It's Not a Normal Day
Siang itu ternyata bukan hari yang normal, meski awalnya berjalan seperti biasa. Ini dimulai saat seorang bocah lelaki dengan bobot sekitar 21kg dan tinggi 118cm selesai mendapat jam tambahan baca.
Sambil memakai tasnya, bersiap pulang, dia berkata, "Ibu, kalo nanti aku udah jadi sopir truk, anaknya mau sekolah di sini."
Ngefreeze sekian detik saat mendengar pernyataan itu keluar dari lisan bocah yang Februari lalu baru genap berusia 7 tahun.
Secepat kilat, di benak langsung muncul beragam pertanyaan analisa.
Anaknya siapa?
Kenapa harus sekolah di sini?
Apa arti pernyataannya?
Apa aku masih hidup saat dia punya anak nanti? Saat ini saja usiaku sudah hampir separuh abad.
Tanpa mengubah posisi duduk, karena sedang berhadapan dengan anakku yang lain yang sedang bersiap untuk belajar baca juga, kupastikan padanya, "Maksudnya, anak kamu?"
"Iya." Dia menjawan disertai anggukan, sambil meraih botol minumnya.
Entah sengatan itu datang dari mana, tapi dadaku sesak sesaat dan netraku panas.
Jawaban singkatnya membuat kaki ini segera berdiri dan melangkah menghampiri, "Ya, Allah ... semoga Bu Nianya masih hidup dan sehat, ya?" Tangan kananku mengusap rambut hitamnya, tangan kiriku memegang pundak.
Si pemilik rambut semi cepak itu hanya tersenyum, bisa jadi tidak memahami ucapanku. Karena baginya mungkin, aku akan tetap ada sampai dia kelak punya anak.
Ah, Nak. Usia ibu saat ini hampir saja, 2 tahun lagi, memasuki masa golden age yang sesungguhnya. Entah, besok ibu masih ada atau enggak. Jangan kecewa ya, Nak, jika nanti anakmu bukan ibu yang mengajar, karena dalam doa ibu senantiasa terselip minta husnul khotimah dan dipanggil pulang sebelum usia 60, sebelum renta dan menyulitkan orang lain.
"Kenapa disekolahin di sini, nggak ke TK yang lain aja?" lanjutku memastikan, sambil berjalan bersisian menuju pintu kelas.
Di tengah pintu, bocah itu mengambil tanganku lalu menciumnya seraya menjawab, "Anaknya nggak mau nanti!" kemudian berlalu tanpa mau diantar ke gerbang sekolah, sambil mengumbar sengiran yang melelehkan.
Hari itu, ternyata bukan hari biasa. Hari itu membuat batinku gerimis dipenuhi rasa entah. Senang dan takut memeluk jiwa bersamaan.
Yaa Robb, bocah semacam itulah yang senantiasa menghidupkan asa untuk memiliki buah cinta dalam rahim, meski usia telah senja. Bukankah Siti Sarah pun memiliki Ishaq saat keriput sudah menguasai raga?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar