Kamis, 25 Desember 2025

Pillow Talk


 "Ndhuk, maafin Mas, yo, saiki wis ra iso kerjo!"

Sejak kejadian 3 bulan lalu, malam-malam pasangan milineal itu sekarang sering diawali dengan kalimat pesimis ini. 

Dengan lembut, tangan kekar pria bersuku jawa itu membelai anak rambut di sekitar wajah istrinya.

Wajah yang tak pernah tersentuh make-up, bahkan bedak sekalipun. Kerutan halus yang mulai nampak di sekitar mata dan dahi, juga plek hitam yang sudah hampir menutupi pipi chubbynya, tidak membuat cinta dan sayangnya berkurang.

Lalu, pria bernama Nazar itupun dengan lembut mendaratkan kecupan di dahi pemilik manik hitam yang telah ia halalkan 27 tahun lalu.

"Bukan nggak bisa, Mas. Belum waktunya, kan masih sakit," perempuan yang separuh hidupnya sudah ia baktikan untuk pria yang sempat ia tolak, kini gantian mengelus lembut wajah pria yang tak kalah chubby dengan dirinya. "kalo Mas udah sehat juga in syaa Allah akan bisa kerja lagi." Dengan lembut, ia mengusap mata lelakinya yang basah. Dalam keadaan seperti ini, prianya menjadi melankolis.

Tiga bulan lalu, 19 September 2025, Nazar mengalami kecelakaan kerja. Ia terjatuh dari tangga setinggi 4 meter saat akan memperbaiki atap tempatnya bekerja. Kejadian itu membuat ia kehilangam gigi taring bawah kiri dan dua gigi di sampingnya,  6 gigi bagian atas kiri pun goyang, bibir pecah dan bolong dengan 9 jahitan luar dan dalam, jempol kiri robek mendapat 6 jahitan, betis bolong dengan 5 jahitan saja, lutut kiri bergeser, dan bonus 2 tulang selangka lepas dari engselnya. Peristiwa ini membuatnya harus istirahat selama 6 bulan lagi ke depan. 

Nazar yang kini berusia 55 tahun, adalah seorang tukang bangunan. Musibah ini membuatnya tidak bisa bekerja dan menghasilkan uang.

"Mas, inget nggak? Awal kita nikah juga Mas kan belum bekerja, dan keuangan kita masih sangat kekurangan, tapi Allhamdulillah kita masih bisa makan dan hidup baik sampai saat ini, kan?"

Bibir Nazar terkatup. Benaknya berisik mengutuk diri, sementara matanya tenggelam ke dalam manik gemintang sang istri, ruang yang menariknya kembali ke dua dekade silam. Ia teringat masa-masa menjadi sopir angkot tembakan, saat rasa bersalah menghimpit dadanya karena membiarkan perempuan itu mengajar di dua sekolah sekaligus demi dapur mereka. Dengan jemari gemetar, ia kembali membelai rambut istrinya yang berantakan tertiup kipas angin, seolah ingin menghapus lelah yang mungkin masih tersisa di sana. "Maaf, ya, dulu kamu harus secapek itu," bisik Nazar nyaris tak terdengar.

"Mas, kalo Allah masih ngijinin kita hidup, Allah pasti jamin rezeki kita. Meski kita nggak tau arahnya dari mana." Cinta, panggilan wanita berkulit sawo matang yang kini berusia 50 tahun, balas membelai rambut ikal milik suaminya.

"Besok kamu mau belanja apa? Kan uang kita tinggal 30.000!" Nazar memperbaiki posisi kepalanya agar semakin dekat dengan istrinya dan menghidu aroma shampo dari rambut istrinya.

"Besok nggak usah belanja, kan tadi Mba Arumi ngasih tahu sama daun ubi, terus Mba Shinta bawain tahu juga sama kerupuk. Lauk dan sayurnya udah komplit, kan?" Gantian, kini giliran netra Cinta yang berdansa di manik coklat pria yang ia sayang dengan separuh jiwanya.

Siang tadi, rumah mereka ramai dikunjungi kakak-kakak Cinta, dan mereka masing-masing.  membawa buah tangan berupa bahan masakan. Padahal paginya, Cinta dan Nazar masih bercanda bahwa besok sepertinya mereka hanya akan makan nasi dengan lauk garam saja, karena qodarulloh; telur, cabe, bawang, mereka telah habis dimasak tadi pagi untuk lauk hari ini.

"Kebukti, kan, Mas, kalo Allah mau ngasih rezeki, kita nggak mesti nyari sana- sini, tinggal nunggu dengan tawakal aja. Yang penting setiap harinya kita udah berusaha, bukan males-malesan." 

Cinta memeluk raga yang masih terlihat kekar meski usianya menjelang senja.

"Oh, iya, Mas. Gimana, kalo pohon tin yang Mas tanam selama ini kita jual?" Cinta melepaskan pelukan, binar matanya menyapu seluruh wajah tegas Nazar.

"Jangan! Itu kan biasanya buat bagi-bagi temanku, atau temenmu, atau sodara kita!" Nazar menghempas tangan Cinta yang masih menggenggam lengannya.

"Iya, sekarang kan belum ada yang minta, jadi nggak papa lah dijual, buat nambah-nambahin uang belanja besok. Kan, gajianku masih lama!" Antusias, Cinta menajamkan pandangan, mencari jawaban di mata suaminya.

Cinta adalah seorang guru, pagi hari ia mengajar TK di sebuah lembaga pendidikan islam dan sore hari mengajar bimbel di rumahnya. Dengan honor jauh di bawah UMR, Cinta berusaha maksimal menutupi semua kebutuhan rumah tangga. 

"Mmm... Boleh!"meski ragu, Nazar akhirnya menyetujui ide istrinya, menjawil gemas hidung mungil yang nampak melebar saat pemiliknya sedang tersenyum.

Cinta langsung mengambil hp milik suaminya, membuat SW jual pohon tin. Dan tak lupa, membuat SW di hp miliknya juga.

"Selesai!" Mata Cinta menyipit dan bibirnya membentuk lengkungan pelangi terbalik. Cepat, ia kembali memeluk suaminya.

"Aku jadi inget kejadian bulan lalu." Nazar gegas menjauhkan jangkauan istrinya, agar ia dapat memandang lebih leluasa wajah teduh milik perempuan berhidung mungil di hadapannya. "Bulan lalu, kita dapet transferan dari Fitri, juga dapet bingkisan dari teman SDku yang nggak pernah terlintas di benak akan berkunjung karena udah lama nggak saling kontak."

"Itulah Mas, namanya qodarulloh. Tanpa meminta, Allah tau kebutuhan kita."

Kecupan di mata, mengakhiri pembicaraan malam itu. Mereka terlelap dengan keikhlasan atas segala takdir yang telah Allah berikan, dan yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja selama mereka terus berusaha meraih ridho Allah. 

Everything gonna be okay with Allah.

❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤

Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. 

Ath Tholaq: 2-3