Tampilkan postingan dengan label curcol. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curcol. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Agustus 2026

Surat untuk Diri


Assalamu'alaikum, Diriku…

Hari ini aku ingin duduk sebentar bersamamu.

Bukan untuk menghakimimu.
Bukan untuk bertanya mengapa kau berubah.
Bukan pula untuk membandingkanmu dengan dirimu yang sepuluh tahun lalu.

Aku hanya ingin memelukmu.

Aku tahu, akhir-akhir ini kau merasa bukan lagi dirimu yang dulu. Kau menjadi lebih mudah tersinggung, lebih mudah marah, meskipun kemarahan itu sering hanya kau simpan diam-diam di dalam hati. Hal-hal kecil terkadang terasa begitu mengusik, sementara kau sendiri mungkin tidak mengerti mengapa semuanya terasa lebih berat dari sebelumnya.

Tidak apa-apa.

Mungkin bukan kau yang berubah menjadi buruk. Mungkin kau hanya sudah terlalu lama kuat.

Terlalu lama mengejar apa yang menurutmu harus selesai dengan baik. Terlalu lama ingin memahami semuanya, memperbaiki semuanya, dan memastikan tidak ada yang mengecewakan. Kau adalah seseorang yang tidak mudah menyerah. Ketika ada sesuatu yang belum kau pahami, kau akan mengejarnya sampai bisa. Ketika ada pekerjaan yang belum sesuai dengan hatimu, kau ingin terus memperbaikinya.

Namun, aku juga tahu kau sering lelah dengan dirimu sendiri.

Rencana-rencana baru datang silih berganti. Ada banyak hal yang ingin kau lakukan, banyak mimpi kecil yang tiba-tiba muncul, hingga terkadang rencana lama tertunda. Lalu kau berlari mengejar waktu ketika deadline sudah di depan mata.

Aku ingin mengatakan satu hal:

Kau tidak harus selalu sempurna untuk menjadi berharga.

Selama hampir tiga puluh tahun, kau menjadi seorang guru TK. Mungkin karena terlalu lama menjalaninya, kau sering merasa pekerjaan itu biasa saja. Seolah-olah tidak ada yang istimewa dari mengajar anak-anak kecil setiap hari.

Padahal, mungkin kau tidak pernah benar-benar menyadari bahwa tidak semua orang mampu melakukan apa yang selama ini kau lakukan.

Tidak semua orang mampu menemani anak kecil belajar mengenal dunia. Tidak semua orang sabar menghadapi tangis, pertanyaan, tingkah lucu, dan proses panjang tumbuh kembang mereka.

Apa yang kau lakukan mungkin terlihat sederhana bagimu karena kau sudah terbiasa.

Tetapi, terbiasa bukan berarti tidak berharga.

Dan tentang rumah yang hingga hari ini belum dipenuhi suara anak…

Aku tahu, dahulu ada masa ketika hal itu menjadi luka. Ada rasa malu. Ada rasa kehilangan atas sesuatu yang bahkan belum pernah benar-benar kau miliki. Ada pertanyaan yang mungkin berulang kali datang, baik dari orang lain maupun dari dalam dirimu sendiri.

Namun lihatlah dirimu sekarang.

Bukankah Allah perlahan mengajarkanmu cara lain untuk bersyukur?

Ada kebebasan yang dulu mungkin tidak kau sadari sebagai nikmat. Bisa pergi tanpa harus terburu-buru pulang. Bisa beristirahat tanpa khawatir ada anak yang membutuhkanmu. Bisa menentukan banyak hal hanya berdua.

Dulu kau melihatnya sebagai kekurangan.

Sekarang, perlahan kau belajar melihatnya sebagai bagian dari rezeki.

Alhamdulillah, kau sudah sampai pada fase menikmati.

Tentang pernikahanmu…

Aku tahu perjalanan itu tidak selalu mudah.

Kalian datang dari banyak perbedaan—suku, budaya, cara berpikir, watak, dan kebiasaan. Dua manusia yang mungkin pada awalnya mengira cinta dan niat baik akan cukup untuk membuat semuanya berjalan mulus.

Ternyata tidak.

Ada percikan. Ada pertengkaran. Ada luka. Bahkan pernah ada masa ketika kapal yang kalian tumpangi hampir karam.

Kau pernah berdiri di persimpangan, antara bertahan atau melepaskan.

Namun, hari ini kau masih di sini.

Bukan berarti semua luka telah sembuh. Bukan berarti tidak ada lagi rasa sakit. Ada luka-luka lama yang kadang masih terbuka ketika tersentuh oleh keadaan yang mirip.

Tidak apa-apa.

Penyembuhan memang tidak selalu berarti lupa.

Kadang sembuh berarti kita masih ingat, tetapi tidak lagi membiarkan kenangan itu menghancurkan kita.

Dan mungkin benar, ta'aruf kalian belum selesai.

Setelah sekian tahun bersama, kalian masih sedang belajar mengenal satu sama lain. Masih belajar memahami bahasa hati yang berbeda. Masih belajar bahwa mencintai seseorang bukan berarti akan selalu mudah hidup bersamanya.

Terima kasih karena dahulu kau memilih bertahan.

Terima kasih karena ketika kapal itu hampir karam, kau masih bersedia berusaha menyelamatkan dirimu.

Dan terima kasih kepada Allah yang, entah melalui cara apa, kembali menguatkan hatimu untuk melangkah.

Sekarang, di usia 48 tahun ini, mungkin kau tidak lagi memiliki keinginan untuk mengejar terlalu banyak hal.

Mungkin kau hanya ingin hidup sedikit lebih tenang.

Sedikit lebih dekat kepada Allah.

Sedikit lebih mampu memaafkan.

Sedikit lebih mampu menerima bahwa hidup tidak harus sesuai dengan semua rencana yang pernah kau buat.

Dan jika Allah masih memberimu kesempatan untuk bertemu Ramadhan nanti, aku tahu ada satu kerinduan yang kau simpan:

Keinginan untuk benar-benar berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia.

Untuk duduk lebih lama bersama Allah.

Untuk memperbanyak doa.

Untuk membaca firman-Nya tanpa terburu-buru.

Untuk ber-i'tikaf, meskipun hanya di sudut rumah yang sederhana.

Semoga Allah mengabulkan kerinduan itu.

Semoga jika Ramadhan kembali datang, kau tidak hanya bertemu dengannya, tetapi benar-benar menemukan dirimu kembali di dalamnya.

Dan jika suatu hari nanti kau kembali merasa marah, tersinggung, kecewa, atau lelah…

Jangan langsung membenci dirimu.

Duduklah sebentar.

Tarik napasmu.

Dan katakan:

“Aku sedang belajar. Aku belum selesai. Tapi aku tidak berhenti.”

Tidak apa-apa berjalan pelan.

Yang penting, teruslah belajar.
Teruslah bersyukur.
Teruslah bertumbuh.
Dan teruslah mendekat kepada-Nya.

Terima kasih sudah bertahan sampai usia ini.

Terima kasih karena meski tidak selalu kuat, kau tetap melanjutkan hidup.

Terima kasih karena meski hatimu pernah terluka, kau masih berani berharap.

Dan yang paling penting…

Peluk erat dirimu.

Karena setelah semua yang telah kau lalui,
kau pantas mendapatkan pelukan itu.

Semoga hari ini kau menjadi pribadi yang lebih baik dari kemarin.

Dan semoga esok, jika Allah masih memberi kesempatan, kau kembali menjadi lebih baik dari hari ini.

Ya Allah, jangan biarkan aku lelah dalam perjalanan pulang kepada-Mu.

Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Dengan penuh kasih,
Untuk diriku yang sedang belajar menerima, memaafkan, dan mencintai dirinya sendiri.

Bekasi, 25 Agustus 2026