Kamis, 27 Februari 2020

Bahaya Gigitan Semut Api Bisa Menyebabkan SYOK ANAFILAKSIS


Pernah digigit semut, Genks? Apa reaksi tubuhmu saat digigit? Kalo cuma bentol merah, panas, dan sedikit sakit, berarti wajar.

Tapi, ada lho, seseorang yang digigit semut akan menunjukkan reaksi keracunan. Seseorang itu saya, Genks. Hehehe .... 😆

Meski tampak lebay, bahkan suami saya bilang aneh, tapi, memang beneran terjadi.

Jadi begini ceritanya, Genks.

Sambil baca, jangan lupa siapin camilan. Coz' ceritanya panjang x lebar, Genks. Hahaha ....

Bulan Juli 2007, saya dan suami dengan mantap memutuskan untuk pensiun jadi kontraktor.
Alhamdulillah, Allah kasih rezeki untuk membeli gubuk sendiri. Meskipun, kata orang, daerahnya tempat jin buang anak. Jadi bukan manusia aja, ya, yang suka buang anak. 😊 Saya dan suami tetap merasa bersyukur dan sangat bahagia.

Kami tinggal di Perumahan Villa Permata. Perumahan ini masih sangat asri. Jauh dari keramaian, kiri-kanan, depan-belakang, masih persawahan luas, banyak rumah-rumah kosong rubuh tak bertuan. Nah, rumah kosong yang telah rubuh dan tak bertuan ini, banyak dimanfaatkan warga setempat untuk bercocok tanam, termasuk saya.

Dengan bantuan suami, saya memanfaatkan lahan kosong di samping kanan rumah dengan menanam singkong, ubi, cabe, lengkuas, jahe, dan kunyit.

Saking bahagianya punya kebon, setiap hari libur pasti saya sempatkan untuk membersihkan rumput liar yang tumbuh dengan cepat.

Suatu hari, punggung telapak kaki kiri digigit semut. Reaksi awal cuma meremehkan, "Ah, digigit semut doang, nggak papa." Semut yang mengigit cuma saya tepis, lalu melanjutkan bebersihnya. 

Tak lama, bekas gigitannya terasa panas, dan gatal. Lagi-lagi, masih meremehkan. Cuma saya garuk tanpa melihat kakinya. Makin lama, makin panas dan gatal, mulai waspada. Melihat kaki mulai bengkak, saya sudahi kegiatan berkebunnya. Cuci tangan dan kaki, lalu mengoleskannya dengan minyak kayu putih. Saat sedang dioles, kondisi punggung telapak kaki sudah bengkak sampai batas pergelangan kaki. Saya tanyakan ke suami, katanya wajar. 

Fyi, bengkaknya sampai seminggu, setelah itu mengoreng. Sampai berbulan-bulan tanda gigitannya masih berbekas.

Kejadian itu lumayan bikin saya waspada setiap melihat semut, belum sampai trauma. Kegiatan bebersih kebun masih terus saya lakukan. Tergigit semut, terulang lagi, reaksinya masih sama, bengkak berhari-hari.

Selanjutnya, sikap waspadanya meningkat ke siaga. Setiap kali sedang bebersih, lalu melihat semut, auto pindah tempat. Dan pernah, karena panik menghindari semut, saya justru menginjak sarangnya. Dan ada semut yang berhasil menyengat. Reaksi tubuh mulai lebay, panasnya langsung menjalar ke seluruh tubuh, seakan darah mendidih. Saya langsung banting celurit, lari ke kamar mandi, cuci bersih tangan dan kaki. Keluar dari kamar mandi, kulitnya langsung biduran. Biduran makin meluas seiring rasa panas yang menjalar, merinding hebat, Genks. Saya mulai panik. Buka baju, dan minta suami mengolesi minyak kayu putih ke seluruh tubuh.

Sejak saat itu, mulai ada rasa trauma. Jadi, kalo lagi bebersih dan melihat semut, ngambil sikap sesantuy mungkin, mata menatap tajam ke si semut, terus semutnya diajak ngomong, "Mut semut, maafin aku yaaa. Aku nggak bermaksud ganggu kamu. Aku cuma mau bersihin rumput aja. Jangan gigit aku, ya, Mut." Alhamdulillah, aman!

Karena gubuk saya masih harus direnovasi, tapi keuangan alakadarnya, jadilah suami mengerahkan semua daya dan kekuatannya, serta warisan ilmu leluhur, untuk merenov rumah sendiri. Jadi, kalo hari libur, kegiatan kami berbeda. Suami, bertransformasi jadi kuli bangunan, saya jadi petani.

Suatu hari, suami minta bantuan untuk ngangkutin pasir. Tugas saya cuma memasukkan pasir ke dalam ember menggunakan pacul. Suami yang ngangkutin ke dalam untuk diaduk semen. Gundukan pasirnya ada di samping pohon pisang. Saat pasir dekat pohon pisang mulai berkurang, terlihat gerombolan semut. Aotu kaget dan teriak, "Mas ada semut!" Suami cuma menjawab, "Biarin aja." Cari aman, saya pindah ke posisi lain dari gundukan pasir.

Nah, saat sudah pindah posisi, dan siap memasukkan pasir lagi, saya merasa ada sengatan di kelingking kaki. Saya langsung panik, dan cuci kaki. Kebetulan suami sudah membuat keran di depan rumah. Saat sedang mencuci kaki, saya merasa darah panas menjalar sangat cepat, jantung langsung berdebar, kepala agak pusing, lemas, dan perut berasa keram disertai rasa ingin buang air besar. Saya langsung masuk rumah, sampai di dapur saya sudah nggak kuat, merangkak menuju kamar mandi. Suami ternyata melihat dan khawatir. Saat saya sedang buang air, dia menunggu di luar. Selesainya, saya merangkak keluar kamar mandi dan langsung dipapah menuju kamar. Sampai di kasur saya muntah, lalu pingsan.

Saat siuman, ternyata ada tetangga yang menjenguk, dia menanyakan penyebab saya seperti itu, "Kenapa sampe bisa kayak gitu, Bu Nia? Digigit apa?"

"Kalajengking, Bu," jawab suami.

Saya langsung membantahnya, "Bukan! Semut, kok."

Tetangga malah menyangkal jawaban saya, "Semut kok sampe begitu. Bener kalajengking kali, Bu Nia."

Ya sudahlah, aku manut aja dengan jawaban mereka. Yang aku lihat semut, tapi, aku juga heran kok sengatan semut bisa mengakibatkan reaksi seperti itu.

Keesokan harinya, berita aku tersengat kalajengking tersebar di kalangan tetangga dekat. Satu dua orang, memastikan langsung. Aku cuma mengiyakan, meski nggak yakin. Karena memang yang aku lihat semut, bukan kalajengking.

Sejak saat itu, aku trauma dengan semut. Kegeiatan bebersih kebun digantikan dengan suami. Aku cuma mau ikut bebersih kalo mendesak aja, misalnya kerja bakti warga, atau suami memang tidak sempat dan rumput sudah sangat lebat.

Bertahun-tahun asumsi bahwa aku digigit kalajengking bertahan dibenak. Aku yang belum punya akses internet tak bisa mencari tahu, mau bertanya ke dokter, gejalanya sudah hilang. Jadi dipendam aja.

13 tahun kemudian, tepatnya hari Rabu, 26 Februari 2020, antara pukul 21.00 - 22.00, aku mengalami kejadian serupa. Kali ini semutnya terlihat, karena menggigit tangan kiri, sewaktu mengambil handuk yang tersampir di mesin cuci. Dan langsung aku perlihatkan ke suami bangkai semutnya. Seperti biasa, suami hanya memberi respon santuy, "Nggak papa."

Memang beberapa hari ini semut sedang bergerilya dan menghuni stop kontak rumah, mungkin karena cuacanya dingin.

Mendapat gigitan semut, teringat kejadian belasan tahun lalu. Aku langsung gerak cepat, membalurkan minyak herba sinergi atau budbud ke bekas sengatan semut.

Selang beberapa detik, aku langsung merinding, darah panas mulai menjalar disertai gatal-gatal, tak lama bentol pun beruntun memenuhi seluruh permukaan kulit termasuk kepala. Ketika sedang merasakan panas dan merinding, aku menyeduh susu. Yang aku tahu, susu bisa menetralisir racun.

Ternyata, reaksi bidurannya tidak berkurang dengan minum susu. Terpaksa membangunkan suami yang sudah tidur lebih dahulu untuk membantu mengoles punggung.

"Sudah, Say. Aku tidur lagi, ya?"

Tanpa menunggu jawaban dia langsung menuju kamar.

"Iya, aku belum bisa tidur masih panas."

Sambil menahan rasa panas dan gatal, aku buat story WA, dan searcing google tentang gejala yang sedang aku alami. Dari hasil pencarian, ternyata memang ada sebagian kecil orang yang akan mengalami reaksi seperti aku.

Saat sedang berselancar di dunia maya, mencari semua info tentang akibat sengatan semut, aku merasakan pusing, persendian terasa lemas, perut keram disertai rasa ingin buang air besar. Dengan sempoyongan, aku paksakan ke kamar mandi. Kan nggak etis kalo sampe pup di ruang tamu. Hihihi ....

Ketika sedang buang hajat, aku merasa semakin lemas. Akhirnya aku sudahi, meski rasa mengejan itu masih ada, "Ya Robb, aku nggak mau mati di kamar mandi dan dalam keadaan buang hajat pula. Itu seburuk-buruknya kematian. Kuatkan aku berjalan ke kamar ya Allah."

Kematian itu serasa sangat dekat, karena lemas dan pandangan mulai buram. Alhamdulillah, kuat juga sampe di kamar.

Saat rebahan, aku bangunkan suami dan berwasiat padanya, "Mas, aku masih punya utang 1 kali arisan buku ya. Datanya ada di grup WA. Kalo aku udah nggak ada, tolong bayarin ya."

Suami malah mendengus kasar, dan balik badan.

Aku tak mampu bicara lagi, napas mulai tersengal-sengal, jantung berdebar sangat cepat, rasa mual mulai meningkat, lalu terbatuk karena sesak. Setelah batuk beberapa kali, mual berhasil meluahkan semua isi perut, banyak sekali

Mendengar aku muntah, suami langsung terbangun, dan sigap mengambil lap dan ember, kemudian membersihkan muntahan.

Setelah mengeluarkan semua isi perut, seluruh tubuh masih diselimuti lemas dan panas.

Alhamdulillah nggak pingsan.

"Kamu didigit semut doang kok, sampe kayak gini sih, Say." Suami membelai wajah dan kepalaku, lalu memberikan kecupan keseluruh wajah, "aku takut tau."

"Sama, aku juga takut, Mas." Kupeluk erat suami, "berarti yang dulu gigit aku itu beneran semut juga, Mas, bukan kalajengking," lanjutku.

"Iya. Tapi, besok-besok jangan ngomong kayak tadi lagi, ya." Tangannya menoyor jidatku, "aku nggak mau ditinggal duluan." Lalu mengecup bekas toyorannya.

"Ah, suami nih, marah apa sayang sih?" gumamku dalam hati.

---- the end ----

Udah abis berapa bungkus camilannya, Genks? Tarik napas dulu, yuuk!

Tarik, embuskan. Tarik, embuskan lagi. Tarik lagi, embuskan lagi. Ya cukup. 😊

Nah, dari pengalamanku di atas, meskipun sebagian besar orang tidak mengalaminya, ternyata sengatan semut api bisa berakibat fatal.

Berikut reaksi yang terjadi pada diriku:
1. Darah serasa panas
2. Biduran
3. Pusing
4. Lemas
5. Mual
6. Muntah
7. Pingsan

Berdasarkan beberapa sumber yang saya baca, ternyata reaksi yang saya alami namanya SYOK ANAFILAKSIS. Pada beberapa kasus, bahkan syok anafilaksis ini bisa menghilangkan nyawa penderitanya. Seperti yang di alami Rizki Ananda (25) di Tangerang, yang beritanya dilansir di  era.id.  DetikHealth   juga melansir seorang remaja, Cameron (13) di Texas, meninggal akibat sengatan semut api. Dan beberapa nama lagi dinegara berbeda.


So, jangan anggap remeh gigitan semut api. Karena rata-rata korban syok anafilaksis tidak menyadari jika dirinya alergi sengatan semut, sebelum tersengat dan semuanya sudah terlambat. Mencegah itu lebih baik, Genks.

Untuk lebih jelasnya, Genks bisa menyimak screen shoot dari pencarian gugel, di akhir tulisan saya.

Semoga bisa dijadikan pembelajaran untuk lebih waspada. Doa saya, semoga Genks dan anggota keluarga tidak mengalaminya. Jika, diperlukan jangan ragu-ragu untuk mengunjungi dokter.

Bye ....

Bekasi, 27 Februari 2020


Jumat, 13 Desember 2019

Melukis Jejak Diri

Perjalananku diawali pada tahun 2017, saat untuk pertama kalinya mendapat hadiah smartphone dari suami tercinta, Samsung galaxy J1 ace.

Setelah menguasai cara penggunaannya, segera kumanfaatkan untuk membunuh rasa penasaran akan dunia tulis-menulis yang virusnya telah menjangkitiku sejak masih di SMEA dulu, medio tahun 1995/1996, ketika mulai aktif di ROHIS dan berlangganan baca majalah Ummi dan Annida yang tersedia di perpustakaan mini ruang ROHIS.

KBM, Komunitas Bisa Menulis, menjadi sasaran pertama dalam memijak di dunia literasi, diawali sebagai silent rider -- sampai sekarang. KBM belum mampu menghilangkan dahaga yang telah kutahan puluhan tahun, aku mulai masuk ke beberapa grup sekaligus demi meneguk dan melahap sajian lezat nan bergizi yang disajikan di tiap grup, gratis pula!

Bukannya puas dengan meneguk dan melahap sajian gratis yang dihidangkan, malah rasa haus dan lapar semakin menjadi. Aku pun ingin bisa menyajikan, agar laparku bisa terobati. Maka, mulailah mengikuti saran teman untuk mengikuti kelas menulis; dari berbayar hingga gratisan.

Alhamdulillah, mulailah aku meramu aksara. Belum sempurna memang, tapi aku menikmati prosesnya. Proses yang membuatku semakin sadar, bahwa menulis mampu meronakan kehidupan.

Kenapa?

Aku adalah seseorang yang tidak mudah menumpahkan semua rasa pada orang lain, memilih memendam semua gelisah sendiri; sehingga ribuan kata yang terpenjara, ratusan rasa yang mendera, dan asa yang terpendam, seringkali menenggelamkan bahagiaku. Maka, menulis menjadi pelampiasan terbaikku.

Alsan Lain Mengapa Menulis?

1. Menjadi Tempat Meluahkan Rasa 
Dulu, aku hanya mempunyai dua tempat yang aman dan nyaman dalam berbagi kisah, sajadah dan buku diary. Sejak mengenal literasi, kuluahkan rasa menjadi karya. Bukan mengejar penggemar atau kuantitas buku yang dihasilkan, tapi kisah yang diabadikan memberikan kesenangan tersendiri. Curhat colongan, istilahku. Membuang sampah tanpa orang lain tahu itu kegundahanku sendiri.

2. Mengasah Kreativitas
Ketika awal menuangkan keluh kesah dalam bentuk tulisan, aku seperti memindahkan isi diary; ejaan yang amburadul, kaidah menulis ditabrak sak kaerepe, juga bahasa yang alay. Seiring waktu, banyak senior yang memberi kritik dan saran, juga pelajaran yang didapat pada kelas menulis, kemampuanku semakin terasah. Meski belum sempurna, tapi aku senang belajar.

3. Menambah Teman  
Dunia literasi seperti dunia keduaku. Dari sinilah, beberapa teman kudapat, dari berbagai penjuru tanah air. Saling sapa dan memberi wacana.

4. Memperluas Khasanah 
Ilustrasi buku by pixabay
Dengan banyak membaca karya teman, mengikuti kelas menulis, dan berlatih, telah memberikan aku pemahaman dan pengalaman baru. Banyak hal yang baru aku tahu, dan tak sadar bahwa selama ini ternyata telah melakukan kesalahan. Semisal; cara penulisan di, selama ini apapun kata yang mengikutinya pasti selalu kutulis terpisah. Tentu banyak hal lainnya lagi, yang baru kudapat dari menulis.

5.  Menghasilkan Rupiah 
Dari sekedar hobi, curhat, rupiah pun aku dapatkan. Dengan mencoba uji nyali mengirim tulisan ke Reviensmedia, alhamdulillah, 12 artikelku nyangkut. Kusyukuri sebagai berkah atas Kemurahan Allah, dan bukti pada diri sendiri, bahwa aku bisa. Meski belum seberapa, harus terus bersyukur, terus belajar, terus mencoba. 

6. Melawan Tua 

Satu hal lagi yang membuat aku semakin menyukai dunia tulis menulis adalah, merasa awet muda. Apalagi jika berkumpul dalam grup kepenulisan yang anggotanya kebanyakan masih jomblo, humoris, dan gokil. Meski jarang ikut berkomentar, tapi cukup terhibur dengan membaca candaan yang sepertinya tak berkesudahan. Dalam beberapa literatur yang kubaca, menulis dapat memperlambat proses demensia. Dimensia acapkali mengganggu proses kerja di rumah, pun tempat kerja. Dengan menulis, daya ingat kita akan bertahan lebih lama, terutama tentang hal yang pernah kita tulis. Dan ini sudah kubuktikan. 

7. Melukis Jejak Diri

Seyogyanya, saat sedang menulis, aku sedang melukis jejak diri. Suatu saat tulisanku akan dibaca oleh anak cucu, dan itu adalah jejak yang kutinggalkan untuk mereka. Karena itulah, aku terus bebenah, semoga hanya jejak kebaikan saja yang kutinggalkan.

Ini menjadi titik balik diriku untuk selalu memperbaiki diri. Semoga apa yang kukerjakan memberi manfaat dan dapat menjadi amal penambah timbangan kebaikanku kelak di yaumil hisab.

Mari menulis.










Selasa, 03 Desember 2019

Dear Desember


Harimu terasa singkat, padahal baru 3 hari terlewati. Masih ada 28 hari lagi, tapi seolah sudah tak ada waktu.

Dear, aku masih punya banyak mimpi yang belum nyata, semoga bisa terajut dan wujud di bulan setelahmu.

Kau tahu, tahun ini aku menahan langkah. Memilih lebih banyak merenung, membaca, dan belajar, berharap teko bisa penuh, hingga mampu menyajikan barang secangkir atau dua cangkir. Nyatanya? Setengah pun tak terisi, masih terasa kosong. Aku sering menyalahkan demensia, yang karenanya aku sering dibuat alpa dan sering gagal paham, salahkah? Atau ini hanya alasan lainnya? Entah .... 😶

Dear, tahun ini mirip sekali dengan tahun lalu. Begitu banyak alasan yang mampir, hingga malas memenjarakan asaku. Meski, ada kalanya gunungan alasan itu terurai, tapi kemudian tiba-tiba menghujani lagi, hingga asaku kembali terhimpit dan sulit bangkit. Terus terulang, seperti terjebak dalam labirin.

Dear, jika kau merasa saat ini aku sedang melukis alasan lagi, kurasa tidak. Aku hanya sedang meramu rasa, memetakan kekuatan, agar tumpukkan alasan dapat terurai kembali. Jangan bosan mengeja setiap aksaraku, karena hanya ini senjata aku mewaraskan diri. Menyadarkan diri dari keterpurukan. Pada-Nya dan pena saja aku dapat meluahkan semua keluh kesah, mulut ini terkunci di hadapan semua insan pun "dia". 😷

Tepat hari ini, kugenggam kembali pena yang telah tergantung beberapa pekan. Bersama Bloger Asongan, semoga bisa merajut asa kembali. Setelah sebelumnya meninggalkan banyak kelas belajar, agar rekan-rekan tak dapat membaca rangkaian alasanku. Ternyata, meninggalkan mereka membuat aku semakin tenggelam. Aku masih butuh pertolongan, butuh suntikkan semangat, butuh genggaman. Aku melupakan kodrat kemanusiaanku, seolah perkasa bisa bangkit sendiri.

Bersyukur, masih ada teman yang siap menggenggam jemari, dan selalu menyiapkan pundaknya untuk sekadar bersandar, meski di dunia maya. Supportnya begitu nyata.

Baca juga : Dear Juli
Dear Desember, saksikan aku yang akan membuat langkah baru. Jangan lekas beranjak, agar Januari dapat kujelang dengan semangat baru. Berharap jejak kebaikan yang kutinggal, agar kelak kugapai husnul khotimah.















Sumber gambar: Ilustrasi Halo Desember by tribunnews






Minggu, 03 November 2019

Ketulusan Hati Yuli


Siang itu, Yuli pulang dengan baju kotor. Bocah perempuan kelas empat SD itu mengendap-endap ketika masuk rumah. Ia segera berganti pakaian. Sebenarnya Yuli bukan jatuh, tapi didorong oleh Arsi. Ini yang ketiga kalinya. Arsi sangat senang menggodanya, dari mengejek sampai mendorong.

Suatu hari, Arsi tidak tampak di sekolah. Yuli merasa kehilangan karena tidak ada yang menegur atau menjahilinya. Ibu guru memberitahu, bahwa Arsi diopname di Rumah Sakit Sentosa karena terserang demam berdarah.

Saat pulang sekolah, Yuli memberitahu kabar tersebut pada ibunya.

“Yuli ingin membesuk Arsi?” tanya Ibu.

Yuli menganggukkan kepalanya.

Ibu Yuli mendekap anaknya, "Iya sudah, nanti sore kita pergi besuk, ya."

"Terima kasih, Bu." Yuli memeluk ibunya erat sekali.

Sore harinya.

Di Rumah Sakit Sentosa, Yuli dan ibunya langsung menuju ruang perawatan anak. Di sana, terlihat Arsi yang sedang duduk disuapi oleh mamanya.

"Temannya Arsi, ya?" tanya Mama Arsi pada Yuli yang terlihat diam tanpa menegur.
Yuli hanya menganggukkan kepalanya.

"Kamu teman pertama yang menjenguk Arsi, lho. Terima kasih, ya." Mama Yuli menjawil dagu gadis manis bertompel itu.

Melihat kehadiran Yuli, Arsi langsung tersenyum, kemudian bertanya, "Hai, Yul. Kamu tidak marah sama aku, kan?"

Pertanyaan Arsi, membuat kedua ibu muda itu spontan bertanya, hampir bersamaan, "Marah kenapa?"

"Eh, tidak kok. Tidak apa-apa." Pertanyaan mereka malah dijawab oleh Yuli.

Pandangan kedua ibu muda beralih ke Arsi. Anak perempuan berusia 10 tahun itu hanya tersenyum.

"Maafin aku, ya? Aku janji tidak akan menggoda kamu lagi," ujar Arsi sambil mengulurkan tangan kanannya.

Yuli menyambut uluran tangan Arsi, “Iya, sama-sama."

Tompel besar yang hampir menutupi pipi kanannya, membuat Yuli dijauhi. Tidak ada yang mau berteman dengannya, bahkan sekedar menegur saja tidak mau. Semua hanya melirik, lalu buang muka.
Hanya Arsi yang mau menegurnya, meski dengan perlakuan yang kurang menyenangkan. Tapi justru, sikap Arsilah yang membuat dirinya merasa diperhatikan. Maka, perbuatan Arsi, tak pernah ia masukkan hati dan tak pernah ia adukan pada guru maupun orang tuanya.

***

Tahukah teman-teman, sikap Yuli yang mau memaafkan Arsi, mencerminkan salah satu dari 99 asmaul husna, yaitu Al Afuwwu artinya Yang Maha Pemaaf, seperti yang Allah firman dalam surah Al Hajj (22) ayat ke-60

{إنَّ اللهَ لَعَفُوٌّ غَفُوْرٌ}

“Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pema’af lagi Maha Pengampun”

Janji Allah, siapa yang memaafkan disaat dia mampu membalas, ia akan meraih Surga.
من سره أن يشرف له البنيان, وترفع له الدرجات فليعف عمن ظلمه, وليعط من حرمه, وليصل من قطعه”
"Barangsiapa yang ingin dibangunkan di surga, dibutuhkannya ia memafkan orang yang mendzaliminya, memberi orang yang bakhil sepakat dan menyambungkan silaturahmi kepada orang yang memenangkannya." (HR. Thabrani).

Dengan mempelajari Asma Allah, Al Afuwwu, Yang Maha Pemaaf ini, kita diharuskan untuk:
1. Beristighfar dan selalu bertaubat atas kesalahan yang sudah diperbuat, serta berjanji untuk tidak mengulanginya,
2. Memaafkan orang lain yang pernah berbuat salah pada kita.

Nia Kurniawati
Sumber gambar: Kaligrafi Al Afuww

Sabtu, 02 November 2019

Al dan Ulat Bulu



Aldrian, bocah lelaki berambut ikal hitam nan lebat yang selalu ingin tahu tentang segala hal.

Suatu hari, Al menemukan sesuatu yang membuatnya takjub saat sedang berkunjung ke rumah Om Vino.

Om Vino sangat suka berkebun. Pekarangan rumahnya cukup luas, ditanami beraneka pohon buah. Ada pohon jambu biji, mangga, pisang, dan nanas.

Saat sedang berjalan di pekarangan, Al menemukan hewan kecil berbulu lebat, halus, memanjang di sepanjang kanan dan kiri tubuhnya, warna kuning keemasan, menempel di daun jambu yang telah gugur. Ia berjongkok lalu mengamatinya.

Mama yang melihat tingkah Al, penasaran dengan temuan anaknya. Mama pun ikut jongkok di samping Al, "Sedang lihat apa, Al?"

Al menunjuk ke daun jambu yang baru saja ia balik, "Lihat, Ma! Lucu ya?"

Mama terjengkang ke belakang sampai terjatuh duduk, sambil memegang dadanya "Astaghfirullah, Al!"

Al malah tertawa melihat reaksi mamanya.

"Al, itu ulat bulu. Jangan dibuat mainan. Geli dan bisa gatal-gatal kulit kamu!" ujar Mama sambil menepuk-nepuk bajunya.

"MaasyaAllah. Allah itu hebat ya, Ma? Bisa menciptakan ulat bulu dengan berbagai jenis bentuknya."

"Dari mana Al tahu?"

"Kan di rumah kita juga pernah ada ulat bulu, yang warna hitam bintik merah, terus ada lagi yang warna hijau yang ada di pohon jeruknya Mama."

"Oh, iya." Mama bangkit sambil menggandeng tangan Al, mengajaknya masuk ke dalam rumah Om Vino, "lalu, apalagi yang membuat Al bisa bilang Allah itu hebat?"

"Al, Mama, Papa, Nenek, Kakek, Om Vino, Tante Amel, pohon, gunung,  pokoknya semuanya Allah yang menciptakan!" seru Al sambil melompat dan mengangkat kedua tangannya ke udara.

Teman-teman setuju, ya, dengan Al, bahwa Allah itu memang hebat.

Lihatlah gugusan bintang di langit, deretan gunung, hamparan pepohonan, dan semua yang ada di bumi dan di langit.

Pada awalnya, semua itu tiada. Sebab, segala sesuatu tidak mungkin ada dengan sendirinya. Siapa yang mengadakannya?

Ya, teman-teman benar! Semua Allah yang mengadakan. Itulah sebabnya Allah juga dikenal sebagai Al Bari', Yang Mengadakan dari Yang Tiada.

Allah berfirman:

هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ 
Terjemah Arti: Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al Hasyr (59) ayat 24)

Nah, teman-teman, mari kita mengagungkan Asma Allah, Al Bari' dengan cara:
1. Selalu memuji ciptaan Allah,
2. Tidak menghina bentuk ciptaan Allah,
3. Selalu berdzikir.

Nia Kurniawati

Sumber gambar: Kaligrafi Al Baari

Jumat, 01 November 2019

Pesan Bunda



Ibu sedang sibuk menyelesaikan pesanan gado-gado dari Ibu Berty, saat Lucky tiba dari sekolah.

"Bunda, Lucky bantu, ya?" tanya Lucky, setelah memberi salam dan mencium tangan Bundanya.

"Alhamdulillah, boleh." Bunda tersenyum pada Lucky, "tapi ganti baju dulu, ya."

Lucky langsung masuk ke dalam rumah dan berganti pakaian, lalu menghampiri Bundanya lagi.

"Tolong, antarkan gado-gado ini ke Ibu Berty, ya." Ibu menyerahkan kantong plastik warna hijau yang berisi 1 bungkus gado-gado.

"Baik, Bu," ucap Lucky.

"Tapi, Lucky harus ingat, ya. Tidak boleh meminta upah ke Ibu Berty," pesan Bunda pada Lucky.

"Siap, Bunda." Lucky pun bergegas ke rumah Ibu Berty.

Sesampainya di rumah Ibu Berty, Lucky lantas menyerahkan bungkusan gado-gado tersebut.

"Terima kasih ya, Nak Lucky," ucap Ibu Berty sambil memberikan satu lembar uang dua ribuan, "ini, upah buat kamu."

"Maaf Bu, saya tidak bisa menerimanya." Lucky menolak pemberian Ibu Berty dengan sopan.

"Tidak boleh, ya, sama Bunda?" Ibu Berty tetap  merayu Lucky. "Kan, Bunda tidak lihat?"

"Tapi, Allah kan lihat, Bu," jawab Lucky, "lagi pula, Lucky membantu supaya makin disayang Allah dan Bunda."

Ibu Berty tersenyum, "Anak hebat! Terima kasih ya, Nak Lucky." Ibu Berty membelai rambut Lucky dan melambaikan tangannya saat Lucky berpamitan pulang.

Lucky pulang dengan bahagia, karena sudah bisa membantu Bunda.

Sabtu, 17 Agustus 2019

Tips Memasak Daging Kambing Empuk, Hemat Gas, dan Bebas Prengus

Oleh: Nia Kurniawati


Mudah-mudahan artikel ini nggak terlalu telat, ya, Gengs. Meski Idul Adhanya sudah lewat, semoga masih ada sisa daging kambing yang belum diolah, atau bisa juga dijadikan resep untuk tahun depan.

Kenapa telat? Karena saya harus mempraktekkannya terlebih dahulu. Dan, daging kambing sulit didapatkan di pasar traditional, kecuali seperti saat Idul Adha.

Daging kambing banyak dikeluhkan aroma amis dan prengusnya. Oleh karena itu, ada sebagian yang tidak menyukai daging kambing karena aromanya ini. Nah, di artikel ini, saya bakal bagiin tips dan triknya bukan hanya menghilangkan aroma prengus. Tapi juga, agar daging kambing empuk, hemat gas, dan pastinya no ribet.

Oke, Gengs, kita langsung cuss aja intip tips dan triknya.

1. Daging kambing yang akan diolah tidak perlu dicuci terlebih dahulu. Tapi, saya kok nggak tega ya, kalo langsung memasaknya tanpa proses mencuci.

Untuk itu, saya menyiapkan dua panci sekaligus.
Satu panci berisi air yang sudah diberi bumbu (optional). Satu panci lagi berisi air biasa, sebanyak setengah panci.

2. Saat panci yang berisi air biasa telah mendidih, celupkan daging kambing satu persatu, sambil digoyang-goyangkan untuk menghilangkan pasir atau rumput yang mungkin terbawa. Langsung tiriskan. Buang air sisa rebusannya.

3. Potong-potong sesuai selera, lalu masukkan dalam panci berisi bumbu.

4. Panaskan panci yang telah berisi daging dan bumbu sampai mendidih.

5. Lima menit setelah mendidih, matikan kompor selama 30 menit dalam keadaan panci tertutup. FYI, meski kompor telah dimatikan tapi proses pemasakan tetap berlangsung.

6. Kemudian, masak kembali daging selama tujuh menit.

7. Daging kambing bebas prengus sudah bisa disajikan.

Nah, mudah dan no ribet, kan, Gengs? Selamat mencoba, ya.

*Note: saya memasaknya langsung saat baru dapet daging kambing. Cuma baru sempat menuliskannya. Kalau daging yang sudah masuk kulkas, belum dicoba. 🙏