan itu.

Semoga jika Ramadhan kembali datang, kau tidak hanya bertemu dengannya, tetapi benar-benar menemukan dirimu kembali di dalamnya.

Dan jika suatu hari nanti kau kembali merasa marah, tersinggung, kecewa, atau lelah…

Jangan langsung membenci dirimu.

Duduklah sebentar.

Tarik napasmu.

Dan katakan:

“Aku sedang belajar. Aku belum selesai. Tapi aku tidak berhenti.”

Tidak apa-apa berjalan pelan.

Yang penting, teruslah belajar.
Teruslah bersyukur.
Teruslah bertumbuh.
Dan teruslah mendekat kepada-Nya.

Terima kasih sudah bertahan sampai usia ini.

Terima kasih karena meski tidak selalu kuat, kau tetap melanjutkan hidup.

Terima kasih karena meski hatimu pernah terluka, kau masih berani berharap.

Dan yang paling penting…

Peluk erat dirimu.

Karena setelah semua yang telah kau lalui,
kau pantas mendapatkan pelukan itu.

Semoga hari ini kau menjadi pribadi yang lebih baik dari kemarin.

Dan semoga esok, jika Allah masih memberi kesempatan, kau kembali menjadi lebih baik dari hari ini.

Ya Allah, jangan biarkan aku lelah dalam perjalanan pulang kepada-Mu.

Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Dengan penuh kasih,
Untuk diriku yang sedang belajar menerima, memaafkan, dan mencintai dirinya sendiri.

Bekasi, 25 Agustus 2026

Senin, 22 Juni 2026

Bukan Perpisahan, tapi Awal Petualangan Baru

 


Akhirnya, hari ini tiba juga. Hari di mana harus melepas kalian menuju tempat yang lebih tinggi, lebih penuh warna dan ruang untuk bertumbuh dan berkembang.

365 hari kita merajut hari yang tidak selalu ceria dan semangat. Ada kalanya 1 di antara kalian datang dengan mata basah, ada pula yang tanpa senyum, kepala tertunduk, ada yang langsung mengadu, "Ibu, aku lagi demam.". Tapi kita saling menguatkan, ibu hanya perlu memberi senyum, pelukan, acungan jempol, atau high five.

Kadang, bahkan ibu yang hadir dengan senyum dibuat-buat, kepala dipaksa tegak, kadang tertunduk di meja baca. Dan, tangan mungil kalian yang dengan lembut memijit atau mengelus pundak ibu, yang akhirnya memberikan semangat untuk bersama merajut hari penuh makna.

Tahun ini, terasa lebih istimewa. Kalian hadir di saat raga ibu sudah mulai sering protes, musibah yang membuat ibu harus absen selama hampir 1 bulan mendampingi kalian. Sehingga, ada target yang tidak terselesaikan. The real roller coaster

Kehadiran kalian adalah mood boster ibu. Keceriaan dan semangat kalian adalah obat mujarab bagi sakit ibu. Wajah-wajah teduh kalian adalah pelipur lara ibu. Ah, pokoknya kalian yang membuat 1 tahun ini jadi lebih mudah dijalani.

Akhirnya, kebersamaan fisik kita harus usai. Kini, waktunya ibu melepas kalian dengan segenap doa dan harap, semoga kalian bertumbuh dan bersinar di tempat baru,

Terima kasih telah telah menjadi teman dan guru terbaik, mohon maaf lahir batin atas segala khilaf. 

Bekasi, 22 Juni 2026

Senin, 04 Mei 2026

My Daily Activites


It's Not a Normal Day

Siang itu ternyata bukan hari yang normal, meski awalnya berjalan seperti biasa. Ini dimulai saat seorang bocah lelaki dengan bobot sekitar 21kg dan tinggi 118cm selesai mendapat jam tambahan baca. 

Sambil memakai tasnya, bersiap pulang, dia berkata, "Ibu, kalo nanti aku udah jadi sopir truk, anaknya mau sekolah di sini."

Ngefreeze sekian detik saat mendengar pernyataan itu keluar dari lisan bocah yang Februari lalu baru genap berusia 7 tahun.

Secepat kilat, di benak langsung muncul beragam pertanyaan analisa.

Anaknya siapa?

Kenapa harus sekolah di sini?

Apa arti pernyataannya?

Apa aku masih hidup saat dia punya anak nanti? Saat ini saja usiaku sudah hampir separuh abad.

Tanpa mengubah posisi duduk, karena sedang berhadapan dengan anakku yang lain yang sedang bersiap untuk belajar baca juga, kupastikan padanya, "Maksudnya, anak kamu?"

"Iya." Dia menjawan disertai anggukan, sambil meraih botol minumnya.

Entah sengatan itu datang dari mana, tapi dadaku sesak sesaat dan netraku panas.

Jawaban singkatnya membuat kaki ini segera berdiri dan melangkah menghampiri, "Ya, Allah ... semoga Bu Nianya masih hidup dan sehat, ya?" Tangan kananku mengusap rambut hitamnya, tangan kiriku memegang pundak.

Si pemilik rambut semi cepak itu hanya tersenyum, bisa jadi tidak memahami ucapanku. Karena baginya mungkin, aku akan tetap ada sampai dia kelak punya anak.

Ah, Nak. Usia ibu saat ini hampir saja, 2 tahun lagi, memasuki masa golden age yang sesungguhnya. Entah, besok ibu masih ada atau enggak. Jangan kecewa ya, Nak, jika nanti anakmu bukan ibu yang mengajar, karena dalam doa ibu senantiasa terselip minta husnul khotimah dan dipanggil pulang sebelum usia 60, sebelum renta dan menyulitkan orang lain.

"Kenapa disekolahin di sini, nggak ke TK yang lain aja?" lanjutku memastikan, sambil berjalan bersisian menuju pintu kelas.

Di tengah pintu, bocah itu mengambil tanganku lalu menciumnya seraya menjawab, "Anaknya nggak mau nanti!" kemudian berlalu tanpa mau diantar ke gerbang sekolah, sambil mengumbar sengiran yang melelehkan.

Hari itu, ternyata bukan hari biasa. Hari itu membuat batinku gerimis dipenuhi rasa entah. Senang dan takut memeluk jiwa bersamaan.

Yaa Robb, bocah semacam itulah yang senantiasa menghidupkan asa untuk memiliki buah cinta dalam rahim, meski usia telah senja. Bukankah Siti Sarah pun memiliki Ishaq saat keriput sudah menguasai raga?




Senin, 20 April 2026

My Daily Activities


 Apresiasi yang Tak Terucap

Suasana kelas hari ini agak bising, di dinding jarum jam baru menunjukkan pukul 09.15, tapi beberapa anakku sudah ada yang selesai mengerjakan tugas. Dan aku tidak menyiapkan tugas pengaman, karena berpikir tugas pertama ini lumayan susah mungkin butuh 30 menit atau lebih untuk diselesaikan. Ternyata hanya butuh 10 menit aja, untuk beberapa anak hebatku. Dan mereka mengisi kekosongan tugas dengan 'proyek khasnya', dari sekadar berbagi cerita (ngobrol random)  sampai memainkan alat tulis.

Tetiba, salah satu dari mereka memecah konsentrasiku yang sedang mendampingi anak lain.

"Bu Nia, jangan marah, ya?" Sepasang bola mata mungil menatap menunggu jawab.

"Kenapa?" Lagi mode serius, karena sedang mendampingi Cah Bagus yang lain, jadi balik tanya singkat aja.

"Pensilku, patah lagi." Diangkatnya pensil yang ujungnya telah tiada, "nggak sengaja, jatuh terus keinjek kaki kursi."

Aku diam sejenak, sempat bingung mencerna kalimat awalnya, kenapa anak sekecil itu sampai takut dimarahin untuk kesalahan yang tidak disengaja, apa aku pernah memarahinya, atau ini trauma yang terbawa dari rumah? 

Semua pertanyaan datang bersamaan, membuatku beku.

"Oh." Aku memperbaiki posisi duduk, "Sudah 2x, lho, Say, Bu Nia nggak boleh marah?" pertanyaan yang membuatku berpikir setelahnya lantas bergumam sendiri, pertanyaan apa itu? udah jelas nggak sengaja, kok, masih nanya gitu!

Pensil pertamanya patah saat sedang dimainkan, ujungnya dimasukkan ke dalam sampul penghapus.

"Jangan, Bu." ekspresinya tak mampu kubaca. Tak ada rasa takut di sana, tak ada rasa ragu saat mengakui kesalahan tak disengajanya, keberaniannya untuk mengakui kesalahannya mencerminkan sikap berani bertanggung jawab, Ibu bangga, Nak.

"Baik, Bu Nia nggak marah, silakan ambil pensil lagi, tapi dapet peringatan 1, ya," aku tak lantas menghampirinya, hanya menatapnya sekilas, "Tolong dijaga, jangan sampai patah lagi." Lalu, kembali fokus pada Cah Bagusku.

"Iya, Bu." Bocah Lelaki pemilik rambut ikal itu langsung berdiri mengganti pensil, lalu kembali duduk.

Aku tak berkata-kata lagi, sambil membimbing Cah Bagusku, batinku berisik, malah balik menyalahkan diri, "Kamu kagum dengan keberanian dan rasa tanggung jawabnya, kenapa tidak kamu beri apresiasi?"

"Mana ucapan terima kasihmu yang biasanya terlisan saat anakmu melakukan sikap baik?"

Batinku masih bergejolak, "Kenapa dia seperti memiliki trauma dimarahi, jika melakukan kesalahan? Apa tanpa sadar kamu pernah marahin dia atau anak yang lain?"

"Akh...!" Aku malah merutuk hati, merasa seketika gagal menghargai.

Di awal pembelajaran, aku memberi informasi; bahwa hari ini telah disiapkan pensil dan penghapus baru, dan aku ingatkan untuk tidak memukul meja dengan pensil, serta tidak menusuk-nusuk hapusan dengan pensil.

Karena sekarang anak-anakku semakin kreatif bermain simbolik; pensil dijadikan stik drum dan meja sebagai drumnya, berkreasi dengan hapusan melalui tusukan pensil, dan hal random lainnya.

MaasyaAllah...

Mungkin karena itu, Cah Lanangku sampai bertanya demikian.

Duh, maaf ya, Sayang, Ibu nggak bermaksud mengabaikan kamu. Ibu bahkan bangga sekali atas sikapmu. Dimasa kejujuran terasa mahal, kau malah mengumbarnya. Keren dan terimah kasih telah bersikap baik. Ibu bangga sekali.

Bekasi, 20 April 2026

Sabtu, 18 April 2026

My Daily Activities


Cerita Lalu yang Tak Ingin Berlalu

Hari itu, Kepala Sekolah sedang berkunjung ke sekolah, ia membawakan lontong sayur untukku. 

Saat jam makan, kuputuskan makan bersama anak-anak, kebetulan memang belum sempat sarapan tadi pagi. 

Saat sedang asyik makan, sambil menyuapi beberapa anak yang minta coba, mata kananku terciprat kuah sayurnya, refleks mengaduh sambil memejamkan mata. Makan terhenti, tangan kanan segera menutup mata.

Anak gadis di sampingku bertanya, "Kenapa, Bu Nia?"

Dengan mata yang masih terpejam, kujawab, "Kena kuah sayur, Say."

Tak ada kalimat balasan dari sang penanya, pun tak terdengar reaksi dari anak yang lainnya, hingga ...

"Bu, izin ambil tisu, ya?" Anak lelakiku yang sedang duduk berseberangan bicara hampir bersamaan dengan 2 anak gadisku yang lain. 

Dengan memicing karena masih perih, kupastikan siapa yang bicara, lalu menjawab, "Iya, silakan."

Kupikir, mereka serentak ambil tisu untuk keperluan sendiri, mengelap mulut atau meja yang kena tumpahan minuman atau makanan, ternyata tidak. 

Si Bujang, menyelipkan tisu ke tangan kiriku, Si Gadis mengusap mataku dengan tisu.

"Terima kasih!" Ujarku.

Aku, ambil tisu dari tangan gadisku dan melanjutkan mengusap mata sendiri.

Sambil mengusap, aku terus mengerjapkan mata beberapa kali.

"Bu Nia keluar air mata, masih perih, ya?" Tanya Bujang di seberang sana yang tadi mengambilkan tisu.

"Iya." Jawabku singkat.

Padahal, perih itu hanya sekejap saja telah hilang saat tisu mengusap mata, karena cipratan sayur sangat sedikit. 

Padahal, perih itu telah berganti haru yang menggelayut di dada dan menghantarkan hangatnya ke netra, hingga embunnya mencair dan membasahi bulu mata. Tapi penjelasan itu tak kuberikan, cukup kusimpan dan ukir dihati.

Nak, terima kasih untuk perhatiannya. 

Terima kasih untuk sayangnya.

Sungguh, ini bukan air mata sedih, tapi pancaran kebahagiaan.

Sungguh, ini luapan suka cita karena Allah menghadirkan kasih bukan hanya seorang anak tapi lebih, meski bukan lahir dari rahimku.

Nak, terima kasih.

Bekasi, 18 April 2026

Kamis, 25 Desember 2025

Pillow Talk


 "Ndhuk, maafin Mas, yo, saiki wis ra iso kerjo!"

Sejak kejadian 3 bulan lalu, malam-malam pasangan milineal itu sekarang sering diawali dengan kalimat pesimis ini. 

Dengan lembut, tangan kekar pria bersuku jawa itu membelai anak rambut di sekitar wajah istrinya.

Wajah yang tak pernah tersentuh make-up, bahkan bedak sekalipun. Kerutan halus yang mulai nampak di sekitar mata dan dahi, juga plek hitam yang sudah hampir menutupi pipi chubbynya, tidak membuat cinta dan sayangnya berkurang.

Lalu, pria bernama Nazar itupun dengan lembut mendaratkan kecupan di dahi pemilik manik hitam yang telah ia halalkan 27 tahun lalu.

"Bukan nggak bisa, Mas. Belum waktunya, kan masih sakit," perempuan yang separuh hidupnya sudah ia baktikan untuk pria yang sempat ia tolak, kini gantian mengelus lembut wajah pria yang tak kalah chubby dengan dirinya. "kalo Mas udah sehat juga in syaa Allah akan bisa kerja lagi." Dengan lembut, ia mengusap mata lelakinya yang basah. Dalam keadaan seperti ini, prianya menjadi melankolis.

Tiga bulan lalu, 19 September 2025, Nazar mengalami kecelakaan kerja. Ia terjatuh dari tangga setinggi 4 meter saat akan memperbaiki atap tempatnya bekerja. Kejadian itu membuat ia kehilangam gigi taring bawah kiri dan dua gigi di sampingnya,  6 gigi bagian atas kiri pun goyang, bibir pecah dan bolong dengan 9 jahitan luar dan dalam, jempol kiri robek mendapat 6 jahitan, betis bolong dengan 5 jahitan saja, lutut kiri bergeser, dan bonus 2 tulang selangka lepas dari engselnya. Peristiwa ini membuatnya harus istirahat selama 6 bulan lagi ke depan. 

Nazar yang kini berusia 55 tahun, adalah seorang tukang bangunan. Musibah ini membuatnya tidak bisa bekerja dan menghasilkan uang.

"Mas, inget nggak? Awal kita nikah juga Mas kan belum bekerja, dan keuangan kita masih sangat kekurangan, tapi Allhamdulillah kita masih bisa makan dan hidup baik sampai saat ini, kan?"

Bibir Nazar terkatup. Benaknya berisik mengutuk diri, sementara matanya tenggelam ke dalam manik gemintang sang istri, ruang yang menariknya kembali ke dua dekade silam. Ia teringat masa-masa menjadi sopir angkot tembakan, saat rasa bersalah menghimpit dadanya karena membiarkan perempuan itu mengajar di dua sekolah sekaligus demi dapur mereka. Dengan jemari gemetar, ia kembali membelai rambut istrinya yang berantakan tertiup kipas angin, seolah ingin menghapus lelah yang mungkin masih tersisa di sana. "Maaf, ya, dulu kamu harus secapek itu," bisik Nazar nyaris tak terdengar.

"Mas, kalo Allah masih ngijinin kita hidup, Allah pasti jamin rezeki kita. Meski kita nggak tau arahnya dari mana." Cinta, panggilan wanita berkulit sawo matang yang kini berusia 50 tahun, balas membelai rambut ikal milik suaminya.

"Besok kamu mau belanja apa? Kan uang kita tinggal 30.000!" Nazar memperbaiki posisi kepalanya agar semakin dekat dengan istrinya dan menghidu aroma shampo dari rambut istrinya.

"Besok nggak usah belanja, kan tadi Mba Arumi ngasih tahu sama daun ubi, terus Mba Shinta bawain tahu juga sama kerupuk. Lauk dan sayurnya udah komplit, kan?" Gantian, kini giliran netra Cinta yang berdansa di manik coklat pria yang ia sayang dengan separuh jiwanya.

Siang tadi, rumah mereka ramai dikunjungi kakak-kakak Cinta, dan mereka masing-masing.  membawa buah tangan berupa bahan masakan. Padahal paginya, Cinta dan Nazar masih bercanda bahwa besok sepertinya mereka hanya akan makan nasi dengan lauk garam saja, karena qodarulloh; telur, cabe, bawang, mereka telah habis dimasak tadi pagi untuk lauk hari ini.

"Kebukti, kan, Mas, kalo Allah mau ngasih rezeki, kita nggak mesti nyari sana- sini, tinggal nunggu dengan tawakal aja. Yang penting setiap harinya kita udah berusaha, bukan males-malesan." 

Cinta memeluk raga yang masih terlihat kekar meski usianya menjelang senja.

"Oh, iya, Mas. Gimana, kalo pohon tin yang Mas tanam selama ini kita jual?" Cinta melepaskan pelukan, binar matanya menyapu seluruh wajah tegas Nazar.

"Jangan! Itu kan biasanya buat bagi-bagi temanku, atau temenmu, atau sodara kita!" Nazar menghempas tangan Cinta yang masih menggenggam lengannya.

"Iya, sekarang kan belum ada yang minta, jadi nggak papa lah dijual, buat nambah-nambahin uang belanja besok. Kan, gajianku masih lama!" Antusias, Cinta menajamkan pandangan, mencari jawaban di mata suaminya.

Cinta adalah seorang guru, pagi hari ia mengajar TK di sebuah lembaga pendidikan islam dan sore hari mengajar bimbel di rumahnya. Dengan honor jauh di bawah UMR, Cinta berusaha maksimal menutupi semua kebutuhan rumah tangga. 

"Mmm... Boleh!"meski ragu, Nazar akhirnya menyetujui ide istrinya, menjawil gemas hidung mungil yang nampak melebar saat pemiliknya sedang tersenyum.

Cinta langsung mengambil hp milik suaminya, membuat SW jual pohon tin. Dan tak lupa, membuat SW di hp miliknya juga.

"Selesai!" Mata Cinta menyipit dan bibirnya membentuk lengkungan pelangi terbalik. Cepat, ia kembali memeluk suaminya.

"Aku jadi inget kejadian bulan lalu." Nazar gegas menjauhkan jangkauan istrinya, agar ia dapat memandang lebih leluasa wajah teduh milik perempuan berhidung mungil di hadapannya. "Bulan lalu, kita dapet transferan dari Fitri, juga dapet bingkisan dari teman SDku yang nggak pernah terlintas di benak akan berkunjung karena udah lama nggak saling kontak."

"Itulah Mas, namanya qodarulloh. Tanpa meminta, Allah tau kebutuhan kita."

Kecupan di mata, mengakhiri pembicaraan malam itu. Mereka terlelap dengan keikhlasan atas segala takdir yang telah Allah berikan, dan yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja selama mereka terus berusaha meraih ridho Allah. 

Everything gonna be okay with Allah.

❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤

Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. 

Ath Tholaq: 2-3


Selasa, 29 Juli 2025

Tentang Rasa

 


Kau bilang aku terlalu sensitif.
Kau bilang aku terlalu mudah tersinggung.
Tapi kau tak pernah benar-benar tahu,
berapa luka yang sudah kau sisipkan satu per satu dalam hidupku,
seolah aku ini tempatmu melepas beban,
tapi bukan tempatmu peduli.

Luka yang kau beri, berulang kali,
tidak semudah itu hilang hanya karena kau ucap “maaf.”
Kau pikir semua akan pulih seperti semula?
Kau kira hanya karena tidak berdarah, maka tak sakit?

Kau memang tak menancapkan belati,
tapi suara tinggimu,
nada kasarmu,
cara kau meremehkan,
cara kau diam saat aku butuh penjelasan,
semua itu…
lebih tajam dari benda apa pun yang bisa kau pegang.

Itu menembusku.
Bukan hanya hati, pun jiwaku.

Dan yang paling menyakitkan?
Kau tak pernah sungguh-sungguh bertanya,
karena kau terlalu sibuk merasa tak bersalah.

Seharusnya…
seharusnya kau sadar diri.
Aku pernah memaafkanmu.
Bahkan lebih dari sekali.
Tapi luka lama tak pernah benar-benar hilang.
Ia mengering, iya,
tapi bekasnya tetap ada, menempel.

Dan ketika kau kembali dengan luka yang baru,
bertubi-tubi,
tak beri jeda,
kau robek lagi tempat yang sama.

Lalu kau berharap aku memaafkanmu lagi, cepat-cepat, seperti dulu?
Tanpa protes?
Tanpa air mata?

Halu!

Kau hidup dalam ilusi bahwa semua akan baik-baik saja, hanya karena aku diam.
Padahal diamku itu adalah jerit yang tak sanggup lagi diucap.

Kau pikir ini soal maaf?
Tidak!
Ini soal luka yang sudah tak punya ruang lagi untuk kau huni seenaknya.

Dan kali ini,
aku tidak akan menjawab dengan senyuman palsu atau pengampunan tergesa.
Kali ini, aku memilih bicara, untukku.
Bukan untukmu.

BilikRindu, 29 Juli 2025