Sabtu, 17 Agustus 2019

Tips Memasak Daging Kambing Empuk, Hemat Gas, dan Bebas Prengus

Oleh: Nia Kurniawati


Mudah-mudahan artikel ini nggak terlalu telat, ya, Gengs. Meski Idul Adhanya sudah lewat, semoga masih ada sisa daging kambing yang belum diolah, atau bisa juga dijadikan resep untuk tahun depan.

Kenapa telat? Karena saya harus mempraktekkannya terlebih dahulu. Dan, daging kambing sulit didapatkan di pasar traditional, kecuali seperti saat Idul Adha.

Daging kambing banyak dikeluhkan aroma amis dan prengusnya. Oleh karena itu, ada sebagian yang tidak menyukai daging kambing karena aromanya ini. Nah, di artikel ini, saya bakal bagiin tips dan triknya bukan hanya menghilangkan aroma prengus. Tapi juga, agar daging kambing empuk, hemat gas, dan pastinya no ribet.

Oke, Gengs, kita langsung cuss aja intip tips dan triknya.

1. Daging kambing yang akan diolah tidak perlu dicuci terlebih dahulu. Tapi, saya kok nggak tega ya, kalo langsung memasaknya tanpa proses mencuci.

Untuk itu, saya menyiapkan dua panci sekaligus.
Satu panci berisi air yang sudah diberi bumbu (optional). Satu panci lagi berisi air biasa, sebanyak setengah panci.

2. Saat panci yang berisi air biasa telah mendidih, celupkan daging kambing satu persatu, sambil digoyang-goyangkan untuk menghilangkan pasir atau rumput yang mungkin terbawa. Langsung tiriskan. Buang air sisa rebusannya.

3. Potong-potong sesuai selera, lalu masukkan dalam panci berisi bumbu.

4. Panaskan panci yang telah berisi daging dan bumbu sampai mendidih.

5. Lima menit setelah mendidih, matikan kompor selama 30 menit dalam keadaan panci tertutup. FYI, meski kompor telah dimatikan tapi proses pemasakan tetap berlangsung.

6. Kemudian, masak kembali daging selama tujuh menit.

7. Daging kambing bebas prengus sudah bisa disajikan.

Nah, mudah dan no ribet, kan, Gengs? Selamat mencoba, ya.

*Note: saya memasaknya langsung saat baru dapet daging kambing. Cuma baru sempat menuliskannya. Kalau daging yang sudah masuk kulkas, belum dicoba. 🙏

Selasa, 30 Juli 2019

Inilah Suratku

Bismillah

Ya Robb
Aku tahu kehidupan adalah sekolah yang tak pernah tuntas, hingga kematian menjemput.

Sekolah tentu ada guru dan siswanya. Takdir yang telah terjalani, memberikan banyak pengalaman. Namun, sering kali aku sangat telat mengerti pelajaran yang diberikan dalam tiap pengalaman. Hingga sesal sering menghampiri.

Ya Robb
Di ujung penutup ini, baru kusadari dengan segala sesal. Semoga taubat dan istighfar mampu menghapusnya. Karena kutahu, ampunan dan kasih sayang-Mu Maha Luas.

Ya Robb
Di akhir masaku ini baru kutahu dengan penuh sesal, ternyata semua bersumber dari sombongnya diri. Sifat yang selalu kuingkari ada dalam diri. Karena aku tahu aku tak boleh memilikinya. Tapi, nyata sombong itu selalu bersemayam. Hingga bertahta cantik dengan halusnya di sanubari.

ASTAGHFIRULLOHAL 'ADZHIM

Ya Robb
Izinkan aku pulang dengan fitri, agar Engkau berkenan meringankan azabku dan menarikku segera lalu mengumpulkan aku bersama golongan orang-orang sholeh.

Ya Robb
Izinkan aku menunaikan kewajibanku hingga tuntas, agar kembaliku tak membawa banyak noda.

Ya Robb
Dengan penuh rasa syukur dan taubatku, kuikhlas melepas hal yang telah membuat sombongku terus menggelayut.

Ya Robb
Sampaikan maaf pada orang terkasihku. Karena kutaksanggup menyampaikan.

Ya Robb
Limpahkanlah segala berkah pada kekasih dan sahabat-sahabat yang  telah memberikanku kesadaran, dan tak pernah bosan menuntunku dari kegelapan.

Bismillahi awwaluhu wa akhiruhu

Jumat, 12 Juli 2019

Persahabatan Pitki dan Tupi



Oleh : Nia Kurniawati
Ilustrator: Ina Khoirunnisa (Jyhan Rashida)

"Ibu ..., Kakak ..., jangan tinggalkan aku!" Pitki, si anak Pipit teriak memanggil ibu dan kakaknya yang terbang mencari makan.

"Uuh! Aku bosan berada di sarang terus. Tapi, bagaimana aku akan terbang?"  Pitki mengoceh sendirian.

Dia terus memutar kepala dan badannya, melompat-lompat, dan sesekali mematuki sarangnya, yang berada di antara batang pohon beringin. Dia berharap sahabatnya, Tupi, si anak tupai, akan segera datang.

Pitki terus teriak berusaha memanggil sahabat, kakak atau ibunya. Berharap salah satu dari mereka segera datang.

Mentari terus beranjak naik, hangatnya kian terasa menerobos dedaunan dan menerpa sarang Pipit. Ia mulai gelisah dan takut berada sendirian di sarang.

"Pagi Pipit, mengapa kau berisik sekali hari ini?" sapa Tupi sambil mengibaskan ekor dan menggaruk hidungnya.

Pitki kaget bercampur senang melihat sahabatnya tiba-tiba muncul. Tapi, ia menutupi kegembiraannya itu, dan berlagak marah pada Tupi. "Pagi? Ini hampir siang Tupi. Kenapa kau lama sekali?"

"Maaf, Pitki. Aku harus membantu ibuku mengumpulkan makanan, karena sebentar lagi musim penghujan akan datang.” Tupi mengibaskan ekornya, “sulit bagi kami mencari makan di musim hujan.”

“Oh begitu, ya. Baiklah, kau aku maafkan.” Pipit tersenyum, “saat musim hujan nanti, aku pasti kesepian.” Pitki menundukkan kepalanya.

"Tidak, kalau kau bisa terbang. Kau akan selalu bersama keluargamu sepanjang hari." Tupi berusaha menepis kesedihan sabahatnya

"Tapi, aku tidak bisa terbang."

"Belajarlah! Bukankah Kakakmu sudah sejak 2 minggu lalu bisa terbang? Kamu pasti bisa!” Tupi menyemangati Pitki.

"Kemarin, aku sudah mencoba, bahkan aku hampir jatuh."

"Apa kau ingin sendirian di sarang?"

"Aku tidak mau!"

"Kalau begitu, belajar lagi."

"Kalau aku jatuh bagaimana?"

"Kau belum mencoba, kenapa banyak alasan? Jangan takut, aku akan membantumu."

"Bagaimana kau bisa membantuku? Kau kan tidak punya sayap?”

“Tapi, aku bisa melayang menangkapmu Pitki,” Tupi terus saja menyemangati Pitki. Ia tidak mau temannya gagal.

“Baiklah, aku akan mencobanya.”
Pitki berusaha mengepakkan sayapnya.

"Tidak bisa!" teriak Pitki pesimis.

"Ayo! Coba sekali lagi!"

Pitki berusaha sekali lagi. "Sayapku sakit!"

"Jangan menyerah! Kau harus kuat, angin musim huja  nanti akan lebih kuat. Kalau kau malas belajar terbang, suatu saat sarangmu akan tertiup angin kencang dan kau akan jatuh bersamanya. Lalu ranting akan menimpa badanmu. Apa kau ingin seperti itu?" Tupi berusaha menyemangati, dengan memberikan gambaran buruk, yang akan dihadapi Pitki bila ia malas belajar terbang.

"Tidak!” Pitki menggelengkan kepalanya kuat-kuat, “baiklah aku akan mencoba lagi."

Pitki terus berusaha, dia tidak ingin ditinggal sendiri terus. Dia juga tidak mau mati konyol saat musim hujan nanti.

"Ahai! Teruslah Pitki, yeee ...!" Tupi teriak kegirangan sambil melompat dan terus mengibaskan ekornya, demi dilihatnya Pitki sudah melayang di atas sarangnya.

"Pitki, kau pasti bisa! Ayo condongkan badanmu, arahkan kemana saja kau mau ...!" teriak Tupi menyemangati anak Pitki.

"Bagaimana kalau aku jatuh?"

"Aku akan menangkapmu Anakku.” Ibu Pitki berseru dari atas, sambil terus mengangkasa mengitari sarangnya.

"Ibu, kau sudah datang. Lihatlah Ibu ...." Paruh Pitki terbuka lebar. Ia gembira melihat kedatangan ibunya.

"Ayo Adik, aku akan mendampingimu." Ternyata, kakaknya juga sudah datang.

Tak lama kemudian ....

"Tupiii ..., aku sudah bisa terbang." Pitki teriak dari atas pohon. Ia senang sudah bisa terbang.

Pitki pun mengangkasa bersama keluarganya, mengelilingi pohon tempatnya bersarang. Kini, ia tidak perlu cemas lagi akan tertinggal sendiri di sarang. 

"Terima kasih Tupi ...!" teriak Pitki lagi.

Tupi tersenyum bahagia melihat temannya sudah bisa terbang, “teruslah terbang Pitki, semangat ya!” 

Tupi pun, segera melompat ke pohon lain, untuk berkumpul bersama ibunya.

Senin, 01 Juli 2019

Dear Juli

By: Nia Kurniawati

Aku telah ihklas meninggalkan Juni, dengan segala manis dan pahitnya. Semoga engkau sudi menerima diri yang berjelaga ini, agar mampu menyongsong Agustus dengan sukacita.

Bersamamu akan kubasuh debu, hingga mengabu lalu sirna. Dengan segala upaya kucoba istiqomah dalam senyum nan bahagia. Sedikit demi sedikit akan kurobek topeng, agar wajah dan hatiku mantap bermunajat pada-Nya.

Juli, saksikanlah si pandir ini terus berbenah. Memantaskan diri untuk pertemuan yang rahasia, namun pasti.

Bekasi, 1 Juli 2019

Jumat, 28 Juni 2019

Cara Membuat Ketupat, No Ribet dan Hemat Gas


Hai, hai!
Emakers yang dirahmati Allah, maafkeun, ya. Pasca sukses mencoba resep 5.30.7 membuat Ketupat , lebaran lalu, aku lupa berbagi tips dan triknya, padahal sudah janji. Heuheuu ....

Tapi, nggak ada yang nanya or nungguin, sih. Nggak papa lah, ngayal dikit kalo blognya itu udah banyak viewersnya dan sedang dinanti tayangnya. Nggak dosa, kan? Hehehe ....

Kemon, lanjut.

Jadi gini, aku tuh kan tipe cewek yang sedikit pemalas, sedikit lho, meski sudah menikah. Nah untuk urusan masak-memasak lebih sering beli. Coz, harga beli lauk matang jika dibandingkan dengan bahan mentahnya, ternyata lebih murah lauk yang sudah matang.

So, sebagai istri bersuami penghasilan pas-pasan; pas mau sedekah ada, pas mau beli bakso ada, pas mau beli buku ada, pas mau ikut kelas online ada, pas mau apa aja pokoknya ada. Aku lebih milih beli lauk matang. Apalagi kalo untuk masak yang kayaknya ribet banget, semacam ketupat dan kembarannya, rendang beserta kawan-kawannya, aku selalu menghindar.

Nah! Setelah baca postingan kakak di grup WaG keluarga tentang metode 5.30.7, aku yang punya jiwa kreatif; ssttt ... dilarang bully, penasaran pengen coba. Dan ternyata, alhamdulillah berhasil. Langsung deh pamer. Semua grup aku kirimin foto keberhasilan. Hahaha ....

Udah, ah! Yuuk langsung intip tips n trik bikin ketupat dengan metode 5.30.7.

1. Siapkan bungkus ketupat. Aku cuma nyiapin 10 bungkus, karena masih coba-coba. Cuci, lalu tiriskan.
2. Siapkan beras. Aku pake beras merah yang sudah dicampur beras putih yang biasa buat masak, satu cangkir gelas plastik. Cuci bersih, lalu tiriskan.
3. Isikan beras ke dalam selongsong ketupat, sampai setengah bagian.
4. Masukkan dalam panci, isi air sampai menutupi seluruh ketupat. Tutup.
5. Nyalakan kompor.
6. Setelah mendidih, tunggu 5 menit lalu matikan kompor.
7. Diamkan selama 30 menit, dalam keadaan panci tertutup. FYI, meski kompor dalam posisi off, tapi proses pematangam tetap terjadi.
8. Setelah 30 menit, nyalakan kembali kompor selama 7 menit.
9. Matikan kompor dan taraaa ..., ketupat sudah matang, kenyal, dan padat.
10. Tiriskan dengan cara digantung supaya tidak mudah basi. Jika sudah dingin, bisa masukkan kulkas. Tinggal dihangatkan sesaat akan dikonsumsi.

Alhamdulillah, cara ini sukses. No ribet! Dijamin hemat pemakaian gas.

Tahukah, Emak. Selama memasak, saya sampai bikin alarm di hp, supaya tidak terlewat. Wkwkwkwk ....

Metode 5.30.7 ini juga katanya bisa diaplikasikan untuk memasak bahan lainnya yang terkenal lama prosesnya, seperti; burjo, daging, ayam, lontong (kembarannya ketupat),  etc.

Oh, iya. Sebagai informasi tambahan. Saya menggunakan panci biasa, karena belum punya presto. Buat Emak yang udah punya panci presto kayaknya metode ini nggak perlu dipake. Karena presto berdaya tekanan uap tinggi, yang mampu membuat masakan lebih cepat matang dan empuk.

Selamat mencoba, ya, Mak. Semoga sukses, dan jangan lupa sharing balik yaaa... pengalamannya.

Bekasi, 28 Juni 2019

Senin, 24 Juni 2019

Bintang Kecil


Mereka adalah bintang-bintang kecilku. Kebanggaanku. Yang dengan menatapnya, membangkitkan gelora asa. Lantas segera melangitkan harap, semoga aku diberi serupa dengan mereka.

Mereka istemewa, memiliki tahta tersendiri dalam sanubariku.


                   

Ada Ananda Djasmine, yang paling semangat, banyak, bagus, dan kuat hapalannya. Semoga kelak bisa menghadiahkan mahkota cahaya pada Mama dan papa.

Putri cantikku, Tiara, hadir berjiwa dewasa dalam sosok mungilnya. Lisan yang selalu memuji dan menyenangkan hati, jemari yang terkadang memijit pundak tanpa diminta, membuat aku bangga memilikinya meski hanya satu tahun.

                  

Putri manis berbulu mata lentik, Farah. Tatapan, ucapan, lakunya lembut. Membuat siapa pun yang memandang, ingin mendekap, menatap matanya, dan jatuh cinta.

Adalah Awa, putri manjaku. Dengan kemanjaannya telah membuatku merasa menjadi seorang ibu sejati. Ketekunannya belajar, telah menghantarkannya pada metamorfosis yang indah.

Nadia, putri mungil berlesung pipit, yang selalu ceria dan tersenyum setiap kali bersitatap. Penyabar dan ramah pada semua teman, membuatnya jadi rebutan. Memandangnya membuatku ingin memiliki dan membawanya pulang.

Vika, putri terlamaku. Kemandiriannya membuatku berkali-kali mengacungkan jempol. Kemampuannya menghadapi masalah dengan teman, membuatku tenang dan bangga.

Keke, menatap putri cantik yang satu ini, selalu mampu meredam emosi yang sering bergejolak saat hati tak siap menghadapi keaktifan anak yang lain. Bukan pendiam, karena terlihat sering membimbing dan menasehati teman yang lain, tapi menjaga cakap agar tak lepas sembarangan.

Satu lagi putri tomboyku, Muthia. Kehalusan pekerti, kesantunan, dan kemandiriannya membuaku bangga. Tingkah aktifnya yang lebih senang bergaul dengan teman pria, membuat aku seperti memandang cermin, Nia kecil. Dan lengkung pelangi terbalik pasti tercipta di bibir kami berdua, saat mengingatkannya untuk lebih memilih teman perempuan.

Pria kecilku, Adit, membuat perpisahan terasa sulit dan berharap tidak terjadi. Pelukan serta ucapannya yang tak mau berpisah, berhasil mencipta haru di relung kalbu.

Naufal, putra bongsor berlesung pipitku ini, selalu membuatku tersenyum. Tingkah riang dan kepandaiannya merayu agar terhindar dari peringatan, selalu berhasil menyadarkan keegoisanku untuk selalu membumi dan menundukkan amarah.

Putra kecilku, Majid. Pembawaannya yang tenang, kalem, cool, rasa-rasanya akan mudah membuat para gadis jatuh cinta kelak. Kreatifitasnya dalam mencoba warna dan bermain simbolik membuatku tersadar, dunia ini memang indah. Apa pun yang terjadi, tersenyumlah, seperti Majid, yang bisa membuat semua hal menjadi menyenangkan.

                 

Ada juga sosok pria kecil layaknya detektif Conan, tokoh kartun favoritku, Zahran. Dia akan terus mengejarku jika jawaban yang diberikan belum memuaskannya. Pelukan dan ciuman kecilnya selalu melengkapi rasa memiliki anak. Haru sering kali mampir dan membuat netraku mendung, tiap kali dia bergelayut manja dan minta dipangku.

Putraku yang lain adalah, Yudhis. Pendiam, tak banyak cakap, namun sering mencuri pandang. Dan lengkung pelangi terbalik pasti tercipta di wajahnya, saat bersitatap, hingga membuatku salah tingkah. Apa yang aneh dengan diriku hari ini? Repleks, memeriksa keadaan diri. Membuatku GR, dan merasa sangat diperhatikan. Senyum tulusnya, membuatku selalu merinduinya setiap hari.

Barra, pria kecil keturunan Aceh ini sering membantu menjaga kelas, saat aku ada keperluan meninggalkan kelas sesaat. Membuatku tenang, dan senang mengandalkannya.

Putraku yang lain adalah Bryan. Sosoknya yang aktif dan periang, mampu membuat suasana kelas menjadi hangat. Kecekatannya dalam menjawab pertanyaan, membuat semua kepala temannya menoleh dan bertepuk tangan.

Satu tahun membersamainya, seakan sangat singkat. Rasanya baru kemarin, saat di antara mereka ada yang masih harus kudekap dan gendong, karena harus berpisah sesaat dengan Mama. Kini, rasanya aku yang harus dipeluk untuk menghilangkan resah karena harus berpisah dengan mereka.

Rasanya baru kemarin, aku menghapus rinai yang membanjir di pipi mungil mereka, ketika pintu kelas mulai ditutup, dan punggung Mama tak nampak lagi. Kini, rasanya aku yang butuh usapan jemari-jemari mungil itu untuk menghapus haru yang bergelanyut saat harus melepas mereka ke samudera kehidupan.

Rinai berkumpul di pelopak mata, bulirnya turun perlahan, saat kenyataan itu hadir di depan mata.

Ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Meski hati tak menghendakinya, tapi demi kebaikan bintang-bintang kecilku, kuikhlaskan untuk tidak memeluk mereka lagi.

Beberapa saat lagi, mereka akan melesat , menggapai cita dan asanya. Aku, cukup puas mengantarkan mereka di gerbang awal ini, Raudhatul Athfal.

Selamat mengangkasa bintang-bintang kecilku, doa ibu bersama kalian.

Bekasi, 25 Juni 2019.

Selasa, 11 Juni 2019

Buat Kamu yang Sedang Putus Cinta, Ikhlaskan atau Kamu Kena TBC


Membahas cinta sejoli memang tak 'kan pernah selesai. Tak cukup satu buku mengisahkan berbagai romantikanya. Dari mulai zaman Adam dan Hawa, hingga kini SBY dan Ani. Terus terkisahkan tiada henti, selama manusia masih menempati bumi.

Ada kisah yang berakhir tragedi seperti Romeo dan Juliet, ada pula yang bertabur bunga dari awal hingga terpisahkan maut seperti Ainun dan Habibie.

Ada yang ditinggal karena pengkhianatan, terpisah karena adat, tak dapat bersatu karena agama, tak dapat bersanding karena maut, dan kisah kelam lainnya.

Jika saat ini, Sobat sedang berada dalam kisah kelam --putus cinta, jangan bermuram durja.

Kalo terus meratapi, yang ada bukannya bahagia, tapi TBC (Tekanan Batin karena Cinta). Nah, bahaya 'kan!

Sebelum kena TBC akut, yuuk kita cegah, dengan mencari hikmah atas putusnya cinta.

Hikmah Putus Cinta

1. Memperingatkan kita bahwa pacaran itu salah

Dalam Surah Al Isra (17) ayat ke 32, Allah berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰۤى اِنَّهٗ كَا نَ فَاحِشَةً ۗ وَسَآءَ سَبِيْلًا
"Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk."

Kenapa pacaran dikatakan mendekati Zina?

Kalo pacaran pasti  kamu pengennya ketemuan terus, 'kan? Nggak ketemu maunya teleponan terus. Kalo udah ketemu, deket-deketan, pandang-pandangan, pegang-pegangan, cium-ciuman, peluk- ..., stop! Hehehe... nanti kebablasan.

Nah! Aktivitas seperti itu yang dikatakan mendekati zina.

Tapi 'kan, aku pacarannya islami lho, nggak pake deket-deketan apalagi pegang-pegangan.

Ada yang begitu?

Heemmm... pacaran islami itu cuma ada setelah diikat akad, jadi mo ngapa-ngapain aja bebas dan berpahala. Asal nggak ngelakuinnya di depan publik aja.

Terus?

Kalo mau menikah, dan sudah benar-benar siap, ya, ta'aruf (kenalan) aja, jangan pacaran. Ingat, ta'aruf itu beda lho, sama pacaran.

So? Enough!

2. Doi bukan jodoh kita

Ini yang harus kita yakini, Allah nggak akan mengambil sesuatu yang baik kecuali diganti oleh yang lebih baik.

Percaya deh, kalo jodoh mah sejauh apa pun pasti akan mendekat. Kalo bukan jodoh, meski pun dekat, ya, pasti akan menjauh.

Coba renungkan ini:

“Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya.” (Imam Syafi’i)

3. Mengajarkan kita untuk  bersabar.

Nggak akan mungkin dibilang sabar kalo belum pernah diuji. Anggap ini ujian, ikhlasin aja. Kalo Allah mau ngasih rezeki pasti komplit sama pembungkusnya. Ibarat permen, kita cuma mau nerima permen yang masih utuh dalam kemasannya, 'kan? Karena lebih yakin akan kebersihan dan kualitasnya.

Jodoh itu rezeki, jadi, terima putus cinta ini sebagai ujian/bungkus permen, dibalik itu pasti ada permen manis untuk kita.

Allah SWT berfirman:

فَاِ نَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۙ 
"Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan,"
اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۗ 
"sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."
(Al Insyirah ayat 5 dan 6)

Ini juga harus jadi pegangan:

“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik .” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shohih)

See! Janji Allah itu pasti, tugas kita cuma yakin.

Nah, kalo sobat udah paham hikmahnya, cuslah move on.

Langkah-langkah Move On

1. Perbaiki sholatnya

Minta pertolongan dengan sabar dan sholat. Kalo udah bisa bersabar, kencengin dah tuh sholatnya. Geber pake rawatib, dhuha, dan tahujudnya jangan ketinggalan.

Allah SWT berfirman:

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِا لصَّبْرِ وَا لصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 153)

2. Akrabkan diri dengan Al Qur'an

Al Qur'an bisa menjadi obat, sakit fisik maupun hati. Perbaiki bacaannya, banyakin tilawahnya, tingkatin hafalannya, dan amalin.

3. Perbanyak dzikrulloh

Kalo lagi putus cinta, banyak yang suka pada sering melamun, mikiran mantan, mikiran pilihannya mantan, mikiran kenapa begini, kenapa begitu, dan lain-lain. Ini bahaya! Bisa ngerusak hati dan yang paling serem, kerasukan. Bukan nakutin, cuma ngingetin aja.

Daripada, daripada, mendingan perbanyak mengingat Allah aja. Dijamin bikin tentrem dan sehat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (Qs. ar-Ra’du (13): 28).

4. Hadirilah majelis taklim

Ini nggak boleh dilupakan. Saat kita sedang terluka, jangan menyendiri. Cari tangan yang bisa menggenggam kita keluar dari jurang nestapa.

Agar move onnya terjaga, perlu membersamai orang-orang sholeh yang bisa menasihati saat kita sedang terpuruk. Dengan hadir di majelis taklim, menimba ilmu, dan berkumpul dengan orang sholeh, insyaAllah akan membuat kita semakin kuat.

Oke? Alhamdulillah. Selamat bebenah hati.

Bekasi, 11 Juni 2019.

------ 💘@@@@@@@💘 ------

Yakin Udah Move On?
By Nia Kurniawati

Katanya sudah melupakan, tapi selalu berkata dan menulis tentang dia.

Katanya sudah move on, tapi selalu peduli apakah dia acuh atau tidak.

Katanya ingin bangkit, tapi selalu  meratapi.

Memang susah urusannya kalo patah hati, apalagi soal pengkhianatan. Kita masih sayang, tapi tak sudi berbagi. Lalu, membiarkannya pergi membawa separuh hati. Kita meradang, mereka bahagia.

Setiap hari menanya kabar, bukan padanya, tapi dinding sosmed. Apa guna?

Saban menit mengoceh, seolah diri paling menderita.

Saban jam berkoar, seolah dia paling durjana.

Bila seperti itu, kapan luka akan sembuh? Ocehan dan koaran ibarat garam yang ditabur pada luka, bukan sembuh tapi malah semakin perih.

Lalu, bagaimana? Melupakan jelas tak mungkin apalagi jika dia adalah cinta pertama.

Peluk luka itu, balut dengan doa semoga dia bahagia dan kau pun bahagia. Taburi dengan syukur, perpisahan terjadi sebelum ijab mengikat diri. Lantas berkemas, memantaskan diri untuk pengganti yang pasti lebih baik. Hiasi dengan amal sholeh terbaik.

Tak mudah memang, tapi bukan sesuatu yang mustahil. Jangan hiraukan lagi apakah dia masih memedulikan kita atau tidak. Apakah dia terus menyelidik atau tidak. Apakah dia bahagia atau tidak. Apakah dia ... stop!

Lekas, lekaslah berkemas!

Bekasi, 11 Juni 2019