Selasa, 11 Juni 2019

Buat Kamu yang Sedang Putus Cinta, Ikhlaskan atau Kamu Kena TBC


Membahas cinta sejoli memang tak 'kan pernah selesai. Tak cukup satu buku mengisahkan berbagai romantikanya. Dari mulai zaman Adam dan Hawa, hingga kini SBY dan Ani. Terus terkisahkan tiada henti, selama manusia masih menempati bumi.

Ada kisah yang berakhir tragedi seperti Romeo dan Juliet, ada pula yang bertabur bunga dari awal hingga terpisahkan maut seperti Ainun dan Habibie.

Ada yang ditinggal karena pengkhianatan, terpisah karena adat, tak dapat bersatu karena agama, tak dapat bersanding karena maut, dan kisah kelam lainnya.

Jika saat ini, Sobat sedang berada dalam kisah kelam --putus cinta, jangan bermuram durja.

Kalo terus meratapi, yang ada bukannya bahagia, tapi TBC (Tekanan Batin karena Cinta). Nah, bahaya 'kan!

Sebelum kena TBC akut, yuuk kita cegah, dengan mencari hikmah atas putusnya cinta.

Hikmah Putus Cinta

1. Memperingatkan kita bahwa pacaran itu salah

Dalam Surah Al Isra (17) ayat ke 32, Allah berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰۤى اِنَّهٗ كَا نَ فَاحِشَةً ۗ وَسَآءَ سَبِيْلًا
"Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk."

Kenapa pacaran dikatakan mendekati Zina?

Kalo pacaran pasti  kamu pengennya ketemuan terus, 'kan? Nggak ketemu maunya teleponan terus. Kalo udah ketemu, deket-deketan, pandang-pandangan, pegang-pegangan, cium-ciuman, peluk- ..., stop! Hehehe... nanti kebablasan.

Nah! Aktivitas seperti itu yang dikatakan mendekati zina.

Tapi 'kan, aku pacarannya islami lho, nggak pake deket-deketan apalagi pegang-pegangan.

Ada yang begitu?

Heemmm... pacaran islami itu cuma ada setelah diikat akad, jadi mo ngapa-ngapain aja bebas dan berpahala. Asal nggak ngelakuinnya di depan publik aja.

Terus?

Kalo mau menikah, dan sudah benar-benar siap, ya, ta'aruf (kenalan) aja, jangan pacaran. Ingat, ta'aruf itu beda lho, sama pacaran.

So? Enough!

2. Doi bukan jodoh kita

Ini yang harus kita yakini, Allah nggak akan mengambil sesuatu yang baik kecuali diganti oleh yang lebih baik.

Percaya deh, kalo jodoh mah sejauh apa pun pasti akan mendekat. Kalo bukan jodoh, meski pun dekat, ya, pasti akan menjauh.

Coba renungkan ini:

“Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya.” (Imam Syafi’i)

3. Mengajarkan kita untuk  bersabar.

Nggak akan mungkin dibilang sabar kalo belum pernah diuji. Anggap ini ujian, ikhlasin aja. Kalo Allah mau ngasih rezeki pasti komplit sama pembungkusnya. Ibarat permen, kita cuma mau nerima permen yang masih utuh dalam kemasannya, 'kan? Karena lebih yakin akan kebersihan dan kualitasnya.

Jodoh itu rezeki, jadi, terima putus cinta ini sebagai ujian/bungkus permen, dibalik itu pasti ada permen manis untuk kita.

Allah SWT berfirman:

فَاِ نَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۙ 
"Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan,"
اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۗ 
"sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."
(Al Insyirah ayat 5 dan 6)

Ini juga harus jadi pegangan:

“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik .” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shohih)

See! Janji Allah itu pasti, tugas kita cuma yakin.

Nah, kalo sobat udah paham hikmahnya, cuslah move on.

Langkah-langkah Move On

1. Perbaiki sholatnya

Minta pertolongan dengan sabar dan sholat. Kalo udah bisa bersabar, kencengin dah tuh sholatnya. Geber pake rawatib, dhuha, dan tahujudnya jangan ketinggalan.

Allah SWT berfirman:

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِا لصَّبْرِ وَا لصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 153)

2. Akrabkan diri dengan Al Qur'an

Al Qur'an bisa menjadi obat, sakit fisik maupun hati. Perbaiki bacaannya, banyakin tilawahnya, tingkatin hafalannya, dan amalin.

3. Perbanyak dzikrulloh

Kalo lagi putus cinta, banyak yang suka pada sering melamun, mikiran mantan, mikiran pilihannya mantan, mikiran kenapa begini, kenapa begitu, dan lain-lain. Ini bahaya! Bisa ngerusak hati dan yang paling serem, kerasukan. Bukan nakutin, cuma ngingetin aja.

Daripada, daripada, mendingan perbanyak mengingat Allah aja. Dijamin bikin tentrem dan sehat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (Qs. ar-Ra’du (13): 28).

4. Hadirilah majelis taklim

Ini nggak boleh dilupakan. Saat kita sedang terluka, jangan menyendiri. Cari tangan yang bisa menggenggam kita keluar dari jurang nestapa.

Agar move onnya terjaga, perlu membersamai orang-orang sholeh yang bisa menasihati saat kita sedang terpuruk. Dengan hadir di majelis taklim, menimba ilmu, dan berkumpul dengan orang sholeh, insyaAllah akan membuat kita semakin kuat.

Oke? Alhamdulillah. Selamat bebenah hati.

Bekasi, 11 Juni 2019.

------ 💘@@@@@@@💘 ------

Yakin Udah Move On?
By Nia Kurniawati

Katanya sudah melupakan, tapi selalu berkata dan menulis tentang dia.

Katanya sudah move on, tapi selalu peduli apakah dia acuh atau tidak.

Katanya ingin bangkit, tapi selalu  meratapi.

Memang susah urusannya kalo patah hati, apalagi soal pengkhianatan. Kita masih sayang, tapi tak sudi berbagi. Lalu, membiarkannya pergi membawa separuh hati. Kita meradang, mereka bahagia.

Setiap hari menanya kabar, bukan padanya, tapi dinding sosmed. Apa guna?

Saban menit mengoceh, seolah diri paling menderita.

Saban jam berkoar, seolah dia paling durjana.

Bila seperti itu, kapan luka akan sembuh? Ocehan dan koaran ibarat garam yang ditabur pada luka, bukan sembuh tapi malah semakin perih.

Lalu, bagaimana? Melupakan jelas tak mungkin apalagi jika dia adalah cinta pertama.

Peluk luka itu, balut dengan doa semoga dia bahagia dan kau pun bahagia. Taburi dengan syukur, perpisahan terjadi sebelum ijab mengikat diri. Lantas berkemas, memantaskan diri untuk pengganti yang pasti lebih baik. Hiasi dengan amal sholeh terbaik.

Tak mudah memang, tapi bukan sesuatu yang mustahil. Jangan hiraukan lagi apakah dia masih memedulikan kita atau tidak. Apakah dia terus menyelidik atau tidak. Apakah dia bahagia atau tidak. Apakah dia ... stop!

Lekas, lekaslah berkemas!

Bekasi, 11 Juni 2019










Rabu, 05 Juni 2019

Pengalaman Pertama

Hai, Gengs, apa kabar?
Semoga selalu dalam naungan Allah. Diberi kesehatan jiwa dan raga, keberkahan dan keta'atan beribadah pada-Nya.

Masih suasana lebaran, aku ucapin Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1440 Hijriyah, Taqobbalallahu minna wa minkum, Shiyamana wa shiya minkum, Kullu 'aam wa antum bi khoir. Mohon maaf lahir dan batin, ya, Gengs. Mungkin ada kata-kata dari postingan aku yang menyinggung perasaan.

Ramadhan baru aja berlalu, Gengs. Ada rasa pilu, sesak, khouf, dan roja' menyelimuti kalbu. Akankah, kita dipertemukan dengan Ramadhan yang akan datang?

Di antara pilu, terselip bahagia. Karena bertemu orang terkasih, saudara, dan teman yang lama tak bersua. Iedul Fitri, memang selalu seperti itu. Sedih ditinggal Ramadhan, sekaligus bahagia meyambut jiwa yang kembali fitri, insyaAllah.

Nah, pada lebaran kali ini, ada kebahagian tersendiri buat aku, Gengs. Yaitu, bisa bikin ketupat sendiri.

Norak? Biarin aja. Namanya pengalaman pertama. Yang pertama memang selalu bikin excited n happy. Hehehe...

Jadi gini, Gengs. Aku tuh kan, termasuk jenis orang yang sedikit pemalas. Sedikit, lho, ya, ga banyak. Nah, untuk urusan makan, seringnya aku cuma bisa jadi penikmat. Kecuali untuk makanan; nasi putih, tempe goreng, tahu goreng, telur ceplok, dan telur dadar. Ke-5 makanan tersebut aku udah bisa ngolahnya. Jangan diketawain, lho! Ya, diketawain juga. Tapi, oke lah, ga papa, masih lebaran, aku maafin. Wkwkwkwk ....

Sajian lebaran, seperti ketupat dan opor ayam, hampir bisa dipastikan selama 41 tahun, aku cuma bisa jadi penikmat aja. Nah! Tahun ini, beda, Gengs. Aku bisa buat ketupat dan opor-oporan ayam sendiri (namanya opor-oporan, karena lupa ga beli santennya. Mau balik, males. Jarak pasarnya lumayan dari rumah. Warung deket rumah dah pada mudik orangnya).

Ketupatku itu istimewa, Gengs. Ini alasannya:

1. Buatan sendiri
2. Kreasi perdana
3. Masaknya cepat
4. Campuran beras merah, beda dengan ketupat lainnya
5. Enak. Meski kata ponakan "kupate atos koyo watu". Tetep istimewa. Salah sendiri, makan ketupat yang udah masuk kulkas tanpa diangetin dulu.

Sebelumnya, aku ga pernah mau nyoba bikin ketupat sendiri karena alasannya banyak.

1. Lama
2. Boros gas, karena ga punya tungku dapur kayu
3. Takut gosong, karena harus sering ngecek keadaan air rebusan

Ternyata, alasan itu semua terbantahkan setelah aku membaca postingan kakak di WA grup family tentang sistem masak 5.30.7. Untuk lebih meyakinkan, aku cek google. Ternyata udah banyak testimoni keberhasilannya. Hasil jelajah google itu, membuat aku memutuskan beli solongsong ketupat pada hari Senin, 3 Juni 2019. Aku ga berani beli banyak, cuma 10 buah aja. Juga beli satu ekor ayam, satu papan tempe, dan bumbu dapur.

Fyi, aku lebih suka tempe daripada ayam. Makanya, opornya aku campur tempe.

Apa Itu Cara Masak Dengan Metode 5-30-7?

Seperti yang dilansir oleh doyanresep.com, 5.30.7 itu merupakan metode memasak dengan 5 menit perebusan, diamkan perebusan selama 30 menit dengan posisi kompor dalam keadaan mati dan panci tertutup rapat, kemudian rebus kembali selama 7 menit. 5 menit pertama dihitung setelah air mendidih ya, Gengs.

Karena ini pertama kalinya aku coba masak, aku ga mau dong gagal. Meski dalam tahap belajar gagal itu sebuah keharusan. Tapi, selama bisa diminimalisir, kenapa ga? Jadilah, aku melakukan uji coba dulu.

Berhubung selongsong ketupatnya terbatas, dan aku malas balik lagi ke pasar, aku coba buat dengan menggunakan plastik yang ada di rumah, plastik es mambo. Jangan ditiru ya, Gengs. Kurang baik untuk kesehatan.

Aku buat lontong beras merah, dengan menggunakan plastik. Ga banyak, cuma lima buah aja. Plastik, aku isikan beras merah campuran yang sebelumnya sudah dicuci. Isinya dua per tiga dari panjang plastik. Aku masak dengan metode 5.30.7. Dan ... alhamdulillah berhasil.
DokPri

Semakin kuatlah, keyakinanku untuk eksekusi ketupat. Dan ... alhamdulillah berhasil.
DokPri

Opor-oporan ayam juga aku masak dengan metode yang sama, hasilnya? Alhamdulillah berhasil. Dagingnya empuk, tapi keasinan. Awas! Jangan diketawain.
DokPri
DokPri

Alhamdulillah.

Next, aku mau coba bikin bubur kacang ijo. Ayo, Gengs coba juga yaaa ...! Untuk resep cara bikin ketupat beras merah ala-ala Nia, lebih lengkapnya tunggu di postingan berikutnya. 😉

Selamat mencoba!

Bekasi, 6 Juni 2019

Sabtu, 01 Juni 2019

Paradox of Candy

Gambar permen dokumen pribadi

Suatu hari, saya sedang dalam keresahan yang sangat. Seorang teman yang sering saya jadikan panutan dan guru dalam dunia tulis menulis, tiba-tiba mengirim chat, "Kak, mau baca buku non fiksi, ga? Bukunya bagus banget lho!". Dia juga mengirimkan e-book yang berjudul Rahasia Magnet Rezeki karya Ust. Nasrullah.

Dalam hati saya berpikir, "MaasyaAllah, kok bisa ya?" Ternyata benar. Allah akan mengirimkan, mendekatkan orang-orang yang satu frekuensi dengan kita.

Padahal, teman saya itu tidak tahu kalau saya sedang galau. Saya tak pernah sekali pun curhat tentang masalah kehidupan padanya. Tapi seperti ada pemantiknya, langsung terhubung.

Pada saat dia mengirim chat dan e-book itu, saya sedang membaca buku fisiknya Rahasia Magnet Rezeki yang sudah saya beli tahun lalu, dan baru berkeinginan membacanya sekarang.

Meski demikian, saya tetap takjub dan terheran-heran, apakah ini yang namanya keajaiban seperti yang Ustadz Nasrulloh paparkan dalam buku ini? Dan saya langsung mengiyakan pertanyaan dalam hati itu.

Dua insan, berbeda pulau, yang tak pernah chat masalah kehidupan, sama-sama terhubung dengan satu buku Rahasia Magnet Rezeki.

Saya tidak tahu, karena tidak menanyakan, apa alasan dia mengirim e-book tersebut. Yang jelas ini semakin membuat saya yakin akan keajaiban Allah itu memang ada.

Sungguh, jika bukan Allah yang menggerakkan hatinya, siapa yang bisa? Karena sesungguhnya, Allah pemilik hati para makhluk-Nya.

Ada tulisan yang sangat menarik perhatian saya dalam buku ini, yaitu, Paradox of Candy.

Dalam buku ini, Ustad Nasrulloh menjelaskan, bahwa Allah mengirim rezeki sepaket dengan bungkusnya. Apa bungkusnya? Ialah ujian, masalah, kesulitan sesuatu yang tidak kita sukai. Jika kita menolak ujian atau  masalah, dengan mengeluh dan merasa itu suatu beban, maka, sama artinya kita menolak rezeki itu sendiri.

Astaghfirullohal 'Adhziim.

Inilah yang sering menjadi keresahan hati. Merasa jauh dari nikmat, banyak doa yang tidak dikabulkan, tapi masalah datang silih berganti. Ternyata, ini yang membuat rezeki itu seolah enggan memghampiri, karena saya memang selalu menolak bungkusnya.

Terima kasih banyak Neng Djo, semoga Allah senantiasa memberkahimu dan keluarga. Aamiiin.

Bekasi, 01 Juni 2019



Rabu, 24 April 2019

Wisata ke Goa Ngerong

Oleh: Nia Kurniawati

Di ruang tamu,  tampak Ibu, dan Ahmad, kakaknya Tiara, sedang menonton televisi. Tiara langsung bergabung, dengan duduk di sebelah ibunya.

"Habis ngapain, dari tadi di kamar terus, Dek?" tanya Ibu.

"Merapikan pakaian dan perlengkapan yang akan aku bawa lusa, Bu." Tiara menyandarkan kepalanya di pundak Ibu, "lusa, kita jadi berangkat ke Bandung, kan, Bu?"

Ibu segera membalikkan badannya menghadap Tiara.

"Astaghfirullah, maaf, Sayang. Ibu lupa memberitahu sesuatu." Tangan kiri Ibu menggenggam jemari Tiara, dan tangan kanannya membelai kepala Tiara.

"Besok, Ayah harus berangkat ke Bojonegoro. Ada masalah di kantor cabang," lanjut Ibu.

Ahmad yang duduk di karpet, depan Ibu pun langsung menoleh.

"Yes!" Ahmad mengepalkan tangannya dan menariknya menyiku dengan semangat.

"Mas Ahmad kok senang, sih?" Tiara memprotes tindakan kakaknya.

"Besok aku mau tanding futsal, final."

"Yaahh! Gagal liburan lagi deh." Tiara menghempaskan punggungnya ke sofa yang sedang ia duduki.

"Maaf ya, Dek. Nanti kita bicarakan lagi sama Ayah." Ibu berusaha menghibur Tiara.

Keesokan harinya.

Setelah berdiskusi, Ayah sepakat membawa keluarga silaturrahim ke Rumah Eyang Umiyati di Rengel, Tuban. Ayah akan tetap meeting ke Bojonegoro, jarak Rengel - Bojonegoro hanya 30-45 menit dengan mobil pribadi. Sementara, Tiara dan Ahmad akan berwisata ke Goa Ngerong yang ada di Rengel bersama Ibu. Ahmad, tidak jadi ikut pertandingan futsal, karena tidak mau ditinggal sendiri.

"Ayo!" Ahmad menggandeng tangan adiknya.

"Males, Mas. Tempatnya nggak bagus." Tiara menuruti perkataan kakaknya dengan langkah lunglai.

Sejak memasuki gerbang, Tiara sudah tidak berminat menjelajah tempat wisata Goa Ngerong. Ia hanya melihat sungai dan goa yang gelap. Di tempat itu, tidak nampak  wahana bermain apa pun.

"Ayo cepat, itu Ibu sudah melambaikan tangannya, agar kita bergegas." Kali ini Ahmad sedikit menarik tangan Tiara.

Tiara menahan langkahnya, hingga ia tampak terseret-seret.

"Ini!" Setelah mendekat, Ibu memberikan biji kapuk pada Tiara dan Ahmad, masing-masing sekantung.

"Ini, buat apa, Bu?" Tiara memandang aneh biji kapuk yang digenggam ibunya.

"Lihat aja. Yuuk!" Ibu tidak lansung menjawab. Beliau malah mengajak Ahmad dan Tiara mendekati bibir sungai.

"Wah, ikannya besar-besar, Bu." Ahmad sangat antusias, melihat ikan beraneka jenis dengan ukuran jumbo, saat duduk di bibir sungai yang telah dipondasi.

Tiara masih mengatupkan kedua bibirnya. Meski takjub, tapi Tiara belum merasa senang.

"Buat ditabur di sini, Bu?" Ahmad mengambil segenggam biji kapuk.

"Iya." Ibu mengangguk sambil menaburkan biji kapuk ke dalam sungai.

"Waaah ...!" Tiara dan Ahmad berucap bersamaan, saat menyaksikan puluhan ikan langsung berebut mengerumuni dan memakan biji kapuk yang disebar. Ada beberapa jenis ikan, ikan nila, mujaer, lele, dan gurami.

"Bu, lihat!" Tiara menunjuk ke hulu sungai. Tampak dua orang anak dan seorang bapak berenang sambil menangkap ikan.

"Boleh turun, Bu?" tanya Ahmad.

"Silakan. Adek juga."

"Asyik!" Tiara mulai tampak antusias, saat diperbolehkan turun ke sungai. Berenang adalah hobinya.

Sungainya dangkal, hanya sepaha Tiara, airnya jernih, sehingga ikan dan bebatuan di dasar sungai terlihat jelas. Beberapa ekor ikan mendekati dan berenang di antara kaki Tiara dan Ahmad. Mereka tertawa menahan geli, saat ada lele yang mendekati kakinya. Tiara bahkan sampai memeluk Ahmad.

"Mas, ada kura-kuranya." Tiara setengah berteriak sambil mengejar kura-kura berwarna putih yang baru saja dilihatnya.

Meski pergerakannya lambat, tapi di dalam air, gerakan Tiara ternyata lebih lambat. Kura-kura itu berhasil lolos menuju pintu Goa.

Tiara enggan mendekat, karena bising suara dari ribuan kelelawar yang menggantung di mulut Goa, serta aroma yang membuat mual.

"Yeay!" Ahmad teriak kegirangan, saat ia berhasil menangkap ikan.

"Kita bawa pulang, Mas." Tiara ikut sumringah.

"Tidak boleh, lepaskan kembali, Mas Ahmad," perintah ibu.

"Kenapa, Bu?" tanya Tiara dan Ahmad bersamaan.

"Nanti kamu bisa sakit, bahkan mati, Dek." Seorang bapak yang mendengar percakapan Ahmad, langsung berkomentar. "Udah banyak korbannya," lanjutnya lagi.

"Terima kasih, Pak." Ibu menangkupkan ke dua tangannya di dada.

Bapak yang mengenakan kaos merah dan celana pendek itu, segera berlalu bersama kedua anaknya, sambil menganggukkan kepala.

Ibu menyuruh anak-anak untuk lekas naik dan berganti baju.

Setelah berganti baju, sambil memakan bekal di depan replika ikan nila yang ada dekat gerbang, Ibu melanjutkan pembicaraan yang belum tuntas di sungai tadi.

Ibu bertanya pada Ahmad terlebih dahulu, "Menurut kamu apa yang terjadi jika semua pengunjung mengambil ikan dan kura-kura yang ada di sini, Mas?"

Ahmad mengerutkan kening dan menempelkan telunjuknya di ujung bibir, lalu menjawab, "Lama-lama koleksi ikan dan kura-kuranya akan habis, Bu."

"Benar!" Ibu mengacungkan jempol kanannya ke arah Ahmad.

"Adek, bagaimana menurut kamu?" Kini giliran Tiara yang ditanya Ibu

"Takut sakit, nanti mati lagi, Bu. Seperti yang Bapak tadi bilang."

Ibu dan Ahmad tertawa kecil bersamaan mendengar jawaban Tiara.

"Bu, itu kan cuma mitos ya, Bu?" tanya Ahmad.

"Terlepas itu mitos atau bukan, tapi kita harus menghargai kebudayaan dan adat setempat," jawab Ibu.

"Setuju!" Tiara dan Ahmad bersamaan mengacungkan jempol kanannya ke arah Ibu.

Mereka pun tertawa bersama.

--The End--

Naskah ini telah dibedah oleh Kak Bambang Irwanto di Kurcaci Pos.

Sabtu, 26 Januari 2019

Pertanyaan yang Tak Pernah Terjawab



"Bu Nia, tanda-tanda orang mau pergi bagaimana, sih?"

Sebuah chat WA dari seorang teman membuat hati ini berdesir aneh, gemuruhnya membuat lidah kelu, dan jempol kaku. Sesaat aku bergeming.

"Bu Ika, mau pergi ke mana memangnya?"

Pertanyaannya kubalas dengan pertanyaan candaan, meski aku tahu ke arah mana persoalan itu menuju.

Dwi Rasika Sari, atau yang biasa kupanggil Bu Ika, adalah rekan mengajar di bimbel yang kuselenggarakan sore hari di rumah, sahabat sekaligus teman berdebat. Dengannya aku bisa beradu argumen tanpa  sentimen. Marah tanpa berpura-pura, tapi tak berbekas. Sejak pertengahan tahun 2017, beliau resign karena menderita pengeroposan pada bantalan tulang punggung yang membuat ia tak leluasa bergerak. Pada awal tahun 2018 menjalani operasi penyambungan ruas tulang belakang. Sejak saat itu kondisinya terus menurun, bahkan harus terus berbaring.

"Soalnya B.A.B.ku coklat banget dan sangat lengket. Kata orang tua zaman dulu, itu tanda-tanda orang mau pergi."

Mataku memanas, jantung berdegub tak berirama, dan lelehan hangat akhirnya mengalir di pipi. Dia tetap menjawab dengan serius, tidak menanggapi candaanku.

"Bu Ika, rezeki, hidup, dan mati itu urusan Allah. Ada orang yang divonis dokter hanya menunggu waktu saja, nyatanya bisa panjang umur. Ada yang sehat-sehat saja ternyata hidupnya hanya sebentar. Semangat Bu Ika!"

Balasan penuh pencitraan untuk memotivasi ku kirimkan. Padahal jempol ini bergetar saat mengetiknya. Entah mengapa perasaanku menghianati otak. Aku merasa ketakutan saat membaca chat Bu Ika, tapi logikaku melarang mempercayai firasat itu. Aku tak boleh mendahului takdir, semua Allah yang putuskan.

"Iya, Bu Nia. Aku selalu semangat, sudah kangen sama anak-anak."

"Nah, begitu Bu Ika. Siip! Aku juga kangen pengen ngajar bareng lagi. Mmuaach." (Emot kiss)

Ku akhiri chat itu dengan rasa yang entah. Untuk meminimalisir keadaan, hp segera ku letakkan di meja.

Selang beberapa hari setelah itu, tepatnya tanggal 27 April 2018, sinyal indosat di perumahan tempat tinggalku tenggelam. Hingga membuat aktifitas komunikasi tersendat. Sinyal, baru didapat saat berada di luar lingkungan perumahan.

Ternyata, Bu Ika sering menelepon WAku. Notifikasi itu kudapat saat sedang berada di TK, tempat aku mengajar berjarak 9 km dari rumah. Karena sibuk, ketika di TK tidak leluasa untuk menelepon, ataupun membalas pesan, maka aku memilih mengabaikan notif dari Bu Ika. Toh, nanti aku bisa ke rumahnya, bicara langsung.

Seminggu sebelum Ramadhan tiba, Bu Ika kembali mengirim chat.

"Bu Nia, aku boleh puasa, ga? Luka operasiku masih terbuka."

"Bu, kalo tarawih di rumah, boleh ga?"

Lagi-lagi, WA itu baru terbaca saat siang hari di TK, waktu menjelang pulang ke rumah.

"Ah, nanti sajalah ngomong langsung di rumah biar enak dan jelas," batinku. Mengurungkan niat membalas pesan, karena sudah waktunya pulang.

Ternyata, sampai di rumah raga langsung menyerah pada kasur, minta dicarge untuk persiapan les sore. Sampai beberapa hari kemudian, niatku belum tertunaikan juga. Hingga pada hari terakhir di bulan Sya'ban.

Sore itu, kupaksakan silaturrahim ke rumah Bu Ika meski kepala terasa pusing. Khawatir tak ada lagi kesempatan menjawab pertanyaan-pertanyaan Bu Ika seputar Ramadhan, karena besok sudah puasa.

Rumahnya sepi. Kendaraannya, motor ataupun mobil yang biasa terparkir di depan rumah tidak ada. Terpaksa bertanya pada tetangga depan rumahnya, Ibu Uci,  yang sedang mencuci motor

"Lagi pergi kali, Bu."

"Bagaimana keadaannya Bu Ika, Bu?"

"Kemarin sih, saya lihat sudah bisa duduk di teras depan."

"Alhamdulillah. Semoga bisa pulih seperti semula."

"Aamiiin."

Kami mengucapkan aamiiin bersamaan. Meski sedikit lega mendengar Bu Ika sudah bisa duduk di teras, --sebelumnya selalu terbaring selama dua bulan--, masih ada yang mengganjal di hati karena belum bisa bertemu dan menjawab pertanyaannya tempo hari.

Rasa sesal mengiringi langkahku menuju pulang ke rumah. Inilah buah penundaan dan kemalasan.

Malam ini adalah sahur pertama. Berdasarkan kebiasaanku, biasanya aku akan bangun jam 03.00 dini hari, agar bisa makan shur di akhir waktu, sesuai yang disunnahkan Rosul. Tapi, sejak jam 01.00 mata sudah tak ingin terpejam. Pertanyaan Bu Ika terus mengiang di kepala. Kuputuskan mengadukan semua resah pada Pemilik Kehidupan.

Sekitar jam 2 lewat, terdengar pengumuman kematian. Tak jelas namanya, karena angin bertiup lumayan kencang. Tapi hatiku gundah tak terkira, wajah Bu Ika terbayang. Hujanan istighfar deras mengalir dari lisan, air mata menganak sungai. Semoga prasangka ini salah.

Tafakur di ruang tamu, tempat les biasa diselenggarakan, malah membuat aku mampu menangkap siluet Bu Ika yang sedang duduk mengajar, dan memanfaatkan sisa waktu sebelum pulang untuk menulis tugas anak-anak keesokan harinya.

Sosok yang tegas buat anak-anak, namun penuh canda tawa saat membawakan materi. Membuat suasana belajar menjadi kondusif.

Sebelum adzan subuh, notif gawai riuh bersahutan dari hpku dan suami.

Innalillahi wa inna ilaihi rooji'uuun. Telah meninggal dunia, Dwi Rasika Sari, pukul 02.10 tadi dini hari di RSCM.

Tungkai lemas seketika, membaca pesan di grup RT, netra kembali membuncah, dada serasa dipukul godam puluhan kali. Sesalku tak kan terobati. Jawaban yang telah kupersiapkan takkan pernah tersampaikan.

Semoga khusnul khotimah sahabat.

Allahummaghfirlaha warhamha wa'aafiha wa'fuanha.

Nia Kurniawati
Bekasi, 26 Januari 2019

*barusanggupmenuliskisahini.
#janganmenundapekerjaan

“Jika kamu memasuki waktu sore maka janganlah tunggu waktu pagi, dan jika kamu memasuki waktu pagi janganlah kamu tunggu waktu sore, dan gunakanlah kesehatanmu untuk masa sakitmu, dan kehidupannya untuk kematianmu.” (HR. Bukhari)

Jumat, 18 Januari 2019

Aroma Mistis


Sejak semalam aroma aneh menguar dari setiap sudut pekarangan rumah. Suasananya membuat bulu kuduk marathon bergidik, aromanya memaksa perut  meluahkan isi, dan  bintang menari di seputar kepala.

"Mistis apalagi, ini? Kok aromanya aneh," ujarku dalam hati.

Kejadian ini, mengingatkan aku pada kisah setahun yang lalu. Tahun lalu, kampungku pernah digegerkan dengan aroma kopi luwak. Aromanya bisa diendus seluruh warga. Padahal tidak mungkin semua warga menyeduh kopi luwak bersamaan, 'kan? Aneh! Kejadian tidak masuk akal ini akhirnya melahirkan  rumor, LEAK SEDANG MENCARI TUMBAL.

Kabar burung itu menjadi trending topik. Dibicarakan oleh segenap kalangan --tua-muda, dan setiap waktu --pagi sampai malam. Di setiap sudut, warung sayuran, mushola, sekolah, pun kedai kopi, dan warung bakso.  Membuat bocah menjadi betah di rumah, karena takut menjadi tumbal Leak.

Lama, kabar itu baru terbantahkan oleh sebuah berita di televisi. Pabrik disekitar kampung yang biasa membuang limbah ke sungai, mencampurkan limbahnya dengan esense kopi, untuk menggantikan bau limbah yang biasanya pekat, berbau busuk, dan membuat migrain menari.

"Oohhh ...."

Banyak mulut ber-oh panjang setelahnya. Sekarang, aroma kopi luwak hanya terendus waktu pagi dan malam saja, juga hanya di sekitar rumah. Itu pertanda, Pak Nasir sedang ngopi.

Kampung tempat tinggalku, Jejalen Jaya, memang terkenal akan  mistisnya. Konon, tempat jin buang anak, katanya. Bisa jadi manusia yang buang anak, meniru perilaku jin. Sampai-sampai, sinyal di tempatku juga bernuansa mistis. Karena sering hilang dan datang sendiri.

Selain itu, masih banyaknya bangunanan bekas peninggalan Belanda, meski ada beberapa yang tinggal dindingnya saja, banyak kejadian mistis yang dialami warga sekitar. Dari mencium aroma wangi, busuk, bau gosong, bau kentang rebus, dan melihat penampakkan Noni Belanda, sampai mendengar suara-suara derap langkah seperti orang yang sedang latihan baris berbaris, menambah kuat kesan menyeramkan.

Maka, dengan sejarah mistis seperti itu. Membuatku beropini, bahwa aroma ini pasti ulah makhluk tak kasat mata.

"Maaasss ...," kulaungkan panggilan kesayangan untuk pria yang telah menghalalkan diriku 14 tahun lalu.

"Ada apa sih, pagi-pagi udah bikin geger?"

"Mas cium aroma ini?" Hidungku bergerak layaknya kucing yang sedang mengendus ikan, kembang-kempis.

"Iya. Kenapa?"

"Kok, bisa sih, kampung kita jadi bau gini? Tadi aku nyapu di luar kebauan, kukira cuma depan rumah doang. Aku ke warung Bu Devi di ujung gang, baunya masih sama. Sepanjang jalan aromanya sama. Pusing aku."

Keluh yang terkisah sepanjang rel kereta api, tak membuat suamiku panik. Ia tetap menggergaji hebel, tanpa menoleh sedikitpun pada istrinya yang talk aktif.

"Iyalah, bau pete. Kan kemarin si Bowo baru datang dari Kebumen, bawa 50 bonggol pete. Tetangga dari ujung sampai ujung lagi kebagian semua. Cuma aku aja yang ga mau, takut kamu nanti ngomel-ngomel. Eh, ternyata tetap ngomel," jawabnya. Ia lalu meninggalkan kegiatannya, dan duduk di tepian tumpukkan hebel lainnya sambil menyesap kopi. "Tahu gitu, aku tetep terima aja kemarin."

"What!"

Gubrak!

€£¥₩☆%♡¤@$&¿¡¡《%₩₩€☆[}_£€+×`₩%€¤%]+}<♡~)&$$!@*-&$^!

Nia Kurniawati

Selasa, 15 Januari 2019

Apakah Melahirkan Normal Lebih Mulia daripada Operasi Caesar


Ilustrasi Operasi Caesar

Salah satu hal yang dianggap kesempurnaan bagi seorang wanita adalah bisa hamil, melahirkan, dan menyusui anak.

Banyak yang sedih, mengutuk diri, merasa belum sempurna ketika belum juga merasakan denyut jantung lain dalam rahimnya. Meski usia pernikahan sudah lewat beberapa bulan, bahkan bilangan tahun.

Pertanyaan sederhana, perihal jumlah anak, penjadi sebab sembilu menghunjam qalbu. Atau elusan nan lembut  di perut, disertai ucapan satire, "masih rata aja nih, perutnya", seolah godam yang meremukkan harapan hingga berkeping-keping.

Dalam kondisi terpuruk, iman turun, ia bahkan terkadang mempertanyakan soal keadilan dan kebaikan Allah. Membandingkan diri dengan pelaku zina.
Mengapa dengan cara halal, keturunan sulit dan mahal? Tapi dengan zina, seolah dijadikan mudah proses kehadiran janin dalam rahim. Hingga dengan mudahnya pula, pelaku zina banyak yang dipermudah untuk membuang, bahkan membunuh darah dagingnya sendiri.

Na'udzubillahi min dzalik, astaghfirulllahal 'aadzhiiim.

Padahal, kesempurnaan itu hanya milik Allah. Segala sesuatu terjadi dan tidak, adalah atas izin-Nya.

Masalah cara melahirkan pun banyak diperdebatkan. Ada beberapa segelintir wanita, yang merasa hebat dan sempurna karena bisa melahirkan secara normal, hingga dengan bangganya ia merendahkan sesama wanita lainnya yang melahirkan melalui operasi caesar.

Mereka yang berpikiran demikian, beranggapan dengan melakukan operasi caesar berarti mau enaknya doang, ga mau ribet, dan ga mau nanggung sakit.

Hallooo ...

Apa iya, caesar itu ga sakit?
Apa benar, ga ribet?

Padahal kalau mereka tahu, sakitnya sama. Bahkan dimulai dari menjalani puasa sebelum tindakan, dibius dengan suntik tulang belakang di mana kita ga boleh bergerak sama sekali dan dipaksa menunduk dengan perut yang besar, 8 jam menahan sakit sayatan pasca operasi, tanpa pereda nyeri, vagina tetap diobok-obok dokter untuk membersihkan cairan. Tak henti sampai di situ, caesar memberi dampak lain sesudahnya. Yaitu masa nifas yang lebih lama 2 - 3 bulan, mudah lelah, tidak bebas mengangkat berat.

Jadi, Moms, please. Bagi Anda yang diberi nikmat melahirkan dengan persalinan normal, stop bullying kepada kami. Bukan maunya sendiri di caesar, tapi karena banyak resiko dan kesulitan, hingga terpaksa menurut pada saran dokter.

Sakit, bertaruh nyawa, kesulitan, dan ketidaknyamanan yang kita derita sama.

Mari bersama saling menguatkan.

Salam
Nia Kurniawati