Sabtu, 06 Juni 2020

Badai Pasti Berlalu


Meski terus mengikuti berita dan perkembangan penyebaran Virus Covid-19 melalui media online, aku masih saja terkejut; ketika akhirnya daerah tempat tinggalku diberlakukan PSBB, sehingga sekolah pun terpaksa diliburkan. Anak-anak harus SFH dan kami WFH.

Rutinitas agak terganggu, tapi belajar harus tetap berlangsung meski #dirumahaja.

Sesuai kesepakatan dan SOP yang berlaku, kami melaksanakan long distance learning. Setiap pagi, sesuai hari sekolah, sudah sibuk memegang hp. Benda yang paling dijauhi saat KBM normal berlangsung di kelas. Kini, terpaksa harus setia mengelus benda pipih merk Samsung, meluangkan waktu untuk me-review jadwal dan tugas yang telah dilaksanakan anak-anak.

Tiba-tiba Menjadi Aktris

Sistem belajar jarak jauh, mengharuskan kami keep in touch meski lewat daring, sesekali komunikasi via video call.  Sebagai ganti tatap muka, beberapa video tutorial  mulai tercipta. Walhasil mengorbitkan "A New Aktris". 😁

Saya yang tidak suka selfie, tetiba harus siap mejeng untuk di-shooting. Wajah dan perilaku dipaksa senormal mungkin, meski gugup menerjang. Padahal, setiap hari berdiri di depan kelas, di hadapan belasan siswa biasa saja. Kini, harus menahan grogi menghadapi kamera. 😉

Duh, duh, duh .... 😅

Badai Rindu

Perkembangan penyebaran Virus yang semakin meningkat, membuat SFH dan WFH diperpanjang. Meski, awalnya ada gembira menyelinap saat pertama kali harus WFH; bisa bekerja lebih siang, tetap dasteran ketika WFH, dan  bisa bekerja sambil rebahan.

Belajar di rumah yang terus diperpanjang, membuat gelombang rindu kian deras menerpa. Rindu peluk dan belai anak-anak, rindu celoteh manja dan ceriwis mereka, rindu tawa dan tangis, rindu teriakan "Bu, aku bisa", rindu bermuwajahah dengan rekan seperjuangan.

Ah, ternyata, daya tarik para malaikat kecil sedahsyat itu. Dan rindu itu semakin berat, saat ada satu dua anak yang chat atau pesan suara, menyuarakan rindu juga. 😢

Badai Pasti Berlalu

Meski berat, aku yakin pandemi ini akan berakhir, wabah ini akan berhenti, dan semua akan kembali normal.

Agar semua cepat berlalu, dibutuhkan kerja sama, kerja keras, dan kepatuhan.

#DiRumahAja, #PakaiMasker, #JagaJarak, #TidakBersentuhan, saatnya soliter menjadi solider, yang terpenting dan utama adalah muhasabah dan doa.

Bisa jadi ini adalah teguran bagi kita semua untuk lebih waspada, solider, jaga diri, dan senantiasa memanjatkan doa.

Mari bersama deraskan doa, semoga pandemi lekas berlalu. Dan, kristalkan yakin, Indonesia kuat.

Hasbunallah wa ni'mal wakil ni'mal maula wa ni'man nashir.

Sabtu, 28 Maret 2020

Moms, Ini Dia 5 Hal yang Tidak Boleh dan yang Harus Dilakukan dalam Mendidik Anak




Memiliki anak yang lucu, dan berakhlak mulia adalah dambaan setiap orang tua. Tapi, pola asuh yang kurang tepat, bukan mendidiknya menjadi baik, malah bisa jadi memiliki karakter yang sangat tidak kita harapkan.

Seperti apa pola asuh yang harus dihindari? Berikut 5 hal yang tidak boleh dilakukan dalam mendidik anak.

1. Otoriter

Hal yang tidak boleh dilakukan dalam mendidik anak yang pertama adalah otoriter. 

Pola asuh ini terkenal dengan aturan ketatnya, tanpa mempertimbangkan keinginan dan kebutuhan anak. Bahkan tak jarang memberikan hukuman fisik agar anak patuh pada peraturan.

Pola asuh seperti ini berakibat buruk bagi kesehatan mental anak, di antaranya:
- Anak menjadi agresif.
Agresivitas ini terbentuk dari kemarahan atau perasaan negatif yang menumpuk, dan disalurkan pada orang lain.
- Pemalu dan kurang percaya diri.
Karena selalu mendapat tekanan dan tuntutan, anak menjadi malu atau takut menyampaikan pendapat, dan kurang percaya diri.
- Pencemas.
Anak dengan pola asuh otoriter, akan cenderung menjadi pencemas. Ia cemas dan khawatir jika segala tingkahnya akan berlawanan dengan keinginan dan harapan orang tua.

2. Permisif

Hal yang tidak boleh dilakukan dalam mendidik anak berikutnya adalah permisif.

Pola asuh permisif ini adalah kebalikan dari otoriter. Orang tua cenderung memberikan kebebasan pada anak, terlalu reaktif, dan tidak memiliki batasan yang jelas tentang aturan.

Kebebasan yang bablas ini, berdampak negatif bagi perkembangan anak. Anak akan menjadi labil, dan tidak taat aturan.

3. Membandingkan

Pola asuh berikutnya yang akan membuat perkembangan mental anak kurang baik adalah, membandingkan.

Membandingkan kemampuan anak dengan orang lain, meski itu adik atau kakak kandung, akan membuat harga diri anak terluka. Akibatnya, anak menjadi kurang percaya diri, rendah diri, bahkan bisa jadi menyimpan amarah terpendam terhadap pembandingnya.

4. Perbedaan Pola Asuh Ibu dan Ayah

Jika orang tua memiliki pola asuh yang berbeda untuk buah hatinya, misal; ibu otoriter dan ayah fermisif, anak akan bingung untuk mengikuti aturan siapa, hal apa yang diharapkan orang tua untuk ia patuhi dan kerjakan. Akhirnya, anak akan berlindung pada salah satu orang tua, ayah atau ibu, saat melakukan kesalahan. Hal ini akan mendidik anak menjadi labil dan manipulatif.

5. Lalai

Jenis pola asuh terakhir ini, sangat buruk bagi perkembangan mental dan fisik anak.

Orang tua yang lalai, bukan berarti tidak memenuhi kebutuhan dasar anak, tetapi ia tidak perhatian dalam masa perkembangannya. Bahkan meniadakan komunikasi dan nihil dukungan emosional.

Dengan pola asuh seperti ini, anak cenderung tak memiliki kontrol diri di kemudian hari. Pola asuh ini juga mencetak pribadi dengan harga diri dan kompetensi yang rendah.

Nah, kelima macam pola asuh di atas tidak boleh dilakukan, ya, Moms.

Lalu, sebaiknya pola asuh seperti apa yang baik untuk perkembangan anak?

1. Teladan

Hal yang harus dilakukan dalam mendidik anak
yang pertama dan utama kesuksesan mendidik anak adalah keteladanan dari orang tua. Semua petuah akan membekas dan mudah dilaksanakan anak jika ada contoh atau teladannya. Juga sebaliknya, semua serasa seperti dongeng jika hanya sebatas retorika.

Sangat miris jika ada orang tua yang melarang sesuatu, tapi mencontohkan hal sebaliknya. Sebagai contoh, ayah yang melarang anaknya merokok tapi sering merokok di hadapan anak-anaknya, bahkan menyuruh anak untuk membelikan rokok.

Orang tua harus menjadi rule model bagi anak-anaknya.

2. Luangkan waktu

Hal yang harus dilakukan dalam mendidik anak
selanjutnya adalah meluangkan waktu.

Sesibuk apapun orang tua, harus mau meluangkan waktu untuk anak-anaknya. Adalah sebuah keniscayaan jika anak menjadi prioritas hidup orang tua, tapi tak mau meluangkan waktu untuk anaknya.

Tentu kita faham, mau dan mampu memiliki definisi yang berbeda. Meski ada kesempatan, jika tidak mau, maka tidak akan mampu meluangkan waktu. Dan sebaliknya, jika mau, meski sibuk akan mampu memanfaatkan waktunya bersama, quality time.

Dengan meluangkan waktu, komunikasi akan berjalan baik, akan terjalin hubungan yang erat, anak akan lebih percaya diri dan bahagia, sehingga diharapkan akan tumbuh perilaku positif.

3. Beri gambaran tegas tentang benar dan salah

Yang penting dilakukan dalam hal ini adalah kontinue dan tegas. Jangan sampai kita plin-plan dalam memberi gambaran dan batasan tentang hal yang benar dan salah. Jika tidak, anak akan mengalami kesulitan mengidentifikasinya.

4. Pahami anak

Meski terlahir dari rahim yang sama, sejatinya setiap anak adalah individu yang berbeda, kembar sekalipun. Karena itu sangat penting memahami karakter setiap anak. Beda karakter, beda pula cara pendekatan dan penanganan masalahnya.

5. Doakan anak

Ini yang utama dan pertama harus selalu dilakukan oleh orang tua, mendoakan untuk kebaikam anak.

Mata dan tangan kita terbatas geraknya, kita tak selalu bisa mengawasi dan menjaga anak. Karena itulah kita sangat butuh bantuan Sang Maha Melihat dan Mengetahui, untuk selalu menjaga dan melindungi anak-anak kita.

Menjadi oran tua adalah profesi yang selalu membutuhkan energi dan ilmu baru. Karena sosok yang menjadi tanggung jawab kita selalu bertumbuh menjauhi zaman kita. Tentu, kita tidak bisa mendidik mereka seperti orang tua kita mendidik kita pada zaman dulu. Zaman terus berkembang, orang tua wajib up to date, agar bisa mendidik anak sesuai dengan zamannya.

Jangan lupa berdoa dan selalu semangat belajar ya, Moms.

Senin, 02 Maret 2020

Dokter pun tak Percaya



Masih tentang semut, Genks.

Setelah hari Rabu, 26 Februari 2020 lalu aku tersengat semut, sehingga menyebabkan terserang syok anafilaksis. Pagi tadi, Senin, 2 Maret 2020, pukul 06.45 saat bersiap menunggangi kuda besi untuk mengajar, aku kembali tersengat. Kali ini telunjuk kaki kiri dekat jempol yang kena.

Di latar depan rumah, suami menyimpan satu kijang pasir. Mungkin ini dijadikan sarang semut juga. Padahal beberapa minggu lalu sebelum tersengat untuk yang kedua, aku sudah menyampaikan perihal keberadaan semut yang sering membuatku merinding saat akan menjemur pakaian. Seperti biasa, jawabannya cuma, "Biarin aja. Nggak papa." Karena istrinya belum terdampak.

Setelah itu, percakapan itu terlupakan, hingga Rabu lalu tersengat dan hari ini aku tersengat untuk yang ke-3 kalinya.

Masih hangat pengalaman Rabu lalu, kuda besi kembali kustandard dan bergegas menyeduh kopi seven elemen dari HPAI yang aku tahu memiliki kandungan anti racun. Alhamdulillah. Lima menit setelah sengatan, biduran cuma stag di ujung pergelangan kaki. Darah panas yang biasanya aku rasakan mengalir, tak juga menjalar. Menunggu 30 menit untuk melihat reaksi, sebelum akhirnya menyeduh gelas ke dua.

Biasanya dari dua kejadian yang pernah kualami sebelumnya, reaksi syok anafilaksis bekerja cepat, kurang dari satu jam. Dari biduran, pusing lemas, keram perut, buang air besar, muntah, lalu pingsan. Tapi setelah proses itu selesai, pulihnya juga cepat. Hanya bengkak dan gatal di sekitar lepuhan beningnya saja yang lama hilangnya, sekitar seminggu lebih.

Nah, kasus ke-3 ini unik. Setelah 30 menit tersengat, lalu minum segelas kopi sevel, tidak kurasakan gejala syok anafilaksis. Sebagai pencegahan, setelah minum kopi sevel yang kedua kalinya, aku menyeduh lagi untuk bekal ke sekolah

Dengan diantar suami, perjalanan yang biasanya hanya kutempuh dalam waktu 20 menit, ini hampir 40 menit. 😑 Mungkin karena membawa orang sakit kali, ya, jadi berkendaranya sangat hati-hati. Good joblah utuk suamiku. Kasih uplose ya, Genks. 😊

Setelah drama penyambutan (anak-anak heboh menanyakan kenapa datang sangat terlambat), aku minum bekal kopi sevel. Fix! Dalam kurun kurang dari 2 jam, aku telah meminum 3 gelas kopi sevel.

Saat tiba kembali di rumah, aku juga langsung nyeduh kopi sevel lagi untuk yang ke-4 kalinya. Karena takut racun semutnya masih ada.

Bakda zuhur, nafsu makan sudah mulai hilang. Aku tak merasakan lapar. Meski demikian, kupaksakan menyuap nasi saat suami makan. Alhamdulillah, tiga suapan kecil nasi masuk ke perut. Fyi, pagi sarapan bubur.

Badan mulai lemas, mulai ada rasa mual. Karena merasa yakin (atau takut?) syok anafilaksis akan menyerang, aku menyeduh kopi sevel untuk yang ke-5 kalinya.

Setelah meminum kopi untuk yang kelima kalinya, rasa mual mulai meningkat diiringi rasa nyeri seperti di remas pada lambung. Lalu, berturut-turut diare dan muntah. Aku merasa muntah yang ini berbeda. Jika muntah saat terserang syok anafilaksis, aku tidak merasakan nyeri lambung maupun rasa asam. Tapi muntahan kali ini, aku selalu merasakan asam, begitu juga aromanya. Setiap waktu, muntaber (yang keluar cuma air tanpa ampas), nyeri lambung serasa diremas, lemas, semakin meningkat. Puncaknya setelah sholat isya sekitar pukul 19.30, badan sangat lemas, bahkan muntah pun ditempat. Di samping sajadah, tak kuat menghampiri plastik yang sudah kusiapkan sekitar 30 cm (satu ubin) dari sajadah. Pandangan sudah mulai kabur.

Muntah terus berulang selama beberapa kali. Kebetulan suami sedang ke rumah pamannya di perumahan lain, sejak bakda magrib, dan tidak membawa hp. Terpaksa menelepon keponakan suami yang tinggal serumah dan sedang main di gang belakang.

Rasa panik mulai meyelimuti, semua praduga saling berargumen di benak. Satu sisi menghawatirkan syok anafilaksis, di sisi lain memastikan asam lambung kumat, mengingat jumlah kopi yang kuminum.

Tak selang lama, keponakan datang saat aku sedang muntah untuk kesekian kalinya. Mungkin karena tahu aku sudah sangat payah, dia tidak berani membawaku dengan motor, dan berinisiatif meminjam mobil temannya.

Saat mobil tiba, suami juga datang. Berempat dengan teman ponakan, aku diboyong ke klinik terdekat.

Sampai di klinik saat ditanya, dengan susah payah aku menceritakan kasus syok anafilaksis yang sempat aku derita karena disengat semut. Dan aku juga cerita tentang sengatan di pagi hari, juga jumlah kopi yang kuminum dan sakit yang kurasa setelahnya.

Mau tahu jawaban dokter, Genks?

"Oh, ini karena asam lambung ibu terganggu karena kebanyakan kopi." Sambil menekan perut dokter melanjutkan pernyataannya, "kalo karena digigit semut nggak akan ngasih efek seperti ini ibu, biasanya lebah."

Fix! Dokter pun menyangkal bahwa gigitan semut dapat mengakibatkan penderita terserang syok anafilaksis, apalagi orang awam.

Aku hanya mengiyakan semua reason yang dijabarkan. Karena aku juga punya riwayat sakit maag. Tapi yang aku sesalkan, bantahan tentang bahaya sengatan semut. Mungkin ibu dokter cantik di hadapanku ini belum pernah mendengar dan mendapatkan kasus seperti yang kualami.

Kenapa aku curhat seperti ini? Cuma sekedar sharing dan semoga jadi warning untuk mewaspadai semua kemungkinam terburuk akibat sengatan semut.

Dokter aja nggak percaya, apalagi orang biasa.

Pembaringan, 2 Maret 2020

#tetapwaspada
#duajamdiklinik,alhamdulillahdapet3xsuntikan
#penasaran
#berjuangmelawanlemas

Sabtu, 29 Februari 2020

Guru, Masihkah Dihargai?



Guru diidentikkan sosok sempurna yang bisa  digugu dan ditiru, harus memiliki kecendekiaan yang mumpuni, dan berakhlak mulia. Guru juga dituntut untuk bisa mengatasi permasalahan setiap peserta didiknya.

Jika ada kesalahan sedikit saja, cap guru tak becus dan tak pantas mengajar langsung tersemat. Bahkan menghukum guru secara fisik maupun verbal sudah banyak kita jumpai.

Jika zaman dulu, kita sudah biasa dengan jeweran, rotanan, atau hukuman fisik lainnya. Kini, seiring perkembangan zaman, tindakan guru terhadap siswanya sangat mudah dikritisi orang tua. Banyak guru khawatir terjerat HAM saat ingin mendisiplinkan siswanya, akhirnya memilih fokus pada transfer ilmu saja.  Sebaliknya, banyak orang tua  dengan arogannya menegur guru yang telah dianggap melakukan kekerasan terhadap anak. Dan, mereka juga akan tetap menyalahkan pihak sekolah atau guru jika anaknya tidak berakhlak, tidak menguasai bidang tertentu, dan sampai melakukan kenakalan remaja. Mereka seolah menjadi lupa, bahwa waktu anaknya di sekolah hanya beberapa jam saja, tidak lebih dari 10 jam.

Untuk menjembatani hal ini, harus ada komunikasi positif antara orang tua dan guru dalam mendidik anak, demi kebaikan dan masa depan anak.

Tentang komunikasi ini, ada sebuah artikel yang ditulis oleh Mba Sita Yudisia tentang penanganan bullying. Dalam artikel itu ditulis, X yang awalnya korban bullying berubah menjadi pelaku. X sering memukul korbannya. Gurunya telah melakukan pendekatan dengan berbagai cara, namun belum bisa membuat X menghentikan kebiasaannya memukul. Akhirnya dengan sangat terpaksa, guru memutuskan akan melakukan tindak kekerasan serupa yang dilakukan X pada korbannya, memukul. Semata-mata agar X paham dengan akibat, bahwa dipukul itu sakit.

Sebelum melakukan tindakan tegas terhadap X, pihak sekolah memanggil kedua orang tua X. Bukan hanya Ibu atau Ayahnya. Meski berat, dan awalnya Ayah X menolak, tapi demi kebaikan X, mereka menyetujui tindakan yang akan dilakukan guru.

Selanjutnya ditulis, selain melakukan tindakan tegas seperti yang telah dispakati, gurunya X ternyata juga tetap melakukan pendekatan persuasif melalui teman sebaya X, yang berperan sebagai penasihatnya.

Singkat cerita, tindakan yang dilakukan pihak sekolah, membuat X menyadari kesalahannya dan mau merubah perilakunya.

Agar tak salah memahami, silakan teman-teman meluncur ke berandanya beliau, dan membaca sendiri tulisannya.

Yang saya cermati dari tulisan Mba Sita, kerja sama dan komunikasi antara pihak berwenang, sekolah-orang tua-ahli, sangat diperlukan.

Senada dengan hal di atas, Abun Nada dalam postingan di instagramnya membuat kita melek akan fenomena yang sekarang sedang terjadi di dunia pendidikan kita. Disertai dengan ilustrasi, membuat kita semakin harus merenung tentang posisi kita. Apakah kita sudah menjadi orang tua yang baik dalam berkomunikasi dengan guru dari anak-anak kita?

Apalagi, membaca beberapa berita online sangat membuat hati miris. Ada guru yang disuruh merangkak mengelilingi kelas, dibotaki, dipukul oleh orang tua murid sampai babak belur, bahkan ada yang sampai meregang nyawa di tangan muridnya sendiri. Membuat kita berpikir: Apakah guru masih dihargai?

Ilustrasi guru by kantormeme.blogspot.com

Kamis, 27 Februari 2020

Bahaya Gigitan Semut Api Bisa Menyebabkan SYOK ANAFILAKSIS


Pernah digigit semut, Genks? Apa reaksi tubuhmu saat digigit? Kalo cuma bentol merah, panas, dan sedikit sakit, berarti wajar.

Tapi, ada lho, seseorang yang digigit semut akan menunjukkan reaksi keracunan. Seseorang itu saya, Genks. Hehehe .... 😆

Meski tampak lebay, bahkan suami saya bilang aneh, tapi, memang beneran terjadi.

Jadi begini ceritanya, Genks.

Sambil baca, jangan lupa siapin camilan. Coz' ceritanya panjang x lebar, Genks. Hahaha ....

Bulan Juli 2007, saya dan suami dengan mantap memutuskan untuk pensiun jadi kontraktor.
Alhamdulillah, Allah kasih rezeki untuk membeli gubuk sendiri. Meskipun, kata orang, daerahnya tempat jin buang anak. Jadi bukan manusia aja, ya, yang suka buang anak. 😊 Saya dan suami tetap merasa bersyukur dan sangat bahagia.

Kami tinggal di Perumahan Villa Permata. Perumahan ini masih sangat asri. Jauh dari keramaian, kiri-kanan, depan-belakang, masih persawahan luas, banyak rumah-rumah kosong rubuh tak bertuan. Nah, rumah kosong yang telah rubuh dan tak bertuan ini, banyak dimanfaatkan warga setempat untuk bercocok tanam, termasuk saya.

Dengan bantuan suami, saya memanfaatkan lahan kosong di samping kanan rumah dengan menanam singkong, ubi, cabe, lengkuas, jahe, dan kunyit.

Saking bahagianya punya kebon, setiap hari libur pasti saya sempatkan untuk membersihkan rumput liar yang tumbuh dengan cepat.

Suatu hari, punggung telapak kaki kiri digigit semut. Reaksi awal cuma meremehkan, "Ah, digigit semut doang, nggak papa." Semut yang mengigit cuma saya tepis, lalu melanjutkan bebersihnya. 

Tak lama, bekas gigitannya terasa panas, dan gatal. Lagi-lagi, masih meremehkan. Cuma saya garuk tanpa melihat kakinya. Makin lama, makin panas dan gatal, mulai waspada. Melihat kaki mulai bengkak, saya sudahi kegiatan berkebunnya. Cuci tangan dan kaki, lalu mengoleskannya dengan minyak kayu putih. Saat sedang dioles, kondisi punggung telapak kaki sudah bengkak sampai batas pergelangan kaki. Saya tanyakan ke suami, katanya wajar. 

Fyi, bengkaknya sampai seminggu, setelah itu mengoreng. Sampai berbulan-bulan tanda gigitannya masih berbekas.

Kejadian itu lumayan bikin saya waspada setiap melihat semut, belum sampai trauma. Kegiatan bebersih kebun masih terus saya lakukan. Tergigit semut, terulang lagi, reaksinya masih sama, bengkak berhari-hari.

Selanjutnya, sikap waspadanya meningkat ke siaga. Setiap kali sedang bebersih, lalu melihat semut, auto pindah tempat. Dan pernah, karena panik menghindari semut, saya justru menginjak sarangnya. Dan ada semut yang berhasil menyengat. Reaksi tubuh mulai lebay, panasnya langsung menjalar ke seluruh tubuh, seakan darah mendidih. Saya langsung banting celurit, lari ke kamar mandi, cuci bersih tangan dan kaki. Keluar dari kamar mandi, kulitnya langsung biduran. Biduran makin meluas seiring rasa panas yang menjalar, merinding hebat, Genks. Saya mulai panik. Buka baju, dan minta suami mengolesi minyak kayu putih ke seluruh tubuh.

Sejak saat itu, mulai ada rasa trauma. Jadi, kalo lagi bebersih dan melihat semut, ngambil sikap sesantuy mungkin, mata menatap tajam ke si semut, terus semutnya diajak ngomong, "Mut semut, maafin aku yaaa. Aku nggak bermaksud ganggu kamu. Aku cuma mau bersihin rumput aja. Jangan gigit aku, ya, Mut." Alhamdulillah, aman!

Karena gubuk saya masih harus direnovasi, tapi keuangan alakadarnya, jadilah suami mengerahkan semua daya dan kekuatannya, serta warisan ilmu leluhur, untuk merenov rumah sendiri. Jadi, kalo hari libur, kegiatan kami berbeda. Suami, bertransformasi jadi kuli bangunan, saya jadi petani.

Suatu hari, suami minta bantuan untuk ngangkutin pasir. Tugas saya cuma memasukkan pasir ke dalam ember menggunakan pacul. Suami yang ngangkutin ke dalam untuk diaduk semen. Gundukan pasirnya ada di samping pohon pisang. Saat pasir dekat pohon pisang mulai berkurang, terlihat gerombolan semut. Aotu kaget dan teriak, "Mas ada semut!" Suami cuma menjawab, "Biarin aja." Cari aman, saya pindah ke posisi lain dari gundukan pasir.

Nah, saat sudah pindah posisi, dan siap memasukkan pasir lagi, saya merasa ada sengatan di kelingking kaki. Saya langsung panik, dan cuci kaki. Kebetulan suami sudah membuat keran di depan rumah. Saat sedang mencuci kaki, saya merasa darah panas menjalar sangat cepat, jantung langsung berdebar, kepala agak pusing, lemas, dan perut berasa keram disertai rasa ingin buang air besar. Saya langsung masuk rumah, sampai di dapur saya sudah nggak kuat, merangkak menuju kamar mandi. Suami ternyata melihat dan khawatir. Saat saya sedang buang air, dia menunggu di luar. Selesainya, saya merangkak keluar kamar mandi dan langsung dipapah menuju kamar. Sampai di kasur saya muntah, lalu pingsan.

Saat siuman, ternyata ada tetangga yang menjenguk, dia menanyakan penyebab saya seperti itu, "Kenapa sampe bisa kayak gitu, Bu Nia? Digigit apa?"

"Kalajengking, Bu," jawab suami.

Saya langsung membantahnya, "Bukan! Semut, kok."

Tetangga malah menyangkal jawaban saya, "Semut kok sampe begitu. Bener kalajengking kali, Bu Nia."

Ya sudahlah, aku manut aja dengan jawaban mereka. Yang aku lihat semut, tapi, aku juga heran kok sengatan semut bisa mengakibatkan reaksi seperti itu.

Keesokan harinya, berita aku tersengat kalajengking tersebar di kalangan tetangga dekat. Satu dua orang, memastikan langsung. Aku cuma mengiyakan, meski nggak yakin. Karena memang yang aku lihat semut, bukan kalajengking.

Sejak saat itu, aku trauma dengan semut. Kegeiatan bebersih kebun digantikan dengan suami. Aku cuma mau ikut bebersih kalo mendesak aja, misalnya kerja bakti warga, atau suami memang tidak sempat dan rumput sudah sangat lebat.

Bertahun-tahun asumsi bahwa aku digigit kalajengking bertahan dibenak. Aku yang belum punya akses internet tak bisa mencari tahu, mau bertanya ke dokter, gejalanya sudah hilang. Jadi dipendam aja.

13 tahun kemudian, tepatnya hari Rabu, 26 Februari 2020, antara pukul 21.00 - 22.00, aku mengalami kejadian serupa. Kali ini semutnya terlihat, karena menggigit tangan kiri, sewaktu mengambil handuk yang tersampir di mesin cuci. Dan langsung aku perlihatkan ke suami bangkai semutnya. Seperti biasa, suami hanya memberi respon santuy, "Nggak papa."

Memang beberapa hari ini semut sedang bergerilya dan menghuni stop kontak rumah, mungkin karena cuacanya dingin.

Mendapat gigitan semut, teringat kejadian belasan tahun lalu. Aku langsung gerak cepat, membalurkan minyak herba sinergi atau budbud ke bekas sengatan semut.

Selang beberapa detik, aku langsung merinding, darah panas mulai menjalar disertai gatal-gatal, tak lama bentol pun beruntun memenuhi seluruh permukaan kulit termasuk kepala. Ketika sedang merasakan panas dan merinding, aku menyeduh susu. Yang aku tahu, susu bisa menetralisir racun.

Ternyata, reaksi bidurannya tidak berkurang dengan minum susu. Terpaksa membangunkan suami yang sudah tidur lebih dahulu untuk membantu mengoles punggung.

"Sudah, Say. Aku tidur lagi, ya?"

Tanpa menunggu jawaban dia langsung menuju kamar.

"Iya, aku belum bisa tidur masih panas."

Sambil menahan rasa panas dan gatal, aku buat story WA, dan searcing google tentang gejala yang sedang aku alami. Dari hasil pencarian, ternyata memang ada sebagian kecil orang yang akan mengalami reaksi seperti aku.

Saat sedang berselancar di dunia maya, mencari semua info tentang akibat sengatan semut, aku merasakan pusing, persendian terasa lemas, perut keram disertai rasa ingin buang air besar. Dengan sempoyongan, aku paksakan ke kamar mandi. Kan nggak etis kalo sampe pup di ruang tamu. Hihihi ....

Ketika sedang buang hajat, aku merasa semakin lemas. Akhirnya aku sudahi, meski rasa mengejan itu masih ada, "Ya Robb, aku nggak mau mati di kamar mandi dan dalam keadaan buang hajat pula. Itu seburuk-buruknya kematian. Kuatkan aku berjalan ke kamar ya Allah."

Kematian itu serasa sangat dekat, karena lemas dan pandangan mulai buram. Alhamdulillah, kuat juga sampe di kamar.

Saat rebahan, aku bangunkan suami dan berwasiat padanya, "Mas, aku masih punya utang 1 kali arisan buku ya. Datanya ada di grup WA. Kalo aku udah nggak ada, tolong bayarin ya."

Suami malah mendengus kasar, dan balik badan.

Aku tak mampu bicara lagi, napas mulai tersengal-sengal, jantung berdebar sangat cepat, rasa mual mulai meningkat, lalu terbatuk karena sesak. Setelah batuk beberapa kali, mual berhasil meluahkan semua isi perut, banyak sekali

Mendengar aku muntah, suami langsung terbangun, dan sigap mengambil lap dan ember, kemudian membersihkan muntahan.

Setelah mengeluarkan semua isi perut, seluruh tubuh masih diselimuti lemas dan panas.

Alhamdulillah nggak pingsan.

"Kamu didigit semut doang kok, sampe kayak gini sih, Say." Suami membelai wajah dan kepalaku, lalu memberikan kecupan keseluruh wajah, "aku takut tau."

"Sama, aku juga takut, Mas." Kupeluk erat suami, "berarti yang dulu gigit aku itu beneran semut juga, Mas, bukan kalajengking," lanjutku.

"Iya. Tapi, besok-besok jangan ngomong kayak tadi lagi, ya." Tangannya menoyor jidatku, "aku nggak mau ditinggal duluan." Lalu mengecup bekas toyorannya.

"Ah, suami nih, marah apa sayang sih?" gumamku dalam hati.

---- the end ----

Udah abis berapa bungkus camilannya, Genks? Tarik napas dulu, yuuk!

Tarik, embuskan. Tarik, embuskan lagi. Tarik lagi, embuskan lagi. Ya cukup. 😊

Nah, dari pengalamanku di atas, meskipun sebagian besar orang tidak mengalaminya, ternyata sengatan semut api bisa berakibat fatal.

Berikut reaksi yang terjadi pada diriku:
1. Darah serasa panas
2. Biduran
3. Pusing
4. Lemas
5. Mual
6. Muntah
7. Pingsan

Berdasarkan beberapa sumber yang saya baca, ternyata reaksi yang saya alami namanya SYOK ANAFILAKSIS. Pada beberapa kasus, bahkan syok anafilaksis ini bisa menghilangkan nyawa penderitanya. Seperti yang di alami Rizki Ananda (25) di Tangerang, yang beritanya dilansir di  era.id.  DetikHealth   juga melansir seorang remaja, Cameron (13) di Texas, meninggal akibat sengatan semut api. Dan beberapa nama lagi dinegara berbeda.


So, jangan anggap remeh gigitan semut api. Karena rata-rata korban syok anafilaksis tidak menyadari jika dirinya alergi sengatan semut, sebelum tersengat dan semuanya sudah terlambat. Mencegah itu lebih baik, Genks.

Untuk lebih jelasnya, Genks bisa menyimak screen shoot dari pencarian gugel, di akhir tulisan saya.

Semoga bisa dijadikan pembelajaran untuk lebih waspada. Doa saya, semoga Genks dan anggota keluarga tidak mengalaminya. Jika, diperlukan jangan ragu-ragu untuk mengunjungi dokter.

Bye ....

Bekasi, 27 Februari 2020


Jumat, 13 Desember 2019

Melukis Jejak Diri

Perjalananku diawali pada tahun 2017, saat untuk pertama kalinya mendapat hadiah smartphone dari suami tercinta, Samsung galaxy J1 ace.

Setelah menguasai cara penggunaannya, segera kumanfaatkan untuk membunuh rasa penasaran akan dunia tulis-menulis yang virusnya telah menjangkitiku sejak masih di SMEA dulu, medio tahun 1995/1996, ketika mulai aktif di ROHIS dan berlangganan baca majalah Ummi dan Annida yang tersedia di perpustakaan mini ruang ROHIS.

KBM, Komunitas Bisa Menulis, menjadi sasaran pertama dalam memijak di dunia literasi, diawali sebagai silent rider -- sampai sekarang. KBM belum mampu menghilangkan dahaga yang telah kutahan puluhan tahun, aku mulai masuk ke beberapa grup sekaligus demi meneguk dan melahap sajian lezat nan bergizi yang disajikan di tiap grup, gratis pula!

Bukannya puas dengan meneguk dan melahap sajian gratis yang dihidangkan, malah rasa haus dan lapar semakin menjadi. Aku pun ingin bisa menyajikan, agar laparku bisa terobati. Maka, mulailah mengikuti saran teman untuk mengikuti kelas menulis; dari berbayar hingga gratisan.

Alhamdulillah, mulailah aku meramu aksara. Belum sempurna memang, tapi aku menikmati prosesnya. Proses yang membuatku semakin sadar, bahwa menulis mampu meronakan kehidupan.

Kenapa?

Aku adalah seseorang yang tidak mudah menumpahkan semua rasa pada orang lain, memilih memendam semua gelisah sendiri; sehingga ribuan kata yang terpenjara, ratusan rasa yang mendera, dan asa yang terpendam, seringkali menenggelamkan bahagiaku. Maka, menulis menjadi pelampiasan terbaikku.

Alsan Lain Mengapa Menulis?

1. Menjadi Tempat Meluahkan Rasa 
Dulu, aku hanya mempunyai dua tempat yang aman dan nyaman dalam berbagi kisah, sajadah dan buku diary. Sejak mengenal literasi, kuluahkan rasa menjadi karya. Bukan mengejar penggemar atau kuantitas buku yang dihasilkan, tapi kisah yang diabadikan memberikan kesenangan tersendiri. Curhat colongan, istilahku. Membuang sampah tanpa orang lain tahu itu kegundahanku sendiri.

2. Mengasah Kreativitas
Ketika awal menuangkan keluh kesah dalam bentuk tulisan, aku seperti memindahkan isi diary; ejaan yang amburadul, kaidah menulis ditabrak sak kaerepe, juga bahasa yang alay. Seiring waktu, banyak senior yang memberi kritik dan saran, juga pelajaran yang didapat pada kelas menulis, kemampuanku semakin terasah. Meski belum sempurna, tapi aku senang belajar.

3. Menambah Teman  
Dunia literasi seperti dunia keduaku. Dari sinilah, beberapa teman kudapat, dari berbagai penjuru tanah air. Saling sapa dan memberi wacana.

4. Memperluas Khasanah 
Ilustrasi buku by pixabay
Dengan banyak membaca karya teman, mengikuti kelas menulis, dan berlatih, telah memberikan aku pemahaman dan pengalaman baru. Banyak hal yang baru aku tahu, dan tak sadar bahwa selama ini ternyata telah melakukan kesalahan. Semisal; cara penulisan di, selama ini apapun kata yang mengikutinya pasti selalu kutulis terpisah. Tentu banyak hal lainnya lagi, yang baru kudapat dari menulis.

5.  Menghasilkan Rupiah 
Dari sekedar hobi, curhat, rupiah pun aku dapatkan. Dengan mencoba uji nyali mengirim tulisan ke Reviensmedia, alhamdulillah, 12 artikelku nyangkut. Kusyukuri sebagai berkah atas Kemurahan Allah, dan bukti pada diri sendiri, bahwa aku bisa. Meski belum seberapa, harus terus bersyukur, terus belajar, terus mencoba. 

6. Melawan Tua 

Satu hal lagi yang membuat aku semakin menyukai dunia tulis menulis adalah, merasa awet muda. Apalagi jika berkumpul dalam grup kepenulisan yang anggotanya kebanyakan masih jomblo, humoris, dan gokil. Meski jarang ikut berkomentar, tapi cukup terhibur dengan membaca candaan yang sepertinya tak berkesudahan. Dalam beberapa literatur yang kubaca, menulis dapat memperlambat proses demensia. Dimensia acapkali mengganggu proses kerja di rumah, pun tempat kerja. Dengan menulis, daya ingat kita akan bertahan lebih lama, terutama tentang hal yang pernah kita tulis. Dan ini sudah kubuktikan. 

7. Melukis Jejak Diri

Seyogyanya, saat sedang menulis, aku sedang melukis jejak diri. Suatu saat tulisanku akan dibaca oleh anak cucu, dan itu adalah jejak yang kutinggalkan untuk mereka. Karena itulah, aku terus bebenah, semoga hanya jejak kebaikan saja yang kutinggalkan.

Ini menjadi titik balik diriku untuk selalu memperbaiki diri. Semoga apa yang kukerjakan memberi manfaat dan dapat menjadi amal penambah timbangan kebaikanku kelak di yaumil hisab.

Mari menulis.










Selasa, 03 Desember 2019

Dear Desember


Harimu terasa singkat, padahal baru 3 hari terlewati. Masih ada 28 hari lagi, tapi seolah sudah tak ada waktu.

Dear, aku masih punya banyak mimpi yang belum nyata, semoga bisa terajut dan wujud di bulan setelahmu.

Kau tahu, tahun ini aku menahan langkah. Memilih lebih banyak merenung, membaca, dan belajar, berharap teko bisa penuh, hingga mampu menyajikan barang secangkir atau dua cangkir. Nyatanya? Setengah pun tak terisi, masih terasa kosong. Aku sering menyalahkan demensia, yang karenanya aku sering dibuat alpa dan sering gagal paham, salahkah? Atau ini hanya alasan lainnya? Entah .... 😶

Dear, tahun ini mirip sekali dengan tahun lalu. Begitu banyak alasan yang mampir, hingga malas memenjarakan asaku. Meski, ada kalanya gunungan alasan itu terurai, tapi kemudian tiba-tiba menghujani lagi, hingga asaku kembali terhimpit dan sulit bangkit. Terus terulang, seperti terjebak dalam labirin.

Dear, jika kau merasa saat ini aku sedang melukis alasan lagi, kurasa tidak. Aku hanya sedang meramu rasa, memetakan kekuatan, agar tumpukkan alasan dapat terurai kembali. Jangan bosan mengeja setiap aksaraku, karena hanya ini senjata aku mewaraskan diri. Menyadarkan diri dari keterpurukan. Pada-Nya dan pena saja aku dapat meluahkan semua keluh kesah, mulut ini terkunci di hadapan semua insan pun "dia". 😷

Tepat hari ini, kugenggam kembali pena yang telah tergantung beberapa pekan. Bersama Bloger Asongan, semoga bisa merajut asa kembali. Setelah sebelumnya meninggalkan banyak kelas belajar, agar rekan-rekan tak dapat membaca rangkaian alasanku. Ternyata, meninggalkan mereka membuat aku semakin tenggelam. Aku masih butuh pertolongan, butuh suntikkan semangat, butuh genggaman. Aku melupakan kodrat kemanusiaanku, seolah perkasa bisa bangkit sendiri.

Bersyukur, masih ada teman yang siap menggenggam jemari, dan selalu menyiapkan pundaknya untuk sekadar bersandar, meski di dunia maya. Supportnya begitu nyata.

Baca juga : Dear Juli
Dear Desember, saksikan aku yang akan membuat langkah baru. Jangan lekas beranjak, agar Januari dapat kujelang dengan semangat baru. Berharap jejak kebaikan yang kutinggal, agar kelak kugapai husnul khotimah.















Sumber gambar: Ilustrasi Halo Desember by tribunnews